Layanan tersebut dinilai membantu memperkuat ketahanan usaha sekaligus mempercepat peningkatan pendapatan.
Pendampingan yang dilakukan mentor juga berdampak pada penguatan manajemen usaha. Lebih dari 80 persen peserta dinilai memiliki kapasitas pengelolaan bisnis yang lebih baik, termasuk dalam perencanaan produksi dan pengelolaan keuangan.
Bahkan sekitar 85 persen peserta mengaku baru mendapatkan informasi mengenai cara mengoperasikan usaha secara lebih efektif melalui program tersebut.
"Pendampingan dari fasilitator membantu pelaku usaha meningkatkan kemampuan pengelolaan keuangan dan perencanaan produksi, sehingga kapasitas usaha mereka menjadi lebih baik," ujarnya.
Secara keseluruhan, program ini juga mencatat 80.734 pelaku UMK mulai mengaplikasikan pemasaran digital, 146.280 pelaku usaha mengakses sumber daya pelatihan dan modul pendampingan, serta 109.330 pelaku usaha menggunakan panduan keamanan siber untuk melindungi aktivitas bisnisnya.
Selain itu, sebanyak 126.498 pelaku UMK mengakses layanan keuangan seperti tabungan, QRIS merchant, dompet digital, dan asuransi.
Meski demikian, Glory mengakui pencapaian dalam penciptaan lapangan kerja baru masih terbatas. Evaluasi program menunjukkan hanya sekitar 5 persen peserta yang melaporkan pembukaan lapangan kerja tambahan, dengan rata-rata menyerap satu hingga tiga pekerja baru.
Ia menambahkan, pelatihan dan pendampingan juga berdampak pada peningkatan kepercayaan diri pelaku usaha.
"Dari pelatihan dan pendampingan yang diperoleh 63 persen usaha mikro dan kecil, mereka yakin bahwa kapasitas untuk membuat setiap keputusan bagi usaha mereka adalah hal yang baik untuk meningkatkan rasa percaya diri termasuk keyakinan mereka untuk menyisihkan dan memiliki dana darurat," jelas dia lebih lanjut