Musim Panas

Rabu 06-07-2022,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

JEPANG ''menyerah'': akan menghidupkan lagi semua pembangkit listrik tenaga nuklirnya. Yang 14 reaktor itu.

Krisis listrik memburuk di sana. Apalagi di saat memasuki musim panas sekarang ini.

Kita hanya tahu rakyat Jepang itu enak. Makmur. Tapi kita tidak ikut merasakan bagaimana mereka harus sangat hemat listrik. Dan itu harus dilaksanakan dengan sangat disiplin.

Saya punya tamu dari Jepang pekan lalu. Ia bercerita soal bagaimana rakyat harus sangat hemat listrik di sana –seperti bukan negara kaya saja.

Sewaktu ia bercerita, saya langsung melirik lampu-lampu di sekitar ruang tamu. Saya khawatir masih ada yang menyala di siang bolong. Saya tidak mau ia berkata dalam hati: ini di negara yang diutangi malah tidak mau hemat listrik.

Listrik di Jepang sudah telanjur sangat tergantung pada nuklir. Sampai 30 persen. Maka begitu ada kecelakaan pembangkit nuklir di Fukusima 11 tahun lalu semua pembangkit nuklir dimatikan. Emosi masyarakat sangat tinggi: anti nuklir.

Ternyata, tanpa nuklir, renewable energi belum bisa mengatasi. Demi bebas nuklir rakyat Jepang pilih mau diajak ''menderita listrik''.

Tapi ekonomi tidak bisa jalan tanpa listrik. Listrik adalah darah bagi kehidupan ekonomi.

Sebenarnya Jepang sudah memeriksa ulang seluruh pembangkit listrik nuklirnya. Semua aman. Mestinya tidak apa-apa tetap dijalankan.

Bahwa terjadi bencana di Fukushima itu benar-benar kecelakaan. Tsunami di Fukushima hari itu keterlaluan. Tinggi gelombangnya sampai 9 meter. Sejarah tsunami mencatat gelombang tertinggi hanya 6 meter.

Reaktor nuklirnya sendiri sebenarnya tidak apa-apa. Kuat. Tapi pemasok listrik cadangannya terkena tsunami. Harusnya ''genset'' itu diletakkan di tempat yang tinggi –sebagai antisipasi tsunami yang di luar perhitungan.

Memang, kecelakaan nuklir sangat mengerikan. Biar pun tidak ada  yang meninggal akibat kecelakaan nuklir di Fukushima. Memang belakangan ada satu orang yang meninggal.

Di tahun 2018 - -tujuh tahun setelah kecelakaan Fukushima. Orang itu meninggal karena sakit paru. Lalu dicarikan hubungannya dengan Fukushima. Ketemu. Diindikasikan sakitnya itu akibat terpapar radiasi. Lalu orang-orang yang meninggal setelah itu juga dikaitkan dengan radiasi Fukushima.

Pun kalau saya kelak meninggal dunia: jangan-jangan juga karena saya pernah ke kawasan PLTN Fukushima setelah kecelakaan itu terjadi.

Debat penyebab kematian itu bisa panjang. Tapi dampak kekurangan listrik akan lebih panjang. Maka keputusan menghidupkan kembali pembangkit nuklir terpaksa dilakukan. Pemerintah sudah memeriksa ulang kesehatan pembangkit itu. Berulang-ulang. Selama 11 tahun terakhir.

Jepang telah menjadi kenyataan baru bahwa renewable energi belum bisa banyak berbuat.

Belum lagi kalau dilihat dari kenaikan harga batu bara: tiga kali lipat. Bagaimana bisa bahan bakar yang dihujat habis-habisan itu justru kian jadi rebutan. Termasuk di negara yang begitu getol mempersoalkan sisi buruk batu bara.

Kian disadari bahwa tenaga angin sulit diandalkan: angin-anginan. Kadang angin terlalu kencang – merusak kincir. Lebih sering lagi: tidak ada angin. Padahal Anda  tidak bisa diberi pengumuman jenis ini: maafkan listrik mati karena lagi tidak ada angin. Lalu Anda pun melongok ke luar jendela: oh iya daun-daun pun tidak bergoyang.

Memang terus ditemukan bilah-bilah ajaib. Di kecepatan angin 1 m/menit pun bilah kincir sudah bisa memutar.

