Pemindahan Venue Semifinal Piala Presiden 2026 ke Bali Disorot, Dinilai Kurang Antisipasi

Selasa 04-08-2026,11:51 WIB
Reporter: Dimas Rafi |
Pemindahan Venue Semifinal Piala Presiden 2026 ke Bali Disorot, Dinilai Kurang Antisipasi

Venue babak semifinal Piala Presiden 2026 -ist-

JAKARTA, DISWAY.ID-- Pemindahan mendadak tempat berlangsungnya babak semifinal Piala Presiden 2026 yang semula dijadwalkan di Stadion Gelora Bung Tomo (GBT) Surabaya dan kini bergeser ke Bali memicu sorotan tajam.

Keputusan darurat tersebut dinilai memperlihatkan ketidaksiapan panitia pelaksana dalam mengantisipasi potensi kerawanan keamanan akibat laga tim-tim berrivalitas tinggi.

Pengamat sepak bola Kesit Budi Handoyo menyampaikan kritik keras atas langkah reaktif yang diambil pihak penyelenggara turnamen pramusim ini.

BACA JUGA:Harga Emas Antam Turun Tipis Jadi Rp 2.603.000 per Gram, Cek Rincian Lengkapnya

Menurutnya, potensi bentrok antarsuporter dan peta persaingan seharusnya sudah masuk dalam kalkulasi sejak awal.

Saya melihat sepertinya panitia kurang mengantisipasi lolosnya atau bertemunya empat tim yang punya rivalitas tinggi, kata Kesit saat dihubungi, Selasa (4/8).

Kesit menyoroti dua laga semifinal Piala Presiden 2026 yang menyajikan duel derbi sarat tensi tinggi dan riwayat rivalitas panjang, yaitu Persija Jakarta melawan Persib Bandung serta Persebaya Surabaya berhadapan dengan Arema FC. Pertemuan dua pasang klub besar tersebut diakui memiliki tingkat risiko keamanan yang cukup tinggi.

Ini kan pertemuan yang pada akhirnya tidak bisa dihindari. Kita tahu bagaimana rivalitas Persija dengan Persib, kemudian Persebaya Surabaya dengan Arema. Artinya, ketika kemudian venue dipindahkan secara mendadak, itu menunjukkan panitia sebenarnya tidak siap, tegasnya.

Ia menyayangkan sikap panitia yang baru mencari lokasi netral setelah kepastian tim yang lolos ke semifinal benar-benar mengerucut. Padahal, tata kelola turnamen profesional idealnya telah menentukan seluruh alur pertandingan, mulai dari fase grup, babak knock-out, hingga final sejak jauh-jauh hari.

BACA JUGA:Eksekusi Putusan MK, DPR: Anggaran MBG Diprediksi Tersisa Rp 40 Triliun Usai Lepas Sektor Pendidikan

Dampak Teknis Kerapian Tim Terganggu

Pemindahan lokasi secara mendadak ini dinilai memberi dampak negatif terhadap kesiapan teknis tim peserta.

Klub yang sebelumnya memproyeksikan bermain di area terdekat atau kandang sendiri kini harus menanggung beban logistik tambahan, mulai dari memesan tiket penerbangan hingga menjaga kestabilan fisik pemain.

Ini kan membuat tim-tim yang tadinya sudah bersiap untuk bermain, katakanlah di kandang sendiri seperti Persebaya, tiba-tiba harus pergi ke luar kota dan luar pulau.

Ini memakan waktu, persiapan terganggu, belum lagi stamina dan fisik pemain karena harus melalui penerbangan di tengah jadwal yang mepet, ujar Kesit.

BACA JUGA:Neraca Perdagangan Mereda, Ekspor Nonmigas Dorong Surplus Makin Tebal

Atas pertimbangan tersebut, Kesit mendesak penyelenggara agar kejadian penentuan venue di menit-menit akhir tidak terulang kembali pada edisi berikutnya. Panitia diharapkan memiliki keberanian serta kesiapan manajerial dalam menentukan skenario turnamen sejak awal.

Panitia harus lebih berani mengambil risiko. Kalau situasinya seperti ini, sama juga mereka belum berani mengambil risiko jika terjadi apa-apa dalam pertandingan semifinal, apalagi dua-duanya punya resistensi dan rivalitas yang sangat tinggi, pungkas Kesit.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait