BMKG Akui Mitigasi Bencana di Sumatera Belum Maksimal akibat Anggapan Indonesia Bebas Siklon
BMKG telah memberikan peringatan potensi cuaca ekstrem di Sumatera Utara delapan hari sebelum banjir bandang melanda.-Disway/Anisha Aprilia-
JAKARTA, DISWAY.ID-- Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani menyadari bahwa kesiapsiagaan bencana di wilayah Pulau Sumatera belum optimal.
Ia menjelaskan hal itu dikarenakan, BMKG menilai Indonesia bukan daerah yang rawan terhadap siklon.
BACA JUGA:KPK Hormati Klaim Ridwan Kamil yang Tak Tahu Aksi Korporasi BANK BUMD: Itu Kan Pendapat
BACA JUGA:30 Ucapan Selamat Hari Natal 2025 Bahasa Inggris dan Artinya, Cocok Jadi Caption WA dan IG
"Mengapa kesiapsiagaannya masih belum optimal? Ini karena begini. Sejak dari kita tumbuh, bahwa kita tidak merasa bahwa Indonesia ini adalah daerah yang rawan terhadap siklon," kata dia di Kompleks Parlemen, Selasa, 2 Desember 2025.
Dia mengatakan siklon biasanya terjadi pada daerah di atas 5 derajat Lintang Utara (LU) atau 5 derajat Lintang Selatan (LS). Sebab itu, menurut dia, Jepang, Taiwan, Filipina, Hong Kong merupakan daerah rawan siklon tropis.
"Nah kita, siklon tropis itu bukan kejadian yang lazim, karena kita kan berada tidak lebih dari 5 derajat atau 5 derajat lintang utara atau lintang selatan. Jadi ini kejadian yang akibat anomali cuaca dan atmosfer sehingga terjadilah siklon, sehingga kita secara prinsip kita juga belum begitu siap untuk menghadapi bencana dengan eskalasi sebesar ini," lanjut Syafii.
BACA JUGA:Link dan Cara Daftar Mudik Gratis Nataru 2025/2026 Kemenhub
BACA JUGA:Pelindo Peduli, Salurkan Bantuan Kemanusiaan untuk Korban Banjir dan Longsor di Sumatera
Meski demikian, ia mengakui BMKG telah memberikan peringatan potensi cuaca ekstrem di Sumatera Utara delapan hari sebelum banjir bandang melanda.
"Jadi 8 hari sebelumnya kita mendeteksi akan terjadi cuaca ekstrem, karena ada anomali di atmosfer, ada monsun Asia, seruakan dingin dari arah utara. Jadi dengan kondisi ini kita memprediksi ada cuaca ekstrem itu sejak 8 hari," kata Faisal.
Bukan hanya itu, Teuku mengatakan pihaknya telah menyebarkan informasi kepada masyarakat.
"Jadi 4 hari sebelum terjadi siklon yang tanggal 25 itu, bibitnya sudah terdeteksi tanggal 21. Itu kita melakukan diseminasi informasi, SMS blasting, WA blasting, dan sebagainya di grup BPBD daerah," ujarnya.
BACA JUGA:Makna Mendalam Jersey Garuda: Identitas dan Persatuan Indonesia di SEA Games 2025
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel
Sumber: