Simak, Pengaruh Salat dan Maksiat Terhadap Rezekimu

Simak, Pengaruh Salat dan Maksiat Terhadap Rezekimu

Malam ini umat Muslim di Indonesia akan menjalani salat tawarih di malam pertama bulan Ramadan-Levi Meir Clancy-Unplash

JAKARTA, DISWAY.ID - Sering kita lupa kalau salat adalah tiang dari agama, sementara rezeki datangnya berdasarkan ketaatan seseorang terhadap Allah SWT. Namun, rezeki akan terganjal akibat dosa yang dilakukan.

Semua ulama sepakat kalau perbuatan maksiat yang kerap kita lakukan adalah akan menghalangi turunnya rezeki.

Sebagaimana perumpamaan, sebuah batu yang mengganjal di tepi jurang air terjun, maka bagaimana bisa air turun dengan deras sementara ada batu penghalang?

BACA JUGA:Tukang Mie Ayam Tewas Tersambar Petir di Gerbang Perumahan Tangerang

Untuk menghilangkan ganjalan alias maksiat, salah satu caranya adalah menjaga salat lima waktu setiap harinya.

Seperti dikutip dari muslim.or.id, dosa seseorang dapat menahan rezeki Allah kepadanya.

Sementara ketakwaan dapat melancarkan rezeki-Nya. 

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an

اتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ وَأَقِمِ الصَّلَاةَ إِنَّ الصَّلَاةَ تَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ (45)

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an) dan dirikanlah shalat! Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadat-ibadat yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kalian kerjakan.” (QS Al-‘Ankabuut: 45)

BACA JUGA:Pastikan Doa Ini Jangan Terlewat, Memohon Rezeki Hingga Kebaikan Dunia-Akhirat

Tafsir Ringkas

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Qur’an),” Allah subhaanahu wa ta’aala memerintahkan kepada kita untuk membaca wahyunya, yaitu Al-Qur’an. Arti dari membacanya adalah mengikuti semua yang terkandung di dalamnya, melaksanakan perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya, berjalan di atas petunjuk-Nya, membenarkan seluruh pengabaran-Nya, merenungi makna-makna yang terkandung di dalam Al-Qur’an dan membaca lafaz-lafaznya.

Maksud dari penyebutan “bacalah” dalam ayat ini hanyalah penyebutan sebagian makna untuk mewakili makna yang lain. Dengan demikian, kita mengetahui bahwa arti perkataan “bacalah” adalah menjalankan agama seluruhnya. Sehingga perintah berikutnya, yaitu “dan dirikanlah shalat!” hanyalah penyebutan sebagian hal dari keumuman perintah untuk menjalankan seluruh agama.

Sumber: