JAKARTA, DISWAY.ID - Di setiap pertandingan tarkam (antar kampung), nama King Polo selalu mencuri perhatian.
Sosoknya kerap menjadi pusat sorotan, bukan hanya karena gaya bermainnya yang atraktif, tetapi juga karena kemampuan mengolah bola yang berada di atas rata-rata.
Skill individu, visi bermain, hingga mental bertanding King Polo sudah lama diakui para penikmat sepak bola kampung.
Meski kerap tampil dengan gaya nyentrik dan terkesan tengil, kualitas permainannya nyaris tak pernah diragukan.
Lantas, muncul pertanyaan klasik: mengapa pemain sekelas King Polo belum juga menembus Liga 1?.
BACA JUGA:Profil Lengkap Supriandi 'KING Polo', Gelandang Kreatif dan Si Raja Tarkam NTB
Bukan Soal Kualitas, Tapi Akses dan Sistem
Jawabannya bukan karena kurang kemampuan. Dunia sepak bola profesional tak selalu ramah terhadap talenta yang lahir dari turnamen lokal.
Mayoritas kompetisi yang diikuti King Polo masih berada di level Open Cup dan tarkam, ajang yang jarang menjadi pantauan langsung klub-klub elite.
Dalam sistem sepak bola modern, jaringan agen, relasi, dan eksposur memegang peran besar.
Tanpa akses tersebut, banyak pemain berbakat dari kampung yang akhirnya tetap berada di balik layar, meski memiliki kualitas setara pemain profesional.
BACA JUGA:Profil Lengkap Supriandi 'KING Polo', Gelandang Kreatif dan Si Raja Tarkam NTB
Belum lagi faktor non-teknis seperti pilihan hidup. Sebagian pemain tarkam, termasuk King Polo, memilih tetap dekat dengan komunitas, keluarga, dan tanggung jawab sosial di luar lapangan hijau.
King Polo Tetap Raja di Dunia Tarkam
Meski belum mencicipi panggung liga profesional, status King Polo di dunia tarkam tak tergantikan. Setiap kehadirannya selalu dinanti.
Lawan menghormatinya, penonton mengingat aksinya, dan panitia turnamen menjadikannya magnet utama.
Ia menjadi bukti bahwa mental juara, skill tinggi, dan kualitas bermain tidak selalu harus lahir dari akademi elite atau liga profesional.