Industri Budaya dan Kreatif sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Indonesia

Industri Budaya dan Kreatif sebagai Pilar Kemandirian Ekonomi Indonesia

Dekan FIB UB Prof Sahiruddin (paling kiri) mendampingi Wakil Rektor IV UB dalam salah satu kegiatan untuk pengenalan bahasa dan budaya Indonesia di Tianjin Foreign Studies University (TFSU), Tiongkok, salah satu kampus mitra FIB UB, akhir 2025 lalu.-Dokumentasi UB-

Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia (KSTI) 2026 memberikan pesan kuat bahwa kemandirian bangsa tidak hanya ditentukan oleh penguasaan teknologi dan kekuatan industri, tetapi juga oleh kemampuan Indonesia menjaga identitas, mengelola kekayaan budaya, serta mengubah pengetahuan menjadi manfaat nyata bagi masyarakat. Kepentingan kebangsaan perlu ditempatkan di atas kepentingan individu dan golongan agar negara tetap berdaulat serta tidak terjebak dalam kepentingan sempit yang dapat mengarah pada praktik deep state maupun state capture.

Salah satu gagasan penting yang mengemuka adalah perlunya perguruan tinggi mengarahkan penelitian dan inovasi menuju proses hilirisasi yang mampu menyelesaikan persoalan bangsa. Penelitian tidak seharusnya berhenti pada laporan, publikasi, atau capaian akademik, tetapi perlu diterjemahkan menjadi kebijakan, produk, layanan, dan model pemberdayaan yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.


--

Dalam bidang kebudayaan, pemajuan budaya harus berjalan beriringan dengan penguatan kemandirian ekonomi rakyat. Kebudayaan tidak hanya dipandang sebagai warisan yang perlu dilestarikan, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan, kreativitas, pekerjaan, dan nilai ekonomi. Pengelolaan museum, situs sejarah, seni pertunjukan, kriya, kuliner, bahasa, dan berbagai ekspresi budaya dapat dikembangkan secara profesional tanpa kehilangan nilai, makna, dan identitasnya.

BACA JUGA:Politik Simbol Kepala Kerbau

BACA JUGA:SBN Masih Layak Dikoleksi di Tengah Gejolak Pasar Modal Global

Selain itu, pelestarian kebudayaan juga perlu diarahkan sebagai bentuk soft diplomacy Indonesia di tingkat internasional. Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya telah mengambil langkah konkret dengan mendirikan Rumah Budaya Indonesia (RBI) di dua universitas di Tiongkok sebagai sarana promosi budaya, bahasa, dan nilai-nilai Indonesia kepada masyarakat global. Inisiatif ini menunjukkan bahwa kebudayaan dapat menjadi instrumen strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional sekaligus membuka peluang kerja sama lintas negara.

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya berkomitmen untuk mengambil peran sebagai pusat pengembangan cultural and creative industries. Kontribusi tersebut dapat diwujudkan melalui penelitian budaya berbasis kebutuhan masyarakat, digitalisasi warisan budaya, pengembangan kewirausahaan kreatif, penguatan hak kekayaan intelektual, serta pendampingan komunitas seni dan pelaku ekonomi kreatif. FIB UB juga dapat memperkuat pemanfaatan kecerdasan buatan dan digital humanities untuk dokumentasi, promosi, edukasi, serta pengembangan produk budaya yang relevan dengan perubahan zaman.

BACA JUGA:Presiden dan Para Pengolok

BACA JUGA:Makan Bergizi, Tata Kelola Kurang Gizi

Sebagai sumbangan gagasan dari UB, pengembangan industri budaya dan kreatif perlu dibangun melalui kolaborasi perguruan tinggi, pemerintah, dunia usaha, media, dan komunitas. Kampus dapat menjadi living laboratory yang mempertemukan peneliti, mahasiswa, seniman, pelaku industri, dan masyarakat untuk mengolah potensi budaya lokal menjadi inovasi yang bernilai sosial dan ekonomi. Hilirisasi kebudayaan harus memastikan bahwa masyarakat pemilik budaya tetap menjadi pelaku utama sekaligus memperoleh manfaat yang adil.

KSTI 2026 mengingatkan bahwa sains, teknologi, industri, dan kebudayaan tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri. Semuanya perlu dipertemukan dalam satu agenda besar untuk menjaga keberlanjutan Indonesia. Dengan kekayaan budaya yang luar biasa dan dukungan ilmu pengetahuan, Indonesia memiliki modal kuat untuk membangun ekonomi yang mandiri, berkarakter, dan berpihak pada kesejahteraan rakyat. (*)

*) Sahiruddin SS MA PhD, Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UB


Sahiruddin SS MA PhD-Dokumentasi UB-

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait