Ribuan Kilometer Kansas – Boston
Catatan Harian, Humaniora

Ribuan Kilometer Kansas – Boston

Oleh: Dahlan Iskan

Berita dari Boston itu masuk ke HP saya. Tentang kepastian jadwal rapat di MIT. Masih ada waktu empat hari. Beberapa agenda di Hays bisa saya tunda. Termasuk lanjutan diskusi kredit untuk petani.

Jadwal ke Columbia saya majukan: lihat reaktor riset Universitas Missouri. Saya putuskan juga: ke Boston jalan darat. Toh tim saya dari Indonesia baru akan tiba sehari sebelum jadwal rapat.

Saya belum hitung: berapa ribu kilometer jalan yang harus saya tempuh. Yang jelas harus melintasi tujuh negara bagian. Sambil mampir-mampir. Nyetir bergantian. John dan saya. Hanya berdua.

Sayangnya saya sudah pernah menjelajah wilayah itu: Kansas, Missouri, Illinoi, Indiana, Ohio terus naik ke Buffalo, Niagara, Liverpool, mampir ke Universitas Syracuse, trus Amsterdam, Manchester, Lebanon, masuk negara bagian Vermon, ke timur tembus Boston. Empat hari tiga malam.

Tidak ada yang baru. Tapi saya bisa menambah ilmu: cara baru nyetir mobil. Pada umur 66 tahun. Belajar lagi: bagaimana menggunakan gas otomatis.

Di setiap mobil sebenarnya memiliki fasilitas itu. Tapi saya belum pernah memakainya. Atau mencobanya. Tidak mungkin dipakai di Indonesia. Yang jalannya seperti itu. Yang padatnya seperti itu. Tapi, di Amerika, kalau nyetir tidak pakai ‘itu’ justru membahayakan. Kaki bisa kram. Terlalu lama nempel di pedal gas. Tanpa gerakan menambah atau mengurangi gas.

Misalnya dari Hays di Kansas ke Columbia di Missouri itu. Delapan jam. Kecepatan hampir konstan: selalu 75 mil/jam. Atau sekitar 130 km/jam. Tanpa harus pindah jalur. Tanpa ada lampu merah. Tanpa harus injak gas. Tanpa harus injak rem. Nyaris begitu terus.

Itulah kondisi jalan bebas hambatan yang saya lalui. Nama jalannya I-70. Sepanjang ribuan kilometer namanya sama: Jalan I-70. I singkatan dari interstate.

Sepanjang jalan itu kadang dua lajur. Kadang tiga lajur. Tergantung wilayahnya padat atau tidak. Orang Amerika sangat terbiasa berkendara ribuan kilometer. Selalu menggunakan tuas kecil di bawah setir itu.

Begitu tuas diklik kecepatan mobil akan terus sama. Tidak akan lebih cepat atau lebih lambat. Kalau jalan lagi naik otomatis gasnya nambah sendiri. Kalau jalan lagi menurun gasnya berkurang sendiri.

Dengan demikian kedua kaki bisa sepenuhnya istirahat. Tidak harus selalu menempel di pedal gas. Kalau hanya ingin tambah gas cukup di tuas itu juga. Menguranginya pun begitu.

Awalnya saya takut. Lalu coba-coba. Ternyata memang enak begitu. Nyetir mobil enam jam pun tidak capek. Lalu-lintas lengang. Tidak pernah macet. Aspal jalannya mulus. Tidak ada gronjalan. Gak perlu bayar tol. Gratis.

Sepanjang jalan kami ngobrol apa saja. Tidak ada yang tidur. John sudah menceritakan nyaris semua isi Injil. Saya juga sudah menceritakan isi Quran. Isinya begitu banyak persamaannya.

Kami juga melakukan inventarisasi asal usul kesalahpahaman. Antara Islam dan Kristen.

John juga bercerita bagaimana orang Kristen mendoktrin kekristenan pada anak mereka. Saya menceritakan bagaimana kami mendoktrin keislaman di anak kami.

John sering menertawakan kekonyolan-kekonyolan dalam masyarakat Kristen. Saya pun juga menceritakannya di sisi masyarakat Islam.

Kadang kami bicara politik. Di dua negara. Kadang bicara mengenai mengapa ada ras. Dan asal usulnya.

John dan saya pernah sama-sama test darah. Untuk melihat DNA. Yang beda: darah John Jerman-Inggris. Darah saya: ras Asia Tenggara.

Tapi ada persamaannya. Meski sedikit. Dalam darah kami sama-sama mengandung aliran darah Neanderthal. kadarnya sama-sama 2 persen.

Neanderthal adalah manusia purba. Yang hidup di gua-gua di Eropa.

Di dalam darah kami juga sama-sama mengandung darah suku Indian. John lebih tinggi: 5 persen. Darah Indian saya 2 persen.

John hanya punya 4 campuran (Jerman, Inggris, Indian dan Neanderthal). Darah saya lima campuran: Asia Tenggara (mungkin Jawa), Tionghoa, Arab, Indian dan Neanderthal.

Di Buffalo kami mampir sebentar ke air terjun Niagara. Begitu banyak manusia. Dari begitu banyak ras.

Melihat Niagara ternyata gratis. Saya bertanya ke bagian informasi: mengapa tidak pakai karcis. Dia (she) menjawab: ini kan taman; masak ke taman harus bayar.

Oh iya. Ke pantai Kuta di Bali juga gratis. Kalau toh ada air terjun yang tidak gratis itu kan hanya retribusi.

