Kader Gerindra Bela Luhut atas Tudingan Kader PDIP Masinton Pasaribu

Kader Gerindra Bela Luhut atas Tudingan Kader PDIP Masinton Pasaribu

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. -Ilustras: Syaiful Amri/Disway.id-disway.id

JAKARTA, DISWAY.ID – Politisi Partai Gerindra Arief Poyuono secara terang-terangan membela Menko Maritim dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan terkait dengan pernyataan kader PDI Perjuangan Masinton Pasaribu yang menyebut Luhut 'brutus istana'.

”Brutus itu artinya penghianat dalam sebuah lingkaran kelompok atau kekuasaan. Anda bisa melihat di mana sisi penghianatannya, justru Luhut itu yang membela, mendukung kinerja Presiden Jokowi, bahka dia adalah sosok yang saya kira kerap mengingatkan Presiden atas janji-janjinya,” beber Arieg Poyuono kepada Disway.id Selasa 10 Mei 2020.

Seharusnya, sambung Arief, Mashinton bisa membeberkan lebih dalam penilaian terkait kata 'brutus' yang dilontarkan Anggota DPR RI tersebut.

BACA JUGA: Indonesia Menuju Kehidupan Normal, Luhut: Hanya Kabupaten Pamekasan Tingkat 3 

Iya dong, sampaikan bentuk brutus yang dimaksud seperti apa. Sisi penghianatannya dimana, kalau memang benar-benar brutal itu dimaknai sebagai penghianat ya,” timpal aktivis buruh itu.

Ditanya tentang big data yang dilontarkan Luhut yang belakang ini sempat ramai diperdebatkan, menurut Arief, Luhut tentu memiliki dasar terhadap big data yang disampaikannya itu. 

”Soal Pak Luhut menyampaikan keinginan publik, atau adanya dorongan Jokowi untuk melanjutkan kepemimpinannya dalam 3 periode, ya sah-sah saja. Apa ya salah, bahkan saya lebih dulu menyampaikan itu,” beber Arief.

BACA JUGA: Ucapkan Permohonan Maaf, Menko Luhut Kasih Pesan Jelang Idul Fitri 1443 H: Semoga Tidak Ada Varian Ganas Lagi 

Desakan beberapa pihak yang meminta Luhut membeberkan big data yang dimaksud itu pun kewenangan Luhut. ”Lho dia yang punya datanya kok, hak-hak dia. Luhut bukan lembaga negara, Luhut menyampaikan itu sebagai warga negara. Persoalan dia pejabat publik, itu adalah jabatan,” timpalnya. 

Pernyataan Luhut hampir serupa dengan hasil data dari lembaga survei yang kerap dilihat publik. 

”Pertanyaan saya, apakah lembaga-lembaga suvei itu membedah atau menyebut seluruh responden yang ditanya. Kan tidak tho, itu sifatnya privasi, kerahasiaan. Lembaga survei bukan lembaga negara lho yang wajib membeberkah hal-hal yang bersifat transparansi,” tandas Arief Poyuono.

BACA JUGA:Dari Cerita Luhut: Jokowi Bertemu Elon Musk di Markas SpaceX

Audiens atau responden sambung Arief adalah bagian dari objek atau subjek dalam mengukur kesuatu.

”Yang ditanya sama lembaga survei itu mau disebutkan nama, nomor telepon sampai alamatnya, kan tidak. Dan survei pun rata-rata bersifat random sampling, random sesuat demografi dari target survei yang dituju,” timpalnya.

Sumber: