Doa Asmaul Husna, Arti dan Keutamaannya

Doa Asmaul Husna,  Arti dan Keutamaannya

Ilustrasi/Berdoa-Pixabay-

DISWAY.ID-Ramadan bulan penuh keberkahan. Oleh karena itu, setiap ibadah atau hal kebaikan yang dilakukan oleh umat Islam, akan dilipatgandakan pahalanya. 

Dikutip dari NU Online, Rasulullah bersabda, bahwa Allah memiliki 99 nama indah atau lebih dikenal sebagai Asmaul Husna (pelafalan yang lebih tepat sejatinya adalah al-asma’ al-ḫusna). 

Bahkan sebagian ulama secara khusus menyusun doa yang mereka beri nama Du‘a al-Asma al-Ḫusna (Doa Asmaul Husna). 

Sebagian lagi menyusun nadham atau syair yang berisi seluruh nama-nama agung itu. 

Baik doa maupun nadham, susunan redaksinya bisa berbeda-beda, mengikuti ijtihad para ulama dalam merangkai untaian pujian dan doa.

Tak hanya untuk doa, Asmaul Husna juga kerap dijadikan wirid atau amalan rutin para ulama sejak zaman dulu. Hal ini karena keutamaan dan rahasia di dalamnya. 

Asmaul Husna diyakini sebagai media (tawasul) paling manjur dalam membuka berbagai pintu kebahagiaan secara lahir maupun batin.

BACA JUGA:Ini Keutamaan 10 Hari Kedua Ramadan, Jangan Sampai Terlewatkan

Sayyid Muhammad bin Alwi al-Maliki al-Hasani dalam kitab Abwabul Faraj (1971: 132) menyebut, sebagian ulama salaf tiap bakda salat Maghrib memiliki rutinitas bersama teman-temannya membaca surat Yasin, dilanjut melantunkan Asmaul Husna, doa Asmaul Husna, lalu memohon sesuatu kepada Allah.

Sementara Ulama besar tasawuf Al-Azhar kelahiran Sudan, Syekh Shalih al-Ja’fari bercerita, melantunkan Asmaul Husna merupakan salah satu wirid tarekat guru beliau. 

Alam raya dan seisinya diyakini sebagai manifestasi nama-nama Allah. Sehingga, siapa saja yang memanjatkan doa dengan Asmaul Husna, ia tak ubahnya sedang menarik seluruh kebaikan datang kepadanya, dan membentengi dirinya dari berbagai ancaman keburukan.

BACA JUGA:3 Waktu Terkabulnya Doa di Bulan Ramadan

Ketika seseorang, misalnya, melantunkan Yâ Raḫmân (wahai Yang Maha Penyayang), maka sesungguhnya ia sedang memohon limpahan kasih sayang atau rahmat dari Allah; saat membaca Yâ Lathîf (wahai Yang Mahalembut), maka sejatinya ia sedang memohon kelembutan; kala membaca Yâ Ghafûr (wahai Yang Maha Pengampun), maka sama halnya ia tengah meminta ampunan; ketika melantunkan Yâ Razzâq (wahai Yang Maha Pemberi rezeki) maka tak ubahnya ia sedang menarik rezeki datang menghampirinya, dan begitu seterusnya (Sayyid Muhammad al-Maliki, Abwabul Faraj, 1971: 132).

Bagi Syekh Shalih al-Ja’fari, Asmaul Husna lebih dari sekadar deretan nama-nama agung yang “hanya” bisa menjadi media atau tawasul untuk doa-doa. 

Sumber: