JAKARTA, DISWAY.ID - Pemerintah terus mendorong transformasi program bantuan sosial menjadi kekuatan ekonomi produktif masyarakat desa.
Salah satunya melalui kolaborasi Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih dengan Program Keluarga Harapan (PKH) yang kembali diluncurkan di Desa Gejugjati, Kecamatan Lekok, Kabupaten Pasuruan, Jawa Timur.
Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan, Kopdes Merah Putih diposisikan sebagai instrumen utama untuk menindaklanjuti program perlindungan sosial agar lebih berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Melalui koperasi ini, penerima manfaat PKH dan bantuan sosial lainnya diarahkan tidak hanya sebagai penerima bantuan, tetapi juga menjadi pelaku ekonomi," ujar Ferry, di Pasuruan, Jawa Timur, Selama, 10 Maret 2026.
BACA JUGA:24 Kode Redeem FC Mobile Hari Ini 11 Maret 2026, Borong Hadiah Gems hingga Pemain Baru!
BACA JUGA:Belift Lab Umumkan Heeseung Keluar dari ENHYPEN, Ini Alasannya
Ferry mengingatkan bahwa ketika penerima manfaat bergabung menjadi anggota koperasi, mereka akan memiliki akses terhadap berbagai layanan ekonomi, termasuk distribusi komoditas bersubsidi seperti pupuk dan gas LPG.
Selain itu, anggota juga berpeluang memperoleh Sisa Hasil Usaha (SHU) dari aktivitas ekonomi koperasi.
“Kalau semua penerima manfaat PKH dan sembako menjadi anggota Kopdes, ini dapat meringankan tugas pemerintah dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Ferry.
Dalam kegiatan tersebut juga dilakukan penyerahan simbolis kartu anggota Kopdes Merah Putih, buku simpanan keluarga penerima PKH, bantuan sembako, ayam petelur, serta dukungan modal usaha dari perbankan.
Sejumlah BUMN juga memberikan dukungan berupa pupuk non-subsidi, perangkat komputer, serta paket kebutuhan pokok.
BACA JUGA:Padang Panjang Siapkan Rekayasa Lalu Lintas dan One Way Lembah Anai, Cek Skenarionya
Ferry kembali menjelaskan, pembangunan gerai Kopdes Merah Putih saat ini terus dilakukan secara masif di berbagai daerah. Berdasarkan data PT Agrinas Pangan Nusantara, hingga kini telah dibangun sekitar 32 ribu gerai dan fasilitas pendukung, dengan lebih dari 2.200 unit telah selesai sepenuhnya.
Selain menjadi pusat distribusi kebutuhan masyarakat, koperasi desa juga diarahkan menjadi offtaker bagi produk lokal, mulai dari hasil pertanian, peternakan, hingga produk UMKM.