Ketika AI Masuk Redaksi, Antara Efisiensi dan Hilangnya Roh Jurnalisme

Senin 21-09-2026,11:38 WIB
Ketika AI Masuk Redaksi, Antara Efisiensi dan Hilangnya Roh Jurnalisme

Alat bantu berbasis kecerdasan buatan menjadi salah satu pendukung kegiatan redaksi-ist-

RUANG redaksi media hari ini tidak lagi sepenuhnya diisi oleh suara jemari mengetik di atas papan tik atau dering telepon narasumber yang berkejaran dengan deadline. Di sudut-sudut meja kerja, sebuah layar monitor memantulkan barisan kode dan teks instan, hasil olahan kecerdasan buatan (AI).

Teknologi ini merangsek masuk, bukan lagi sebagai tamu, melainkan sebagai asisten tak kasat mata yang membantu merangkum wawancara, mencari angle, hingga menyusun kerangka naskah dalam hitungan detik.

​Namun, di balik layar-layar terang itu, ada denyut jantung yang mulai berdetak lebih kencang. Pertanyaan mendasarnya sederhana namun menusuk. Yakni, ketika mesin bisa merangkai kata dengan begitu cepat, di mana posisi manusia di dalamnya?

​James Fernando, reporter Valid News yang juga pernah menjadi reporter Kompas Group, melihat fenomena ini bermata dua. Ia merujuk pada riset global yang menunjukkan dominasi penggunaan AI di kalangan jurnalis internasional.

Menurutnya, AI dapat membantu jurnalis mempercepat proses riset, pencarian data, hingga menemukan sumber, merujuk pada penelitian BBC yang menunjukkan 75 persen dari 200 koresponden yang disurvei telah menggunakan AI untuk kebutuhan produksi dan pengelolaan teks, serta sekitar 74 persen menggunakan AI untuk mencari ide dan menyusun angle.

​"Jadi itu bisa membantu tapi dampak negatifnya kemudahan yang ditawarkan oleh AI itu berdampak langsung juga pada kesejahteraan jurnalis," kata James, Sabtu, 19 September 2026.

​James menilai kekhawatiran muncul ketika AI tidak lagi hanya menjadi alat bantu, tetapi mulai mengambil alih pekerjaan-pekerjaan yang selama ini dilakukan manusia, mulai dari transkrip, penulisan berita, hingga kebutuhan SEO.

​"Karena tugas-tugas jurnalistik itu bisa apa namanya memungkinkan perusahaan-perusahaan itu menyediakan konten atau menghasilkan konten lebih baik menggunakan AI daripada menggunakan tenaga manusia," ujar James, yang menilai perusahaan berpotensi menekan biaya produksi karena sejumlah pekerjaan rutin dapat dikerjakan teknologi tanpa membutuhkan tenaga manusia dalam jumlah yang sama.

"Jadi perusahaan bisa menekan biaya lah. Jadi mengutamakan dia itu untuk kerja-kerja rutin mungkin seperti nulis yang saya bilang tadi, nulis produksi mau berita apa aja bahkan SEO pun bisa diarahkan oleh AI."

​Meski begitu, James mengakui tidak semua pekerjaan jurnalistik dapat digantikan AI, sebab peliputan langsung masih membutuhkan kehadiran jurnalis di lapangan.

​"Nah itu yang menjadi tantangan nanti buat kita untuk ke depannya," imbuhnya, seraya menegaskan bahwa perkembangan AI harus diikuti kesiapan perusahaan media dan jurnalis agar tidak berujung pada berkurangnya kebutuhan tenaga kerja.

​Di meja kerja Ayu Mumpuni, reporter Tirto.id, AI diposisikan sebagai kawan seperjuangan yang tahu batas. Bagi Ayu, fungsi paling nyata dari teknologi ini adalah meringankan beban teknis yang melelahkan.

