Di samping akan menambah kebencian dan dendam di dalam hati, doa keburukan yang dipanjatkan bisa membahayakan orang yang berdoa itu sendiri, yaitu jika ternyata yang didoakan dengan doa jelek tersebut adalah orang yang tidak layak didoakan dengan doa jelek, maka panjatan doa tersebut adalah kezhaliman yang nyata. Dan hal itu yang akan menjadi sebab kejelekkan doa tersebut dikembalikan kepada orang yang memanjatkan doa itu sendiri.
Akan tetapi, jika berdoa dengan doa kebaikan, di samping akan menjadikan hati bersih, ternyata ada janji dari Allah bahwa Allah akan terlebih dahulu memberi
kepada orang yang telah mendoakan sesuai dengan apa yang dipanjatkannya.
Setelah itu, untuk mengetahui apakah masih ada dendam di dalam hati atau tidak, tengoklah ke dalam hati kita masing-masing setelah berdoa.
Sudahkah kita bisa dengan penuh kelegaan mendoakan orang-orang yang bermasalah dengan kita dengan doa-doa kebaikan? Jika belum bisa merasakan hal tersebut, maka pasti hati kita masih menyimpan sisa-sisa kekotoran dendam.
Jika demikian, tengoklah kembali hati kita masing-masing, apa yang kita mengerti dan rasa tentang mencintai Nabi Muhammad. Kalau memang kita mengaku cinta kepada Nabi, sadarilah bahwa orang yang kita benci tersebut adalah umat Nabi .
Apakah sah rumus cinta kita kepada Nabi dipertemukan dengan rumus benci dan dendam kepada umat Nabi ? Sementara Baginda Nabi setiap malam mendoakan umatnya agar senantiasa dalam keadaan baik-baik dan selamat kelak di akhirat.
3. Lebaran, Momentum Perkuat Kesalehan Vertikal-Horizontal
Oleh: H. Muhammad Faizin, Sekretaris MUI Provinsi Lampung
Jamaah shalat Idul Fitri rahimakumullah,
Di awal pagi yang suci ini, di mana mentari bangun menebarkan sinarnya, menyinari bumi dengan kehangatan dan keindahan yang tiada tara. Sinar mentari pagi 1 Syawal 1445 H menyapu segala sudut, memancarkan asa kehidupan yang menyejukkan hati dengan kedamaian.
Langit bersemi takbir yang gemuruh, merayakan kemenangan yang telah dinantikan. Suara takbir itu melambung tinggi, menembus awan-awan putih, memancar ke langit, menandai awal dari hari yang penuh berkah, Idul Fitri, hari kemenangan setelah perjuangan menempa diri menguatkan keimanan dan ketakwaan.
Di pagi ini, kita merasakan getaran sukacita yang mengalir dari hati ke hati. Suara takbir yang menghiasi langit, menggema dalam jiwa yang bersukacita, memenuhi ruang dengan rasa syukur dan kegembiraan.
Inilah pagi yang istimewa, di mana bumi bersukacita, langit bersorak riang, dan hati kita bergetar syukur tak terhingga. Mari kita sambut dengan hati yang terbuka, dengan senyuman yang tulus dan komitmen untuk terus menjadi insan yang patuh pada perintah Allah dan komit meninggalkan larangan-larangan-Nya.
Ma'asyiral muslimin wal muslimat, jama'ah shalat Idul Fitri yang dimuliakan Allah
Idul Fitri atau yang sering disebut sebagai Lebaran bukan hanya sekedar tentang memenuhi kebutuhan jasmani dengan pakaian baru dan berbagai hidangan lezat aneka warna. lebih dari itu, Lebaran adalah momen refleksi dan introspeksi. Momentum ini memanggil kita untuk merenungkan pencapaian spiritual selama bulan suci Ramadhan yang telah berlalu.
Pada bulan Ramadhan, kita telah berjuang menguatkan kesalehan vertikal kita kepada Allah SWT dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya. Puasa, shalat tarawih, tilawah Al-Qur'an, dan berbagai amalan ibadah lainnya telah menjadi bagian dari rutinitas harian kita. Melalui ketaatan ini, kita berupaya mendekatkan diri kepada Sang Khalik, menguatkan iman, serta memperbaiki hubungan kita dengan-Nya untuk menjadi orang yang bertakwa.