Teater Meradjoet Sendja Suarakan Bakti Seniman Nusantara Bersama Dompet Dhuafa dan Parfi 56 di GKJ

Rabu 02-09-2026,21:14 WIB
Teater Meradjoet Sendja Suarakan Bakti Seniman Nusantara Bersama Dompet Dhuafa dan Parfi 56 di GKJ

orkestrasi kebangsaan bertajuk Meradjoet Sendja: Persembahan Cinta Untuk Republik dipentaskan secara khidmat.--istimewa

JAKARTA, DISWAY.ID – Diproduseri dan disutradarai oleh seniman multitalenta Olivia Zalianty, karya ini mengusung misi sosial yang mulia.

Seluruh hasil penjualan tiket didonasikan sepenuhnya untuk membantu pelaku seni budaya senior yang membutuhkan serta penyintas bencana melalui skema Social Funds. 

Berlokasi di Gedung Kesenian Jakarta (GKJ) pada Rabu malam 26 Agustus 2026.

Di panggung bersejarah tersebut, orkestrasi kebangsaan bertajuk Meradjoet Sendja: Persembahan Cinta Untuk Republik dipentaskan secara khidmat.

BACA JUGA:Menuju Masyarakat Berdaya dan Mandiri, Dompet Dhuafa Gelar Kongres Kemandirian 2026

Pertunjukan monumental ini menjadi puncak dari program Bakti Seniman Nusantara–Social Funds of Art & Culture, hasil sinergi budaya dan kemanusiaan antara Persatuan Artis Film Indonesia (PARFI ’56), Keana Production, dan Dompet Dhuafa.

Pemilihan ejaan lama Sendja secara sengaja dihidupkan untuk membawa emosi penonton kembali pada fajar kemerdekaan.

Meradjoet mengkiaskan ikhtiar menyambung benang-benang pemikiran bangsa yang terpisah, sedangkan “Sendja” merangkum dua makna: fase penghujung usia para pejuang dan portal menuju horizon baru.

“Meradjoet Sendja bukan tentang berakhirnya sebuah zaman, melainkan merajut kembali warisan sebuah generasi agar tetap hidup dalam perjalanan Republik. Ini panggilan hati saya untuk menyambungkan benang perjuangan yang mulai terputus,” tutur Olivia Zalianty.

BACA JUGA:5 Bulan Pendampingan Pascabencana Galodo, LKC Dompet Dhuafa dan Pemkab Agam Reaktivasi 7 Posyandu

Pertunjukan ini mengalir dramatis dalam empat babak.

Mulai dari dialog Soekarno-Hatta dalam babak Fajar Nusantara, perenungan masa pembuangan Sutan Sjahrir yang melahirkan Pancasila, monolog keteguhan Siti Soendari, hingga perjumpaan imajiner penuh tensi ideologi antara Soekarno dan Tan Malaka dalam babak Pertemuan Satu Malam.

Aktor senior Arswendy Bening Swara, yang memerankan Bung Karno, menegaskan bahwa pentas ini tidak mengedepankan kemiripan fisik semata.

“Sebetulnya kita tidak mementaskan fisiognomi Sukarno, tapi kita mementaskan pemikiran. Pertemuan Tan Malaka dan Sukarno ini jarang diketahui publik. Ini pengingat agar kita tak melupakan sejarah,” tegas Arswendy.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber:

Berita Terkait