"Kalau dampak AI terhadap karya atau naskah yang biasa dibikin sendiri itu sebenarnya ngebantu ya, karena kan pertama buat transkrip itu yang paling ngebantu banget, jadinya mempermudah dan mempercepat gitu," ujar Ayu.

​AI juga dimanfaatkannya untuk mencari inspirasi judul, ide tulisan, hingga tema, kendati hasil akhirnya tidak serta-merta dicomot mentah-mentah.

​"Emang dari situ gak mungkin serta-merta kita ambil comot gitu aja ya, tapi setidaknya tuh menginspirasi gitu," tuturnya, menambahkan bahwa AI juga menjadi pemantik ketika kesulitan menentukan lead untuk tulisan in-depth. "Jadi benar-benar ngebantu sih sebenarnya, otentiknya tetap ada di kita gitu, tapi pemantik aja."

​Terkait kesejahteraan, Ayu mengaku belum merasakan perubahan signifikan, dan orisinalitas tetap nomor satu. Namun, persoalan infrastruktur redaksi menjadi ganjalan.

"Saya ngerasanya kalau di kantor saya sendiri mungkin 30% aja ya memadainya gitu," katanya, mencontohkan kendala fasilitas aplikasi AI berbayar untuk transkrip.

"Padahal itu untuk mempermudah gitu. Satu sisi kantor pengen kita cepat dalam memproduksi berita tapi proses transkripnya harus dilakukan, tapi kita juga gak difasilitasi untuk mendapatkan aplikasi secara plus gitu."

​Menurutnya, pemanfaatan AI di kantornya paling terasa dalam jurnalisme data, pencarian data, dan pengecekan fakta.

​Nada serupa disampaikan oleh Nurmahadi, wartawan Wartakota. Menurutnya, bahaya terbesar dari penggunaan AI yang masif di ruang redaksi adalah pudarnya gaya penulisan khas jurnalis.

​"Kekhawatiran tetap terasa di saat redaksi menganggap informasi yang diperoleh di lapangan tidak lagi sakral maka kegunaan wartawan akan dihapus karena AI bisa dengan mudah menulis apapun yang diinginkan ruang Redaksi," ungkap Nurmahadi kepada Disway.id.

​Meski demikian, proses jurnalistik tidak akan bisa digantikan AI tercanggih sekalipun karena melibatkan penggambaran panca indra di lapangan. Terkait praktiknya, ia menyebut AI di kantornya digunakan sebatas mengefisiensi pekerjaan atau memperbaiki kesalahan tanda baca.

"Terkait pelatihan SDM untuk mengintegrasikan AI menurut saya perlu dilakukan sehingga pemakaiannya tetap dalam batas wajar dan bijak, karena yang namanya produk AI itu sudah pasti ada autornya dan seharusnya dituliskan di badan berita jika sebagian naskah ditulis menggunakan AI."

​Sementara itu, Dzaki Nurcahyo, jurnalis video dari Kompas.com, mengakui AI digunakan untuk membantu transkrip rekaman suara, sementara karya jurnalistik tetap dibuat berdasarkan pengalaman jangka panjang.

​"AI tidak akan bisa menggantikan pekerjaan jurnalis dengan mudah. Hanya saja mungkin media non mainstream bisa memanfaatkan AI untuk menjadi mesin pembuat berita cepat dan ringkas, tentu bisa menjadi ancaman apabila masyarakat memilih situs berita 'cepat' dibanding 'akurat'," tegas Dzaki.

​Ia menambahkan bahwa pelatihan AI cukup masif di bidang grafis dan video untuk mencari referensi ide kreatif.

​Pada akhirnya, masuknya AI ke ruang redaksi adalah sebuah keniscayaan sejarah. Tantangan sesungguhnya bukan menolak teknologi, melainkan merawat kebenaran dengan empati dan tanggung jawab moral. (Bersambung)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Temukan Berita Terkini kami di WhatsApp Channel

Sumber: