Banyak Alumni LPDP Pilih Berkarier di Luar Negeri, CERDAS: Tak Perlu Merasa Berutang ke Negara

Minggu 22-02-2026,14:41 WIB
Reporter : Moh Purwadi
Editor : Fandi Permana

JAKARTA, DISWAY.ID - Direktur Eksekutif Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji, merespons kasus unggahan WNI berinisial DS soal 'Cukup saya WNI, anak jangan' yang ramai belakangan. 

Menurutnya, banyak awardee beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) yang tidak merasa berutang kepada negara. Padahal, mereka kuliah atas biaya penuh dari negara. 

BACA JUGA:Firman Soebagyo Kritik Rencana Impor 105 Ribu Mobil Pikap India: Merusak Industri Dalam Negeri!

BACA JUGA:Jadwal Bioskop Trans TV Hari Ini 22 Februari 2026 Lengkap Sinopsis, Nonton Aksi Iko Uwais dan Tom Holland

Indra menyebut beasiswa LPDP hanya terkesan dibagi-bagikan tanpa ada ikatan yang jelas. Akhirnya, muncul kasus seperti DS yang tak memiliki tanggung jawab kepada negara.

"Akhirnya muncul kasus seperti ini: dapat LPDP, tapi jiwa tidak merasa memiliki tanggung jawab pada negara, karena tidak merasa berutang kepada negara," kata Indra dalam keterangannya, Minggu, 22 Februari 2026. 

"Proses seleksi juga kurang ketat. Bukan dipilih mereka yang benar-benar ingin membangun Indonesia dan berjuang untuk Indonesia," ucapnya.

Ia menyebut fenomena penerima LPDP tak kembali ke Indonesia, seperti kasus DS, terjadi sejak dulu. Menurut Indra, penerima beasiswa lebih memilih bekerja di luar negeri karena tak ada pekerjaan di Indonesia.

BACA JUGA:MUI Kritik Keras Kebijakan Produk AS Bebas Masuk RI Tanpa Sertifikasi Halal

"Sebenarnya kasus ini sudah lama terjadi. Sejak 30 tahun lalu, sejak saya kuliah (di Amerika Serikat), sudah banyak anak Indonesia yang mendapat beasiswa dari negara, tetapi memilih tidak kembali. Bahkan di tempat saya dulu ada yang berjualan gado-gado di Amerika. Karena di sana sebulan bisa mendapat USD5.000-6.000," ujar Indra.

Karena itu, Indra menyampaikan saran untuk perbaikan sistem beasiswa. Pemerintah harus mengikat penerima beasiswa dengan mempersiapkan pekerjaan yang akan mereka jalankan.

"Bandingkan dengan model beasiswa di luar negeri. Tidak pernah dilepas begitu saja. Dalam arti, karier mereka sudah dipikirkan. Kalau sekarang misalnya saya diberi LPDP untuk mengambil jurusan bisnis, meski sudah tanda tangan kontrak akan kembali, tapi kalau melihat peluang di luar negeri lebih baik, maka dia bisa saja memilih tinggal di luar negeri," katanya.

BACA JUGA:Polemik 'Cukup Saya WNI, Anak Jangan', Alumni LPDP Minta Maaf hingga Beasiswa Suami Disoal

Indra menyebut sistem ini sudah dipraktikkan di negara lain. Ia mencontohkan sistem beasiswa di Malaysia hingga Korea dengan mekanisme yang jelas.

"Padahal ini bukan hal sulit. Negara lain menerapkan model seperti itu. Teman saya dulu kuliah, orang dari Malaysia dan Korea, modelnya jelas. Mereka sudah tahu akan bekerja di mana, karena ilmunya memang dibutuhkan. Jadi tidak asal. Kalau di sini, yang penting punya ijazah," ucapnya.

Kategori :