Ditemukan juga kincir susun. Satu tiang bisa dipasangi banyak kincir. Ada lagi cara-cara lain dalam menempatkan kincir. Atau model baru kincir. Tapi belum satu revolusi. Efisiensi pembangkit tenaga angin tetap saja masih jauh dari memadai: sekitar 16 persen.

Masih harus ditunggu: lahirnya teknologi baterai yang kapasitas besar dengan harga murah. Ketika angin kencang hasil listriknya disimpan. Dipakai ketika lagi tidak ada angin.

Demikian juga solar cell: menunggu baterai itu. Ia menyimpan hasil listrik dari matahari di waktu siang untuk digunakan malam hari.

Tenaga air, Anda sudah tahu : investasinya begitu besar. Lokasinya hampir selalu di pegunungan. Ancaman longsor menghantui investor. Juga ancaman rusaknya lingkungan: volume air menurun dari tahun ke tahun. Belum lagi pendangkalan sungai dan waduk. Perambahan penduduk.

Semua jenis pembangkit non batu bara belum ada yang bisa menggantikan batu bara – reliability maupun harganya. Pun di kala harga batu bara sudah di atas langit sekarang ini.

Dan Jepang memilih menghidupkan kembali 14 reaktor nuklirnya. Tidak perlu investasi: barangnya sudah ada. Tidak perlu bahan bakar: stocknya masih cukup untuk puluhan tahun. Tidak perlu membangun transmisi: semua sudah tersedia.

Atau tetap hemat listrik sampai menderita, sambil terus memberikan utang kepada kita yang suka memboroskannya. ( Dahlan Iskan )

Komentar Pilihan Dahlan Iskan di Tulisan Berjudul Siaran Omni  

rid kc

Baru tahu dibalik digitalisasi tv. Ternyata begitu hemat luar biasa terhadap frekuensi dengan digitalisasi tv. Semoga dengan adanya digitalisasi tv kualitas internet kita menjadi bagus dan kecepatannya luar biasa. Ironisnya digitalisasi tv dikuasai pemain besar pertelevisian sehingga yang kecil menjadi korban. Tv lokal harus menyewa ke bos tv besar. Saru sisi pemerintah untung satu sisi tv lokal buntung. Betawa saya belum pernah lihat perbedaan antara tv analog dan digital soale tv saya tv android yang langsung akses internet. Adakah yang bisa menjelaskan perbedaan tv analog dan tv digital?

 

Achmad Karni

Sebagai contoh 10 MHz frekuensi bisa dipakai melayani jutaan pelanggan seluler. Sedang untuk penyiaran analog 8 MHz hanya untuk 1 lembaga penyiaran TV.. Gak sangka ternyata ini yg bikin internet maju. Kok bisa negara kalah sama juragan TV dalam jangka lama. Duh Indonesia ku

 

thamrindahlan

Siaran TV merupakan hiburan murah rakyat kecil. Kualitas tontonan bersih dan jernih. Tidak ada semut buram bergerak di layar tv. Nonton bola bareng menjadi lebih seru sembari teriak teriak ketika terjadi Gol. Inilah hiburan rakyat yang wajib pula diikuti PLN agar tidak ada lagi giliran braay pet. Kabupaten amuaro Jambi.. Salamsalaman.

 

Jhelang Annovasho

Saya banyak belajar tantang frekuensi, bandwidth, antena, dan hal-hal di sekitar itu ketika berkuliah di ITS. Terutama bisa mengenal tokoh-tokohnya seperti Dr. Yono Hadi, atau Prof. Gamantyo yang saat jadi guru besar usianya baru 37 tahun itu. Kebijakan ini memang bagus, dan saya rasa sudah pas bila penerapannya sekarang, bukan 15 tahun yang lalu. Di sekitar Bojonegoro, anak muda di bawah 20 tahunlah yang meminta uang untuk membeli STB. Kemudian mereka mengatur jack RCA, lalu scanning channel. Empat bulan yang lalu, rata2 dapat maksimal 15 channel TV. Itu 3 MUX. Hari2 ini sudah mencapai 20-an channel, sekitar 5 MUX. Kalau mau disimpulkan, anak muda lah yang memang jadi agen perubahan digital di negara ini. Mula-mula lewat Mobile Legend, TV digital kemudian.

