Tembak Kepala Warga Sipil Hingga Tewas, Vadim Shishimarin Dihukum Seumur Hidup

Tembak Kepala Warga Sipil Hingga Tewas, Vadim Shishimarin Dihukum Seumur Hidup

Pengadian Rusia memvonis Vadim Shishimarin, Selasa 24 Mei 2022. Vadim seorang Tentara Rusia harus menerima ganjaran penjara seumur hidup setelah dirinya menembak warga sipil Ukraina pada invasi Rusia ke Ukraina. -Tangkapan Layar/Youtube/@TheStraitsTimes-Disway.id

KYIV, DISWAY.ID - Pengadilan Ukraina menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup kepada seorang tentara Rusia pada Selasa 24 Mei 2022.

Tentara tersebut divonis telag membunuh seorang warga sipil tak bersenjata dalam persidangan kejahatan perang pertama yang timbul dari invasi Rusia pada 24 Februari 2022 ke Ukraina.

Vadim Shishimarin, seorang komandan tank Rusia berusia 21 tahun. Ia telah mengaku bersalah membunuh seorang warga sipil tua yang tidak bersenjata di desa Chupakhivka, Ukraina timur laut, pada 28 Februari. 

BACA JUGA:2 Bloger Terkenal Diburu Tentara Rusia

Hakim Serhiy Agafonov mengatakan Shishimarin harus yang menjalankan perintah pidana oleh seorang prajurit berpangkat lebih tinggi, setelah melepaskan tembakan ke kepala korban dari senjata otomatis.

“Mengingat kejahatan yang dilakukan adalah kejahatan terhadap perdamaian, keamanan, kemanusiaan dan ketertiban hukum internasional pengadilan tidak melihat kemungkinan menjatuhkan hukuman (yang lebih pendek),” katanya.

Shishimarin, mengenakan kaus berkerudung biru dan abu-abu, menyaksikan persidangan tanpa suara dari kotak kaca yang diperkuat di ruang sidang dan tidak menunjukkan emosi saat putusan dibacakan.

Dia berdiri dengan kepala tertunduk sepanjang proses, mendengarkan seorang penerjemah.

BACA JUGA:Rusia Stop Ekspor Gas Giliran Malaysia Larang Ekspor Ayam

Persidangan, yang baru dimulai minggu lalu, memiliki makna simbolis yang sangat besar bagi Ukraina dan seorang pengacara internasional mengatakan kepada Reuters bahwa itu bisa menjadi yang pertama dari banyak kasus.

Kyiv menuduh Rusia melakukan kekejaman dan kebrutalan terhadap warga sipil selama invasi dan mengatakan telah mengidentifikasi lebih dari 10.000 kemungkinan kejahatan perang.

Rusia membantah menargetkan warga sipil atau terlibat dalam kejahatan perang. Kremlin tidak segera mengomentari putusan tersebut. 

Sebelumnya dikatakan bahwa mereka tidak memiliki informasi tentang persidangan dan bahwa tidak adanya misi diplomatik di Ukraina membatasi kemampuannya untuk memberikan bantuan.

BACA JUGA:Gempabumi dan Tsunami Guncang Tanjung Benoa, Siswa SD 2 Cari Perlindungan

Sumber: the straits times