JAKARTA, DISWAY.ID - Meski nilai tukar rupiah sempat bergerak menyentuh level 17.000 per dolar Amerika Serikat (USD) pada perdagangan awal pekan ini, ternyata Rupiah dinilai masih lebih tangguh dibanding mata uang lainnya di Asia.
Hari ini, Selasa 10 Maret 2026, Rupiah tercatat Rp16.894 per Dolar AS.
Data Bloomberg pada Senin 9 Maret 2026 menunjukkan pelemahan rupiah sepanjang Maret sejak meningkatnya konflik di Timur Tengah tercatat sekitar 1,09 persen.
Angka tersebut masih lebih rendah dibandingkan beberapa mata uang lain, seperti won Korea Selatan dan peso Filipina yang masing-masing tertekan hingga 3,62 persen pada periode yang sama.
BACA JUGA:Jaga Nilai Tukar Rupiah, BI Intervensi Transaksi NDF-DNDF di Tengah Gejolak Perang AS-Iran
Tekanan terhadap mata uang negara-negara tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran pasar global terhadap lonjakan harga minyak akibat eskalasi geopolitik.
Korea Selatan misalnya, selama ini dikenal memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor energi, terutama minyak.
Kondisi tersebut berbeda dengan Indonesia yang meskipun juga merupakan importir minyak, masih memiliki penopang dari sektor domestik yang kuat.
BACA JUGA:Komitmen Nyata! BRI Insurance Tuntaskan Klaim Alat Berat Miliaran Rupiah
Indonesia juga dikenal sebagai pengekspor berbagai komoditas energi dan sumber daya alam seperti batu bara dan kelapa sawit.
Kombinasi faktor ini membuat ekonomi Indonesia dinilai relatif lebih tahan terhadap gejolak global.
Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia (PAEI), David Sutyanto menilai tekanan terhadap rupiah saat ini lebih dipicu oleh sentimen global dibandingkan masalah fundamental dalam negeri.
BACA JUGA:Misbakhun Klaim Rupiah Menguat Usai Thomas Djiwandono Terpilih sebagai Deputi Gubernur BI
“Kalau melihat data terbaru justru menarik. Walaupun rupiah sempat mendekati 17.000 per USD, pelemahannya sepanjang bulan ini sebenarnya masih relatif moderat dibanding beberapa mata uang Asia lainnya yang juga tertekan oleh penguatan dolar global dan sentimen risk-off akibat ketegangan geopolitik serta lonjakan harga minyak,” ujarnya kepada Disway, pada Senin 9 Maret 2026.
Dalam hal ini, dirinya juga menambahkan bahwa tekanan terhadap mata uang negara berkembang saat ini lebih merupakan dampak dari shock global yang dialami banyak negara.