JAKARTA, DISWAY.ID– Klaim bombastis Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, mengenai sajian "Bintang 5" dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) akhirnya terjawab.
Istilah yang sempat memicu ekspektasi tinggi di masyarakat tersebut nyatanya bukan merujuk pada standar hotel mewah atau sentuhan koki ternama, melainkan sekadar bahasa kiasan untuk pergeseran angka di atas kertas anggaran.
Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Dapur Rahayu, Fariz Alaudin, meluruskan simpang siur pernyataan pimpinan BGN tersebut.
BACA JUGA:Bos BGN Beri Isyarat akan Efisiensi Anggaran Program MBG, Kenapa?
Menurutnya, publik perlu memahami duduk perkara istilah "Bintang 5" agar tidak terjadi salah tafsir di lapangan.
"Bintang 5 itu mungkin sebagai konotasi bahwasanya ini adalah pemaksimalan anggaran. Intinya, porsi yang dulunya terbatas di angka Rp10.000, sekarang dinaikkan menjadi Rp15.000," ungkap Fariz saat dikonfirmasi, Jumat (20/3).
Fariz blak-blakan menceritakan kondisi di balik dapur pelayanan. Sebelumnya, pihak SPPG sering kali merasa kesulitan alias "tercekik" saat harus menyusun komposisi menu sehat dengan plafon dana hanya Rp8.000 hingga Rp10.000 per porsi.
Dengan adanya tambahan Rp5.000, pihak dapur baru bisa sedikit "bernapas" dan melakukan inovasi menu yang lebih layak bagi para siswa. Namun, ia menekankan bahwa inovasi tersebut tetap berpijak pada realita kebutuhan gizi harian, bukan kemewahan visual.
BACA JUGA:BGN Sanksi 1.251 SPPG, 1.030 SPPG Resmi Disuspend
"Dengan plafon baru ini, kita bisa lebih leluasa. Jika dulu sangat terbatas, sekarang kita bisa memberikan porsi yang lebih manusiawi dan bergizi," tambahnya.
Di Dapur Rahayu, manifestasi dari anggaran "Bintang 5" tersebut diwujudkan dalam peningkatan kualitas dan kuantitas komponen makanan.
Bukan truffle atau wagyu, melainkan penambahan jumlah protein nabati dan produk pendamping yang memiliki nama di pasaran.
Komposisi Menu "Istimewa" ala Dapur Rahayu:
- Protein Hewani: Ayam ungkep dengan bumbu meresap.
- Protein Nabati: Tahu dan tempe sebanyak tiga potong.
- Produk Pendamping: Menggunakan roti bermerek (Sari Roti) dan susu ukuran satu liter.
"Itu adalah langkah nyata kita untuk menjaga dan mengembalikan citra BGN di mata masyarakat. Kita upayakan yang terbaik dengan dana yang ada agar anak-anak mendapatkan gizi yang optimal," tegas Fariz.
BACA JUGA:Pegawai SPPG Dipecat Gegara Lontarkan 'Rakyat Jelata', Nanik S. Deyang Buka Suara