Berbagai media dan netizen Malaysia mulai mempertanyakan mengapa timnas Indonesia begitu mendunia, sementara Malaysia masih berjuang untuk mendapatkannya.
"Saya datang untuk sepakbola, tapi sepertinya akan tinggal untuk makanan. Indonesia adalah surga," tutur Tom Dwier, seorang suporter asal Inggris yang juga content creator makanan.
Takbir toleransi dan euforia Idul Adha turut meramaikan stadion, karena pertandingan ini bertepatan dengan malam takbiran Idul Adha.
Suporter dari negara-negara Islam seperti Palestina, Malaysia, Brunei, hingga Pakistan turut meramaikan takbir akbar bersama suporter Indonesia di pelataran JBK, di mana panitia lokal bahkan menyiapkan tempat salat massal serta 10.000 nasi kebuli gratis sebagai simbol perdamaian dan persatuan antar bangsa.
GBK kini menjadi simbol diplomasi sepakbola global. Melihat seluruh fenomena ini, sejumlah diplomat negara-negara ASEAN menyatakan kekaguman mereka pada cara Indonesia membangun soft power melalui timnas.
Indonesia tidak sendiri lagi, karena saat peluit pertama berbunyi di JBK pada 6 Juni 2025, satu hal pasti, Indonesia tidak akan sendiri dari tribun.
Sorak-sorai lintas bahasa akan bersatu dalam satu nyanyian "Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku" dan saat Garuda mengibaskan sayapnya untuk meraih tiket Piala Dunia, dunia akan menyaksikan bahwa sepakbola bukan hanya permainan, ia adalah jembatan, ia adalah harapan.