Baguskah Niagara? Hebatkah? Seperti di gambar itu? Iya. Hebat. Indah. Seru. Tapi ya sudah. Memang hebat, mau diapakan.

Tidak sampai 15 menit kami meneruskan perjalanan. Tidak perlu menyesal. Toh tidak bayar.

Sampai Boston saya hitung: kami telah setir mobil 2.570 Kilometer. Dalam empat hari. Dan masih akan tambah.

Dari Boston masih akan ke Connecticut, Virginia, North Carolina, Kentucky, Illinoi dan kembali ke Missouri.

Rasanya, kapan-kapan saya harus ke Amerika lagi. Dari 52 negara bagian masih satu yang belum saya kunjungi: Maine. Di pojok timur laut.

Hampir saja saya mampir ke Maine. Saat menuju ke Boston. Tinggal satu jam dari Manchester, NH. Tapi tidak ada keperluan apa-apa.

Dan lagi tim saya yang dari Indonesia sudah menunggu di Boston. Lain kali, Maine. Kapan-kapan.(dis)

26 May 2018

About Author

dahlan iskan


26 COMMENTS ON THIS POST To “Ribuan Kilometer Kansas – Boston”

  1. air terjunya πŸ˜±πŸ˜±πŸ‘πŸ‘πŸ‘πŸ‘ graris pula.hehe..smoga sllu sehat n skses sllu abah..

  2. masyaallah… luar biasa panjang perjalanannya… saya dari lombok – jogja dulu aja udah tobat.. semoga tetap sehat abah..

  3. Namanya cruise control kalau ndak salah, Bah. Koreksi dikit, Neanderthal bukan Nienderstal. Untuk kesamaan ada darah Indian dengan John Mohn, membuktikan bahwa orang Indian, atau native Americans, memang aslinya berasal dari Asia. Menyeberang Selat Bering yang bisa dilewati saat masa Ice Age.

  4. Rrruaarr biasa! Speechless. Btw pak Maine itu bekas kota pelabuhan terkenal zaman dahulu kala, saya pernah dengar diceritain sohib lama yang lama menetap di Connecticut. Dijadikan merk baju keren Maine England..baju favorit sohib lama saya itu dulu biasa beli di Debenhams, karena cuma dsana dijual.
    Semoga pak Dahlan dan sohib sehat selalu dalam perjalan sampai tujuan dan bisa mengulanginya lagi, kapan kapan. Kami tunggu cerita perjalanan ke MAINE. Kapan kapan.

  5. bagaimana bisa jalan begitu panjang, bagus, gratis pula, tak macet ,padahal surabaya jombang cuma berpa kilo gak sampai 80km bayar 80rb lebih

  6. Cerita yang selalu ditunggu2, Kapan2 main Maine pak, membayangkan sy bagian dr cerita itu, wah pasti mengasyikkan, yang saat ini sy baru bisa paling jauh mainnya ke Kalimantan, itu saja belum komplit bru bisa menjelajah wilayah selatan timur dan tengah

  7. Jalanan yang sangat dibutuhkan oleh negara kita, sesuai dengan namanya yaitu “Jalanan bebas hambatan”, benar benar tidak ada hambatan sama sekali bahkan hambatan untuk mengantri membayar sekalipun

  8. kenapa yg hari ini saya liat disway.id di HP kok ada iklan video dengan huruf cina…trus habis itu blank….beberapa kali dicobak sama spt itu,,,, akhirnya bisa buka disway.id pake Laptop, iklan videonya gak ada. apa ada yg mengalami hal serupa ??

  9. Btw… TOL nya persis sama tol kita yg baru… SEPIiiiiiiiiii… kalo disana sepi krn memang jarang mobil…kalo disini sepi krn muahallll,,,,xixixixixix

  10. Mantab banget Abah…ribuan kilo ngebonek di US….btw masih ngikuti skor2 persebaya apa enggak Bah selama belanja ide di sana

  11. Saya kira Abah ke Kiev nonton The Reds.. Hehe..
    Penasaran sama timnya Abah yg ikut acara di MIT.. Sehat terus, Abah!

  12. nah untuk seorang dahlan iskan saja memiliki beraneka ragam genetik saya kira begitu juga dgn saudara2 kita yang lain di indonesia nah pentingnya pemerintah membuka informasi tentang genetik orang indonesia ke permukaan sehingga kita tidak mudah di hasut dan di pecah pecah hidup indonesia hiduplah ibu pertiwi majulah terus bangsa ini

  13. Quote:
    Di dalam darah kami juga sama-sama mengandung darah suku Indian. John lebih tinggi: 5 persen. Darah Indian saya 2 persen.

    Saya sangat tertarik dengan pernyataan di atas. Semalam saya baru menonton di NatGeo. Acara tentang asal-usul manusia. Kita semua berasal dari Afrika.

    Indian yang dimaksud di atas; Apakah India (Asia) atau Indian (America)?

  14. Saya beberapa kali pakai cruise control di toll Surabaya-gempol sebelum ada lumpur Lapindo. Benz W-202 saya dilengkapi fasilitas itu. Memang nyaman. Senyaman bertol di Waru-Kertosono yang masih sepi sekarang ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Email:likedisway@gmail.com

Follow me on Twitter
Subscribe to Blog via Email

Enter your email address to subscribe to this blog and receive notifications of new posts by email.

Join 1,339 other subscribers

EnglishIndonesian
%d bloggers like this: