UAH dan Gus Miftah Diminta Tabayyun Soal Polemik Rendang, Gus Rofi'i: Rendang atau Batik Jelas Tidak Beragama

UAH dan Gus Miftah Diminta Tabayyun Soal Polemik Rendang, Gus Rofi'i: Rendang atau Batik Jelas Tidak Beragama

Gus Miftah dan UAH Diminta Cari Jalan Keluar dari Persoalan Agama Rendang---Istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID - Ketua Barisan Ksatria Nusantara (BKN) Gus Rofi'i ikut menanggapi polemik perbedaan pendapat antara Ustaz Adi Hidayat (UAH) dengan Gus Miftah.

Baik Gus Miftah dan Ustaz Adi Hidayat (UAH) beberapa hari terakhir memang menjadi sorotan karena mempermasalahkan agama rendang.

Gus Miftah yakin bahwa rendang atau makanan yang lain pastinya tidak akan punya agama, sedangkan UAH menilai rendang beragama sejak batik hingga angklung berkewarganegaraan.

BACA JUGA:Pengamat Klaim Rendang Boleh Dimasak Pakai Daging Babi: Ya Boleh Lah, Siapa yang Melarang Itu?

BACA JUGA:Gus Rofi'i Jawab Sindiran UAH ke Gus Miftah Soal Rendang: Yang Punya Agama Itu...

Menanggapi persoalan itu, Gus Rofi'i mengatakan entah itu rendang atau batik sama-sama tidak memiliki agama.

Gus Rofi'i menganggap bahwa yang mempunyai agama justru yang mengolah rendang menjadi masakan dan yang membuat batik menjadi pakaian.

"Nah yang bikin rendang itu agamanya apa aja? Nah kalau di Padang kan mayoritas muslim. Tapi ada rendang bikinan teman kita non muslim gitu kan," kata Gus Rofi'i, dikutip Disway.id dari kanal YouTube DH Entertainemnt News pada Jumat, 24 Juni 2022.

"Jadi, ya tidak beragama baik rendang maupun batik, yang beragama yang bikin, yang membuat. Itu untuk menengahi Gus Miftah dengan Ustaz Adi Hidayat," sambungnya.

BACA JUGA:Ceramah Gus Miftah Soal Rendang Babi: Orang Kristen Mau Makan Apa Ya Terserah, Wong Cangkem-cangkeme Dewe..

BACA JUGA:Gus Miftah Dakwah di Klub Malam, Guyon ke Pemandu Karaoke: Nggak Ada Satu LC pun yang Melirik Saya...

Gus Rofi'i menilai Gus Miftah dan UAH sama-sama seorang ulama yang memiliki pemikiran pintar.

Hanya saja menurutnya, keduanya masih enggan untuk tabayyun dan bertemu secara langsung karena hanya sebatas bertemu di media sosial saja.

Ia menilai ke depannya harus terus membudayakan untuk mencari kejelasan antara satu dengan yang lain agar tidak ada salah pengertian oleh masing-masing jemaahnya.

Sumber: