Pasalnya, mobilitas dan interaksi masyarakat cukup tinggi selama periode lebaran. Dengan begitu, Ani meminta agar masyarakat setidaknya mengurangi interaksi langsung dengan balita.
Pasalnya, anak usia balita masuk dalam kelompok rentan tertular campak.
BACA JUGA:Dorong 1 Juta Peluang Kerja, Jobstreet Hadirkan Fitur Basic Talent Search Berbasis AI
BACA JUGA:Hadiri Buka Puasa Bersama TNI–Polri, Dirut BULOG: Perkuat Sinergi untuk Stabilitas Nasional
"Kelompok paling rentan adalah anak-anak. Jadi bayi dan anak-anak harus kita jaga benar. Salah satu pesannya adalah jangan suka memegang atau mencium anak-anak, terutama yang masih bayi dan balita, karena daya tahan tubuhnya masih sangat rentan,"ujar Ani pada Rabu, 11 Maret 2026.
Untuk mencegah penularan virus Campak, Dinkes DKI terus melakukan pemantauan dengan cara mengumpulkan data-data (surveilans) terhadap masyarakat yang mengalami gejala awal.
Ani memastikan hingga kini belum ditemukan kasus Campak di Jakarta.
"Campak saat ini di Jakarta belum ditemukan ada yang positif. Jadi kami melakukan pemantauan dengan melakukan surveilans," kata Ani.
Dinkes pun telah menunjuk fasilitas kesehatan (faskes) sebagai lokasi pengumpulan data Influenza Like Illness (ILI) dan Severe Acute Respiratory Infection (SARI).
Jika dari hasil pengumpulan data ditemukan gejala, selanjutnya akan dilakukan pemeriksaan di laboratorium.
BACA JUGA:Menkes Budi Gunadi Sebut Tren Korupsi Sektor Kesehatan Picu Harga Obat Mahal
BACA JUGA:Syarat Klaim Saldo DANA Gratis Rp421.000 Hari Ini 12 Maret 2026, Cek Lewat Fitur DANA Kaget!
"Sejauh ini untuk domisili di Jakarta belum ada (positif Campak)" ujarnya.
Meski di Jakarta terbilang aman, namun kasus positif Campak sudah ditemukan di daerah penyangga Ibu Kota.
Dari itu dia mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap penularan virus Campak.
"Daerah di sekitar Jakarta memang sudah mulai ada. Jadi ini tetap menjadi kewaspadaan kita sama-sama," pungkasnya.