Kemenkes Pastikan Kesiapan IPK: Layanan Psikologis Darurat Siap Tangani Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta

Kemenkes Pastikan Kesiapan IPK: Layanan Psikologis Darurat Siap Tangani Korban Ledakan SMAN 72 Jakarta

Kemenkes mengumumkan bahwa Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia telah siaga penuh untuk memberikan layanan Dukungan Psikososial Awal (Psychological First Aid - PFA) kepada seluruh korban, saksi, keluarga, dan staf pengajar.-dok Disway-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Pasca insiden ledakan yang mengguncang Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 72 Jakarta di Kelapa Gading pada Jumat 7 November 2025 lalu, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memastikan bahwa penanganan korban tidak terbatas pada luka fisik, tetapi juga mencakup pemulihan trauma psikologis.

Kemenkes mengumumkan bahwa Ikatan Psikolog Klinis (IPK) Indonesia telah siaga penuh untuk memberikan layanan Dukungan Psikososial Awal (Psychological First Aid - PFA) kepada seluruh korban, saksi, keluarga, dan staf pengajar.

BACA JUGA:Prabowo dan Paul Keating Bahas Stabilitas Kawasan serta Dinamika Geopolitik dan Ekonomi Global

BACA JUGA:Layanan Baru Garda Medika: Express Discharge Permudah Pasien Pulang Tanpa Menunggu Lama

Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan Kementerian Kesehatan, Imran Pambudi menyatakan bahwa dampak psikologis dari peristiwa traumatis seperti ledakan seringkali muncul belakangan, dan harus segera diintervensi.

"Kami juga sudah bicara dengan teman-teman dari IPK Indonesia (Ikatan Psikolog Klinis Indonesia. Mereka juga sudah siap untuk membantu teman-teman Dinkes untuk bisa memberikan konseling bukan hanya kepada korban tapi juga kepada keluarga dan juga mungkin bukan hanya keluarga loh orang-orang yang sekolah disitu jadi takut," ujar Imran kepada Disway.id, Rabu 12 November 2025.

Prioritas Penanganan Trauma Kolektif

Kemenkes menekankan bahwa ledakan tersebut telah menciptakan trauma kolektif di lingkungan sekolah. Korban luka-luka, teman-teman sekolah, guru, hingga orang tua semua berpotensi mengalami gejala gangguan stres pascatrauma (PTSD), kecemasan akut, atau syok.

BACA JUGA:Buka Kick Off HGN 2025, Menag Nasaruddin Ajak Guru Wujudkan Integrasi Ilmu dan Iman

BACA JUGA:Pramono Pastikan Tidak Ada Pemangkasan Subsidi Pangan Murah di APBD DKI 2026

"Jadi memang ini tidak gampang Ini kita namakan yang tadi Post Traumatic Syndrome (PTSD) Itu kepada para korban  bukan hanya yang luka tapi anak-anak itu juga menjadi korban jadi was-was masuk sekolah takut," kata Imran.

Layanan psikologis darurat yang diberikan oleh IPK Indonesia mencakup:

1. Identifikasi Dini: Mengidentifikasi individu-individu yang menunjukkan gejala trauma berat dan membutuhkan intervensi spesialis.

2. Konseling Kelompok: Sesi berbagi bagi siswa dan guru untuk memproses pengalaman mereka dalam lingkungan yang aman.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait

Close Ads