 

Lukman bin Saleh

Kalau masyarakat desa d tempat saya. Sudah sangat lama terbiasa menggunakan STB. Sejak sekitar 27 tahun yg lalu. Malah mereka menyebut STB sebagai digital. Malah bnyak yg terbiasa ganti STB setiap 4 tahun sekali. Saat piala dunia d gelar. Krn lain2 STB yg bisa menangkap sinyal siarannya. Makanya perubahan ini tidak berasa bg kami. TV dg antena analog hanya bisa d kota provinsi atau kabupaten. Atau tempat2 tertentu. Itupun chanelnya sangat terbatas. Kualitas buruk pula. Beda dg kami d desa2. Chanelnya seabreg2. Dr lokal, Nasional, sampai internasional. Krn menggunakan digital. Saya ingat. Teman2 saat itu sering menonton tv Prancis. Terutama jika orang tuanya sdg tdk d rumah. Berharap ada adegan bocil+. Yg tentu sj tanpa sensor...

 

bagus aryo sutikno

Gak keren blass. Harus'e kalo persebaya kalah, tivi'nya dihantam kursi. Baru mantap. Ya minimal dibanting ke lantai'lah. Githu, baru seru

 

Komentator Spesialis

Salut mas. Di rumah juga sama. TV sudah 10 tahun lebih nggak dihidupkan. Karena isi siaran TV swasta lokal, kontennya banyak yang tidak mendidik. Termasuk iklannya sangat lebay. Paling cuman seputar berita artis dan nyanyian. Sebagai ganti, saya sediakan konten konten pendidikan dan agama yang dengan mudah diakses melalui internet. Bahkan anak anak saya sekolah online sebelum pandemi.

 

bagus aryo sutikno

Omong2 tentang TV, saya sudah meng-OFF TV sejak 2012. NO TV di rumah. HARAM. Iklannya, duch, mendidik ndak bener ke anak. Sesekali boleh donk saklek ke product technologi.

 

Yayat Ruhiyat

Dalam masa percobaan ini kebanyakan signal tv terlalu lemah sehingga tampilan tdk stabil (area cilegon dan kab. Serang)

 

Jimmy Marta

UU no 32/2002 tentang penyiaran amanatnya menyatakan yg boleh berjaringan nasional hanya tvri dan rri. Sejak itu banyak tumbuh tv2 lokal. Langkah antisipasi sembari berharap akan diajak kerjasama untuk jaringan ke daerah2. Tentu saja harapan ada bagi2 kue iklan. Kenyataannya implementasi dari uu itu mandul. Permen sbg aturan turunannya dibuat tak bergigi bahkan kalah gugatan. Tv swasta itu sudah invest banyak untuk jaringan pemancar didaerah. Siapa mereka anda sudah tahu. Selama dua puluh tahun mereka menang. Tv2 lokal yg dahulu terlanjur menjamur pd lelah dan sakit. Berguguran satu demi satu. Kerjasama yg diharap hancur musnah. Pengelola tv swasta yg besar itu punya solusi sendiri. Kewajiban bersiaran lokal disiasati konten lokal selama dua jam perhari. Disiarkan saat anda semua terlelap. Disebut jam hantu... huhu..

 

Komentator Spesialis

Di era digitalisasi informasi, yang ada bukan akan eksis bukan pemilik stasiun TV. Tetapi, pemilik konten siaran. Karena orang akan melahap menu kontennya, bukan stasiun TV nya. Contohnya, ketika acara ILC diberangus dari TVOne yang alasannya anda sudah tahu sendiri, bung Karni Ilyas meluncurkan channel ILC di youtube. Toh sama juga, viewer bukan mengalir ke TVOne, tetapi ke channel ILC Youtube. Pemasang iklan akan lebih rasional untuk mengejar target promosi yang dalam hal ini lebih terukur dan termonitor beriklan melalui internet daripada stasiun TV.

 

No Name

Mau nanya ini ah. Mumpung tidak out off topik. Ada hubungan-nya dengan dunia digital. Prospektus MTEL itu awal aktanya kok cuma 2 step. Step awal, modal sekitar 205 B. Tiba-tiba berubah jadi T pada step 2. Jumlah saham melebar. Harga dari 2280 ke 228?. "Dari tahun 1995-2021". Tidak ada catatan stock split, cuma mengeluarkan saham baru dari portepel. Lanjut, Telkom buy back apa gimana?. Ada perubahan komposisi soalnya. Terutama pemilik lama "TM Communication (HK) Limited", pas tak cari infonya lewat google sudah larut. Terus di jual lagi ke Citibank SG, terus INA masuk gitu iya?. "Ini nanya serius karena nggak paham. Terutama Telkom buy back di harga berapa?".

