BPOM Tegaskan Udang dan Cengkeh Indonesia Aman, Isu Radioaktif Diduga Bermuatan Politik Dagang
Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, dr. Taruna Ikrar, menegaskan bahwa produk udang beku dan cengkeh asal Indonesia yang sempat ditolak oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat karena dugaan kontaminasi zat radioaktif Cesium-1-Istimewa-
JAKARTA, DISWAY.ID -- Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI, dr. Taruna Ikrar, menegaskan bahwa produk udang beku dan cengkeh asal Indonesia yang sempat ditolak oleh Food and Drug Administration (FDA) Amerika Serikat karena dugaan kontaminasi zat radioaktif Cesium-137 (Cs-137) telah dinyatakan aman dikonsumsi.
Meskipun tingkat radiasi yang ditemukan jauh di bawah ambang batas internasional, BPOM tetap menanggapi persoalan ini dengan serius guna menjaga reputasi bangsa.
Namun, Taruna tidak menutup kemungkinan adanya muatan politik dagang di balik penolakan tersebut.
BACA JUGA:LMKN Kenalkan Inspiration, Bayar Royalti Musik Kini Semudah Klik
BACA JUGA:27 Perwira Tinggi Polri Naik Pangkat, 4 Diantaranya Jadi Komjen
“Kami tidak bertengkar, tapi membangun reputasi. Walaupun kadar radiasinya sangat rendah, kami tetap serius,” ujar Taruna, Senin 6 Oktober 2025.

“Ada dugaan ini bagian dari politik dagang. Tapi itu di luar domain BPOM,” tambahnya.
Kontaminasi Sangat Rendah dan Diduga dari Bahan Baku Impor
Kepala BPOM, Taruna Ikrar menjelaskan bahwa kontaminasi Cs-137 hanya ditemukan pada empat kontainer dari lebih 400 kontainer yang diperiksa, dengan nilai kontaminasi yang sangat rendah, hanya sekitar 68 Bq/kg.
Angka ini jauh di bawah batas yang ditetapkan Indonesia (500 Bq/kg) dan bahkan lebih jauh di bawah standar intervensi FDA AS (1.200 Bq/kg).
BACA JUGA:Berapa Besaran Gaji Peserta Magang Nasional 2025? Simak Informasinya
BACA JUGA:Patrick Kluivert Bongkar Taktik GANAS, Pressing Tinggi ala Shin Tae-yong Siap Hajar Arab Saudi?
"Kita, standar kita kalau di Indonesia berdasarkan badan tenaga atom cuma 500 Bq. Nah, yang didapatkan itu dari 400 lebih kontainer itu cuma ada 4. Nah, dari 4 kontainer itu juga sangat rendah cuma 68," ujar Taruna.
Menurut Taruna, kontaminasi tersebut diduga berasal dari bahan baku pembuatan besi yang diimpor dan telah dikirim kembali (re-impor) ke negara asalnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber:
