JAKARTA, DISWAY.ID - Bagi banyak orang, membeli mobil bekas adalah jalan tengah antara kebutuhan dan kemampuan. Harganya lebih terjangkau, pilihannya beragam, dan bisa langsung digunakan tanpa harus menunggu lama. Namun, di balik kemudahan itu, ada satu hal yang kerap menghantui calon pembeli: risiko salah pilih.
Cerita tentang mobil bekas yang ternyata bermasalah bukan hal baru. Ada yang baru beberapa minggu dipakai sudah masuk bengkel, ada pula yang harus keluar biaya besar untuk perbaikan karena kondisi kendaraan tidak sesuai informasi awal. Situasi semacam ini masih sering terjadi dalam transaksi mobil bekas, terutama ketika pembeli terburu-buru mengambil keputusan.
Ketika Harga Murah Bisa Menjadi Jebakan
Godaan terbesar dalam membeli mobil bekas biasanya datang dari harga. Penawaran yang terlihat jauh lebih murah dari pasaran sering kali membuat calon pembeli lupa untuk bersikap kritis. Padahal, harga yang terlalu rendah kerap menyimpan cerita lain di baliknya.
Direktur OLXmobbi Agung Iskandar mengingatkan bahwa langkah awal yang tidak boleh dilewatkan adalah riset harga. “Pembeli perlu tahu harga pasar agar punya pembanding. Dari situ bisa terlihat mana penawaran yang wajar dan mana yang patut dicurigai,” ujarnya.
Dengan riset yang cukup, pembeli dapat menyaring pilihan sejak awal dan menyesuaikan kendaraan dengan anggaran serta kebutuhan penggunaan ke depan.
Jangan Terpukau Tampilan Luar
Setelah urusan harga, tahap berikutnya adalah melihat kondisi fisik kendaraan. Di sinilah banyak orang terkecoh. Mobil terlihat mengilap, bodi mulus, interior bersih, lalu dianggap aman. Padahal, tampilan luar belum tentu mencerminkan kondisi keseluruhan.
Pemeriksaan bodi, ban, dan lampu memang penting, tetapi yang tak kalah krusial adalah memastikan tidak ada bekas tabrakan berat atau kerusakan struktural. Kondisi eksterior sering kali memberi petunjuk bagaimana mobil tersebut dirawat oleh pemilik sebelumnya.
Dokumen Bukan Sekadar Formalitas
Masalah lain yang sering dianggap sepele adalah kelengkapan dokumen. STNK dan BPKB bukan hanya syarat administrasi, tetapi juga penentu legalitas kendaraan. Nomor rangka dan nomor mesin perlu dicocokkan untuk memastikan kendaraan tidak bermasalah secara hukum.
Mengabaikan aspek ini bisa berujung panjang. Mulai dari kesulitan balik nama hingga risiko hukum di kemudian hari. Karena itu, memastikan dokumen lengkap dan sesuai seharusnya menjadi prioritas, bukan formalitas belaka.
Test Drive: Saat Mobil Bicara Apa Adanya
Langkah terakhir yang kerap diabaikan adalah test drive. Padahal, justru di sinilah kondisi mobil sebenarnya bisa dirasakan. Suara mesin, respons pedal gas, kerja suspensi, hingga kenyamanan kemudi baru benar-benar terasa ketika mobil dijalankan.
Test drive membantu pembeli mengenali gejala yang tidak terlihat saat mobil diam. Getaran berlebih, suara aneh, atau tarikan yang tidak normal bisa menjadi sinyal awal adanya masalah.
Peran Platform dalam Mengurangi Risiko
Untuk mengurangi risiko tersebut, kehadiran platform dengan sistem inspeksi menjadi penting. Di OLXmobbi, misalnya, konsumen dapat memilih dari lebih dari 2.000 unit mobil yang telah melalui inspeksi dan sertifikasi oleh tenaga ahli.
Selain itu, tersedia fasilitas test drive dari rumah, garansi mesin dan transmisi hingga satu tahun, gratis perawatan hingga 30.000 kilometer atau 18 bulan, serta jaminan uang kembali selama tujuh hari. Rangkaian layanan ini dirancang agar proses jual beli mobil bekas tidak lagi menjadi pengalaman yang menegangkan.
Tidak Perlu Terburu-buru
Agung menekankan bahwa kesalahan terbesar dalam membeli mobil bekas adalah terburu-buru. “Mobil bekas itu soal kecocokan dan kesiapan. Kalau ragu, lebih baik tunda daripada menyesal,” katanya.
Pada akhirnya, membeli mobil bekas bukan soal mencari yang paling murah, melainkan yang paling masuk akal. Dengan riset, pemeriksaan menyeluruh, dan memilih jalur yang tepat, mobil bekas tetap bisa menjadi solusi mobilitas yang aman dan nyaman tanpa drama di belakang hari.