Limbah Sawit Jadi Sumber Energi dan Cuan, Akademisi UI Dorong Model Terintegrasi

Senin 30-03-2026,13:46 WIB
Reporter : Nungki Kartika Sari
Editor : Khomsurijal W

JAKARTA, DISWAY.ID-- Pemanfaatan limbah kelapa sawit dinilai tidak lagi cukup sebatas menjual bahan mentah, tetapi harus didorong menuju pengolahan bernilai tambah.

Dengan strategi yang tepat, limbah sawit berpotensi menjadi sumber energi terbarukan sekaligus meningkatkan pendapatan petani dan pelaku usaha kecil.

Pengamat lingkungan Dr. Ir. Mahawan Karuniasa, MM., menegaskan, potensi limbah sawit sangat besar jika dikelola melalui proses yang terintegrasi.

BACA JUGA:Nestapa Warga Bantaran Rel Senen: Tak Dapat Bansos, KJP Anak Pun Diputus

Menurutnya, nilai tambah tidak hanya berasal dari limbah itu sendiri, tetapi dari produk hasil olahannya seperti energi, pupuk, hingga material industri. “Yang penting bukan lagi menjual limbah mentah, tetapi ada proses pengolahan sehingga menghasilkan produk dengan nilai ekonomi lebih tinggi,” ujarnya.

Mahawan menjelaskan, strategi utama yang perlu didorong adalah integrasi pengelolaan limbah di tingkat pabrik.

Salah satu fokusnya adalah pengolahan limbah cair atau palm oil mill effluent (POME) yang selama ini masih banyak ditempatkan di kolam terbuka.

Ia menilai metode tersebut perlu digeser ke sistem digester anaerob tertutup. 

Dengan sistem tertutup, gas metana dari POME dapat ditangkap dan dimanfaatkan sebagai biogas. Selain menekan emisi gas rumah kaca, energi yang dihasilkan juga bisa digunakan untuk kebutuhan internal pabrik, seperti bahan bakar boiler atau pembangkit listrik melalui genset.

“Kalau metana dibiarkan lepas, itu menjadi emisi gas rumah kaca yang besar. Padahal bisa dimanfaatkan menjadi energi,” jelasnya.

Selain POME, Dosen Lingkungan Universitas Indonesia ini menjelaskan, limbah padat seperti serat dan cangkang sawit juga dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan bakar boiler.

BACA JUGA:Teknologi Pengolahan Sampah Jadi Kunci Atasi Krisis Lingkungan

Sementara tandan kosong yang dikeringkan bisa diolah menjadi pellet biomassa untuk kebutuhan co-firing pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

Menurut Mahawan, integrasi ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga mampu menekan biaya operasional pabrik secara signifikan karena energi dipasok dari limbah sendiri.

Di sisi hulu, ia menekankan pentingnya model bisnis berbasis koperasi atau klaster desa untuk petani dan UMKM. Skema ini dinilai paling realistis mengingat keterbatasan modal jika harus membangun fasilitas pengolahan secara mandiri.

Kategori :