Ingat! Ini Risiko Terbesar Jika Anda Auto-pilot Gunakan AI

Sabtu 31-01-2026,19:21 WIB
Reporter : M Purwadi
Editor : Khomsurijal W

BACA JUGA:Jakarta Electric PLN Mobile Gilas Popsivo Polwan 3-0, Tutup Putaran Pertama Proliga 2026

Untuk itu, terdapat lima prinsip sederhana namun krusial yang dapat menjadi pegangan agar pemanfaatan AI tetap produktif tanpa terjebak pada shortcut thinking.

Pertama, mulai dari problem framing, bukan sekadar prompting.

Alih-alih langsung menulis perintah, penting untuk terlebih dahulu mendefinisikan masalah yang ingin diselesaikan. Tanpa kerangka yang jelas, AI memang bisa memberi jawaban cepat, tetapi sering kali bersifat umum dan dangkal.

Kedua, gunakan AI untuk menyusun struktur berpikir, bukan menghasilkan kesimpulan.

AI sangat membantu dalam merapikan alur, mengelompokkan ide, atau memetakan argumen. Namun, keputusan akhir tetap perlu diambil oleh pekerja sebagai pengguna yang memahami konteks dan dampaknya.

Ketiga, alihkan beban tugas berulang pada AI.

Banyak waktu kerja tersita untuk tugas berulang seperti merangkum dokumen atau menyiapkan draft awal.

BACA JUGA:Ratusan Hektare Sawah di Lebak Diasuransikan 2026

Dengan mengalihkan tugas-tugas ini ke AI, pekerja memiliki ruang lebih besar untuk melakukan analisis, menilai risiko, dan menyusun strategi.

Keempat, posisikan AI sebagai co-pilot yang bisa diajak berdialog.

Output AI sebaiknya dilihat sebagai bahan diskusi, bukan hasil akhir. Dengan menguji dan mempertanyakan kembali jawabannya, pekerja tetap memegang kendali sekaligus memperluas perspektif.

Kelima, akhiri setiap proses dengan human judgment.

Tahap akhir yang tidak dapat diambil alih oleh AI adalah penilaian pekerja terhadap dampak dan konsekuensi dari sebuah output, baik dari sisi akurasi, implikasi bisnis, maupun etika.

Pendekatan inilah yang menjadi benang merah diskusi NgobrAZ, bahwa AI bukan tentang siapa yang paling cepat mendapatkan jawaban, melainkan siapa yang paling mampu menjaga kualitas berpikir di tengah kemudahan teknologi.

“AI sering dianggap pintar karena jawabannya cepat. Padahal, nilai sebenarnya muncul ketika pekerja memahami cara membingkai masalah, menguji output, dan mengambil keputusan secara sadar,” tutup Abi Mangku Nagari. 

Kategori :