Komisi Ojol 8 Persen Belum Tentu Bikin Driver Sejahtera, Ini 4 Penyebab Utamanya

Selasa 28-07-2026,23:41 WIB
Komisi Ojol 8 Persen Belum Tentu Bikin Driver Sejahtera, Ini 4 Penyebab Utamanya

Pemangkasan komisi aplikator menjadi 8 persen sempat diharapkan menjadi angin segar bagi jutaan pengemudi ojek online (ojol).--Tim Redaksi Disway

JAKARTA, DISWAY.ID - Pemangkasan komisi aplikator menjadi 8 persen sempat diharapkan menjadi angin segar bagi jutaan pengemudi ojek online (ojol).

Namun, berbagai kalangan menilai kebijakan tersebut belum tentu otomatis meningkatkan kesejahteraan driver. 

Sebab, persoalan di ekosistem transportasi daring dinilai jauh lebih kompleks dibanding sekadar mengurangi besaran potongan aplikasi. 

Ekonom, pengamat transportasi hingga pegiat perlindungan konsumen menilai masih ada sejumlah persoalan mendasar yang harus diselesaikan pemerintah, mulai dari potensi turunnya jumlah order, berkurangnya bonus dan insentif, hingga membengkaknya jumlah pengemudi di lapangan.

Empat persoalan tersebut dinilai saling berkaitan sehingga manfaat kebijakan belum tentu langsung dirasakan para pengemudi. 

BACA JUGA:Janji Komisi Ojol 8 Persen Belum Terasa, Driver Masih Sulit Bayar Kontrakan

Order Bisa Turun Meski Komisi Naik 

Dalam menanggapi fenomena ini, Kepala Pusat Ekonomi Makro dan Keuangan dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) M. Rizal Taufikurahman menuturkan bahwa penurunan pendapatan sendiri dinilai sebagai salah satu dampak dari kebijakan komisi 8 persen tersebut.

Kendati begitu, dirinya juga menekankan bahwa apabila seluruh penurunan komisi dibebankan kepada konsumen, manfaat bagi driver bisa hilang karena jumlah order turun.

"Persoalannya bukan sekadar berapa persen komisi yang diterima platform, tetapi bagaimana beban penyesuaian dibagi. Ukuran keberhasilannya harus dilihat dari pendapatan bersih harian driver, jumlah transaksi, tarif yang dibayar konsumen, serta biaya tambahan yang dikenakan platform, bukan hanya dari turunnya persentase komisi," jelas Rizal ketika dihubungi oleh Disway, pada Kamis 23 Juli 2026.

Dalam hal ini, dirinya turut menyoroti risiko penurunan order, yang diperkirakan akan membesar apabila kenaikan total biaya yang dibayar konsumen melampaui pertumbuhan pendapatan masyarakat dan biaya moda transportasi alternatif.

BACA JUGA:Kisah Driver Ojol Jadi Saksi Hidup saat Sutrimo Terkapar, Detik-Detik Sebelum Tewas

Selain itu pada segmen perjalanan pendek dan konsumen berpendapatan menengah ke bawah, kenaikan harga sekitar 5 persen sendiri sudah berpotensi mengurangi frekuensi penggunaan.

"Dalam kondisi tersebut, driver memang memperoleh bagian lebih besar per transaksi, tetapi total pendapatan hariannya bisa turun karena order lebih sedikit dan waktu tunggu lebih panjang," ucap Rizal.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait