Mantan Jubir Gus Dur Dorong NU Perkuat Peran Global di Tengah Geopolitik Dunia yang Berubah

Sabtu 29-08-2026,12:11 WIB
Reporter: M Purwadi |
Mantan Jubir Gus Dur Dorong NU Perkuat Peran Global di Tengah Geopolitik Dunia yang Berubah

Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Sastro Al Ngatawi di sela-sela Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu, 29 Agustus 2026. -Dok/Disway.id-

JOMBANG, DISWAY.ID — Mantan juru bicara Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Sastro Al Ngatawi, mendorong Nahdlatul Ulama untuk terus memperkuat kiprahnya di panggung internasional. 

Menurutnya, momen penataan ulang tatanan dunia atau remaking of the world saat ini menjadi peluang emas bagi NU untuk menunjukkan wajah Islam Nusantara yang moderat dan berkontribusi bagi perdamaian global.

Sastro menilai internasionalisasi gagasan keislaman khas Nusantara bukanlah hal baru bagi NU, melainkan bagian dari khittah perjuangan yang telah dirintis sejak organisasi berdiri. Salah satu tonggak pentingnya adalah pembentukan Komite Hijaz oleh KH Hasyim Asy'ari dan KH Abdul Wahab Hasbullah.

Sastro menyampaikan hal itu di sela-sela Muktamar ke-35 NU yang berlangsung di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Sabtu, 29 Agustus 2026. 

BACA JUGA: Sah! LPJ Kepengurusan Gus Yahya Diterima Aklamasi di Muktamar Ke-35 NU Jombang

Menurut dia, tradisi internasionalisasi tersebut kemudian diteruskan oleh ulama-ulama NU pada periode berikutnya, bahkan sebelum Konferensi Asia-Afrika telah berlangsung Konferensi Umat Islam Internasional yang menunjukkan keterlibatan ulama Indonesia dalam percaturan dunia.

Namun, Sastro mengakui bahwa orientasi NU sempat lebih banyak tertuju ke dalam negeri, terutama pada masa kepemimpinan KH Idham Chalid. Barulah pada era Gus Dur, internasionalisasi gagasan NU kembali menguat dan digunakan sebagai salah satu strategi menghadapi tekanan politik serta marginalisasi pada masa Orde Baru.

"Komite Hijaz itu kan sebetulnya internasionalisasi terhadap gagasan-gagasan tradisi pemikiran Islam yang ada di Nusantara," ujar Sastro.

Sastro menyebut setidaknya ada dua tujuan utama dari internasionalisasi gagasan NU. Pertama, memperkenalkan alternatif wajah Islam kepada masyarakat dunia yang tidak semata-mata bercorak Timur Tengah, simbolik, formal, atau koersif. "Tetapi ada wajah Islam yang lain, yaitu Islam NU yang ada di Nusantara," katanya.

BACA JUGA: Lesehan Bareng Ratusan Kader NU di Jombang, Gus Yahya Tegaskan Jati Diri NU

Kedua, internasionalisasi tersebut dapat memperluas kemaslahatan yang dihasilkan NU. Dengan jangkauan yang semakin global, gagasan dan gerakan NU dinilai dapat memberikan kontribusi lebih luas bagi masyarakat dunia.

Tantangan sekaligus peluang internasionalisasi NU kini semakin besar seiring perkembangan teknologi informasi dan kaburnya batas-batas antarnegara. Karena itu, Sastro menekankan pentingnya terus mendiseminasikan gagasan serta tradisi keislaman khas Nusantara ke masyarakat internasional.

Sastro juga menilai NU perlu memperkuat perannya dalam merespons berbagai konflik global. Menurutnya, sejumlah persoalan yang muncul di tingkat nasional tidak dapat dilepaskan dari dinamika konflik internasional. "Apa yang terjadi di Indonesia saat ini itu kan sebetulnya resonansi dari konflik global," ujarnya.

Karena itu, NU perlu berpikir dan mengambil peran pada tingkat global sebagai "hulu" persoalan. Sementara di tingkat nasional, peran kiai kampung, pesantren, serta struktur kelembagaan NU dari tingkat pusat hingga ranting perlu dioptimalkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: