BACA JUGA:Gempa Magnitudo 4,5 Guncang Bantul, Pengunjung Kafe Sempat Berhamburan Mengevakuasi Diri
Keberadaan sesar ini tak berdiri sendiri, ada juga sesar-sesar lainnya yang membentuk jaringan patahan aktif di wilayah Yogyakarta dan sekitarya, seperti Sesar Mataram yang baru terpetakan di tahun 2021.
Aktivitas pergeseran di sesar-sesar inilah yang sering kali menjadi salah satu sumber gempa yang dirasakan oleh masyarakat Yogyakarta.
Zona Subduksi Lempeng Indo-Australia
Penyebab utama yang sering membuat wilayah Jogja diguncang gempa adalah karena posisinya sendiri sangat dekat dengan zona subduksi lempeng Indo-Australia di Samuder Hindia.
Lempeng Indo-Australia ini bergerak menunjam ke bawah Lempeng Eurasia (atau Lempeng Sunda) dengan kecepatan yang signifikan, sekitar 50-75 mm per tahun.
Pergerakan lempeng yang terus-menerus ini menyimpan energi yang sangat besar.
BACA JUGA:Gempa M 4,5 Guncang Jogja Akibat Aktivitas Sesar Opak, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Ketika energi itu dilepaskan secara tiba-tiba, terjadilah gempa bumi yang cukup kuat.
Seperti gempa besar yang pernah terjadi di Yogyakarta pada 27 Mei 2006 dengan magnitudo 6,3 yang dipicu oleh aktivitas zona subduksi dan pergeseran Sesar Opak.
Adanya Aktivitas Gempa Tektonik dan Vulkanik
aktivitas vulkanik Gunung Merapi ternyata juga memengaruhi aktivitas seismik di wilayah tersebut.
Walaupun secara umum gempa tektoik bisa memicu aktivitas vulkanik, akan tetapi interaksi antara keduanya kerap jadi perhatian.
Laporan terbaru menunjukkan jika gunung ini masih berstatus Siaga Level III dengan aktivitas gugutan lava serta gempa hybrid yang tinggi.
BACA JUGA:Gempa M 4,5 Guncang Jogja Akibat Aktivitas Sesar Opak, BMKG: Tidak Berpotensi Tsunami
Walau tak secara langsung menyebabkan gempa di permukaan, aktivitas vulkanik intens dapat menambah kompleksitas dinamika geologi di Jogja.
Nah, gempa yang baru terjadi 27 Januari 2026 di dekat Bantul tersebut menjadi pengingat bahwa daerah Yogyakarta masih terus berada di area dengan kewaspadaan tinggi terhadap ancaman gempa bumi.
Posisi geografis yang unik dengan adanya aktivitas sesar aktif dan zona subduksi yang masih bergerak mengintai kawasan tersebut menjadikan Yogyakarta sebagai wilayah yang rentan terhadap aktivitas seismik.