1.741 Sekolah Direvitalisasi Rp1,25 Triliun Pasca-Bencana di Sumatera

Selasa 03-03-2026,17:01 WIB
Reporter : Doddy Suryawan
Editor : Khomsurijal W

TANGERANG SELATAN, DISWAY.ID-- Peralihan fase darurat menuju pemulihan pendidikan di wilayah terdampak bencana Sumatera mulai menunjukkan progres.

Perwakilan Sekretariat Nasional Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Jamjam Muzaki, mengatakan mayoritas daerah di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatera Barat kini berada pada masa transisi darurat ke pemulihan layanan belajar.

Jamjam, menyebutkan bahwa dampak bencana terhadap pendidikan terbagi dalam tiga aspek utama, yakni kerusakan sarana prasarana, terputusnya akses sekolah, serta dampak sosial bagi guru dan siswa.

BACA JUGA:Densus 88 Tingkatkan Pengawasan Ancaman Terorisme di Tengah Eskalasi Global

Banyak ruang kelas rusak akibat banjir, longsor, hingga material kayu dan lumpur yang merendam buku, mebeler, serta perangkat pembelajaran.

Di sejumlah wilayah, jembatan putus membuat siswa dan guru sulit menjangkau sekolah," ujar Jamjam, di Tangerang Selatan (Tangsel), Senin, 2 Maret 2026.

Untuk menjaga keberlangsungan belajar, sekolah memanfaatkan fasilitas sementara seperti menumpang di gedung publik, musala, puskesmas, hingga mendirikan tenda darurat. SPAB telah mendistribusikan 168 tenda dan membangun 44 ruang kelas semi permanen.

Dari sisi bantuan, pemerintah menyalurkan 167 ribu buku pelajaran, school kit bagi siswa, serta tunjangan khusus bagi 36 ribu guru terdampak senilai Rp2 juta per bulan selama tiga bulan," katanya.

Dana BOS juga dipercepat pencairannya guna mendukung pembersihan dan pemulihan sekolah. Tahap rehabilitasi kini dikoordinasikan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana dan Badan Perencanaan Pembangunan Nasional.

BACA JUGA:Majelis Hukama Muslimin: Ketahanan Keluarga Fondasi Utama Peradaban

Hingga akhir Februari, tercatat 1.741 sekolah menandatangani perjanjian revitalisasi dengan nilai anggaran Rp1,25 triliun, dengan prioritas kerusakan ringan dan sedang sebelum tahun ajaran baru.

Selain infrastruktur, dukungan psikososial juga diperkuat melalui kerja sama dengan Himpunan Psikologi Indonesia untuk memulihkan trauma siswa dan guru.

Terakhir, kami mempunyai target utama pemulihan adalah memastikan proses belajar kembali normal, aman, dan lebih tangguh menghadapi risiko bencana di masa depan," pungkasnya.

Kategori :