 

Dacoll Bns

Alhamdulillah TV yg dibelikan mertua saya 4 tahun lalu sudah support untuk menangkap digital broadcast tanpa STB, sekitar 2-3 bulan lalu sy coba2 untuk seqarch otomatis dan ternyata tertangkap 830 an channel. Alamak, banyak kali... Ternyata ada beberapa yg masih siaran percobaan (sepertinya TV lokal) dan beberapa yg loncat channelnya, jadi 830 itu cuma channel yg dipilih TV nya untuk broadcast... Cuma sayangnya kalau antena kena angin, channelnya langsung gelap gulita dan gak ada semut lagi kayak TV analog. Kualitas gambarnya memang top banget, bening kayak nonton pakai parabola jaman dulu , cuma masih ada stasiun TV nasional yg beberapa program siarannya masih aspek ratio tv tabung (4:3) jadinya tampilannya melar kalau dilihat di TV wide (16:9)

 

Juve Zhang

Abah Disway alumni Tempo, harus bangga Tempo buka berita ACT yg " revenue-nya" kelas kakap konon 750 milyar dan gaji direktur 250 juta wkwkwkwkwkw. Revenue seperti ini jelas kelas kakap mengingat Modal pokok hanya Baliho, iklan di medsos yg murah meriah. Supaya transparan suruh saja IPO go publik wkwkwkwkwk mungkin ada Komentator yg minat jadi Komisaris Independen nya gaji 100 juta wkwkkwkwk

 

Abdul Wahib

Rasanya bukan pak menteri yg menundukkan bos besar televisi. Tapi internet itu sendiri. Sdh lama bisnis televisi tergusur oleh yutub. Hanya generasi emak saya (60 tahun lbh usianya) yg tetap setia nonton televisi. Itupun hanya acara tertentu. Jadi, kalau skrg bos televisi pada nurut, karena mereka sdh kalah. Pasrah wae

 

Patrick Dimaya

di seluruh sumatera non ibukota provinsi sepertinya sama semua pak, senasib sepenanggungan.

 

Dahlan Batubara

Di Mandailing, Sumut, siapa yg punya tv pasti punya payung terbalik (parabola). Tak ada antena tulang ikan. Dari dulu begitu. Makanya tiap rumah pasti ada payung terbalik.

 

Djokher Djokhers

Zaman kecil dulu di bojonegoro, ayah kalau pasang antena TV ada dua jenis. Satu antena besar menghadap ke barat (untuk tangkap TVRI pusat/jakarta), satu antena kecil menghadap ke timur (tangkap siaran TVRI Surabaya). Yg kecil di atas, yang besar dipasang di bawah. Kedua antena dipasang di tiang bambu utuh; ujung bambu sampai bongkotan/bagian bawah bambu dipakai semua. Dibantu paman dan tetangga untuk merdirikan bambu tiang antena itu Teringat; pas petinju kita ellyas pical main, tv dikeluarin di halaman. Orang sekampung nonton.

 

Macca Madinah

Berdasarkan pengalaman pribadi di wilayah CIlebut Kabupaten Bogor, yang siaran digitalnya stabil dan bagus: TVRI (ada empat channel, termasuk TVRI World), Net-TV, TransTV-Trans7-CNNIna-CNBCIna, DAAITV, NusantaraTV. Yang tertangkap sinyalnya tapi angot-angotan: O-Channel, KompasTV, Indosiar, SCTV, Inspira, TVMu, kayaknya masih ada beberapa lagi. Yang belum pernah tertangkap sinyal digitalnya: TVONE, MNCTV, RCTI, METROTV. Kalau gak salah, beberapa stasiun kakap memulai gerakan minta ditunda (LAGI), dengan alasan memberatkan rakyat. Untung di artikel Abah dijelaskan, ternyata oh ternyata, alasan "rakyat" itu kedok. Semoga tetap jalan, karena emang buagus tenan, jadi inget pertama kali lihat siaran digital di negara jiran. Ampun deh endonesah-endonesah, ternyata banyak supir di belakang layar.

