10 Ekor Sapi di Lubuklinggau Suspek Penyakit Mulut dan Kuku

10 Ekor Sapi di Lubuklinggau Suspek Penyakit Mulut dan Kuku

1200 Ekor sapi di Kabupaten Aceh Tamiang, Aceh dikonfirmasi positif terinfeksi penyakit mulut dan kuku (PKM).-Faizal Pamungkas-

SUMSEL, DISWAY.ID-Sepuluh ekor sapi milik peternak rumah tangga, di Kelurahan Margo Rejo, Kecamatan Lubuklinggau Utara I, Kota Lubuklinggau, Sumatera Selatan suspek terpapar Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).

Kepala Bidang (Kabid) Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Kota Lubuklinggau, Abdullah Fikri menuturkan awalnya, pihaknya mendapat laporan dari tim Inseminasi Buatan (IB) ternak, bahwa ada sapi yang mati mendadak, milik peternak di Margo Rejo.

Informasi itu, diterima  Bidang Peternakan dan Kesehayan Hewan, Dinas Pertanian Kota Lubuklinggau pada Senin 9 Mei 2022, malam. Pada Selasa 10 Mei 2022 pagi tim dokter hewan Dinas Pertanian Kota Lubuklinggau, lansung mengecek ke lapangan.

"Nah dari cerita peternak tersebut, ada empat ekor sapi yang telah mati mendadak. Kemudian lima ekor dipotong paksa karena sakit,” cerita Fikri, didampingai tim dokter hewan, Drh Filika Amelia Isman,  Kamis 12 Mei 2022.

BACA JUGA:Waspada! 1.200 Ekor Sapi di Aceh Terinfeksi Penyakit Kuku dan Mulut

Kemudian masih ada satu ekor sapi yang masih hidup, dan mengalami sakit, dengan gejala mirip PMK, dan masih sakit hingga sekarang.

Yakni seperti sariawan di sekitar mulut, lidah seperti melepuh, mengeluarkan banyak lendir dan sela kuku mengalami nanah.

"Satu ekor sapi ini sudah diambil sampel, dan telah dikirim ke Balai Veteriner (dokter hewan) Lampung,” jelasnya lagi.

Saat ini, masih menunggu hasil lab dari Balai Veteriner Lampung. Yang kabarnya sampel masih akan dikirim ke laboratorium yang ada di Surabaya.

BACA JUGA:Konsumsi Daging Sapi di Palembang Capai 82 Ton per Bulan

"Tim dinas peternakan dari Provinsi Sumatera Selatan juga telah melakukan peninjauan ke Lubuklinggau,” katanya.

Menurutnya, PMK ini sangat mudah menular. Hanya saja tidak menular ke manusia. Meski begitu, manusia bisa menjadi perantara penularan, jika telah kontak dengan ternak sakit, lalu kontak lagi ke ternak yang sehat.

“Jadi penularan tidak hanya antar hewan ternak, juga bisa melalui perantara manusia. Jadi kita tidak bisa sembarang sentuh,” katanya.(cj17)

Sumber: sumeks.co