 

triyoga

:D memang lebih mudah mencari teman untuk susah bareng. Daripada sukses bareng. meskipun sama2 susah. Cuma beda ending saja

 

Yasin Ramadhani

Pemegang MUX yg besar itu sudah merasa tv lokal bukan ancaman lagi. Ancaman mereka adalah Youtube, Netflix dan aplikasi-aplikasi streaming. Itulah menurut saya kenapa mereka legowo dan baru sekarang digitalisasi baru bisa diterapkan.

 

Lukman bin Saleh

Mohon maaf. Dalam komentar sy sebelumnya d bawah, sy menyamakan STB dg receiver digital. Krn bntuknya sama. Mereknyapun sama. Trnyata beda. STB jauh lebih sederhana dan murah dr receiver digital. STB bukan receiver digital tanpa parabola spt yg saya kira. Ini semakin memperkuat dugaan. Terkatung2nya proses migrasi ke tv digital sebenarnya bukan hanya krn masalah biaya yg harus d keluarkan masyarakat. Tp lobi2 kuat pengusaha besar yg ingin mempertahankan monopolinya dalam usaha pertelevisian...

 

 

Pryadi Satriana

"Jancuk" bukan dari "Jan Cox", tapi dari kata "ancuk" yg berarti "bersetubuh" (dalam Purwadarminta 1939, Bausastra Jawa). Ditambahkan awalan 'di-' menjadi 'diancuk', ungkapan bernada 'pelecehan' thd lawan bicara. Dlm perkembangannya, mempunyai banyak 'varian', maknanya pun 'meluas', bahkan juga konotasinya menjadi 'baik' (amelioratif), bisa menjadi 'sapaan akrab'. Sebaliknya, ada kata yg 'nilai rasa'-nya (saya lebih suka memakai 'nilai rasa' daripada 'makna') menjadi 'jelek' terpengaruh kata yg mengikutinya, spt pada 'perempuan murahan', padahal 'perempuan' dari bentukan 'per-empu-an' ('yang dihormati'). Jadi, ndhak bener "jancuk" dari "Jan Cox." Wis ngono ae, Cuk.

 

Pryadi Satriana

Th 2019 di Surabaya, Forum Alumni Jawa Timur untuk Jokowi memberi gelar "Cak Jancuk" untuk Presiden Jokowi. Hal ini menimbulkan polemik, lha wong "Mas Joko" saka Surakarta (Solo) je ... . Kalau 'presiden Jancukers' Anda sudah tahu, he..he.. Salam. Salaam. Shalom. Rahayu.

LiangYangAn 梁楊安

Sehubungan dengan komentarnya Pak Agus Rudi Purnomo mengenai istilah "Jancuk" yang dikaitkan dengan nama pelukis "Jan Cox" yang tertulis pada Tank Belanda, maka perlu diimbangi dengan informasi dari sumber yang lain sebagai bahan perbandingan. Sepertinya kurang tepat Pak Agus, karena pada Pertempuran 10 November 1945 kita masih menggunakan Ejaan Lama (Ejaan Yang Disempurnakan mulai dipakai tahun 1972), sehingga tulisan "Jan Cox" pada tahun 1945 akan dibaca "Yan Koks" bukan Jancok. Perlu kajian Etimologi lebih lanjut untuk memastikannya (asal-usul kata Jancok tersebut). Terimakasih.

 

Ahmad Zuhri

Mau analog atau digital ga ada pengaruh ke saya, karena mmg tidak punya tv di rumah hihihi..

 

Komentator Spesialis

Dengan transformasi siaran digital dan konvergensi industri media, pada akhirnya urusan iklan, promosi dll.akan dikuasai raja internet seperti google dkk. Karena dibandingkan pasang iklan di media seperti TV, jauh lebih murah, sesuai target pasar, bisa ditracing dan terukur. Contoh simple ya iklan yang muncul di Disway ini. Artinya transformasi ke siaran digital ini akan menjadi lonceng kematian stasiun TV. Cepat atau lambat, namun pasti. Karena cost operasional sebuah stasiun TV terlalu besar. Sedang mereka kurang fokus memproduksi konten. Ditambah isi siaran yang monoton hanya seputar nyanyian, sinetron atau cerita artis. Selamat tinggal stasiun TV. Suatu saat tinggal menjadi kenangan kebesaranmu.  

Kategori :