Selat Hormuz dan Uranium Jadi Tameng, Iran Tolak Tekanan AS di Meja Perundingan

Minggu 12-04-2026,16:52 WIB
Reporter : Marieska Harya Virdhani
Editor : Marieska Harya Virdhani

JAKARTA, DISWAY.ID - Iran tetap bersikukuh mempertahankan kendali atas Selat Hormuz dan persediaan uranium yang diperkaya tinggi dalam perundingan intensif dengan Amerika Serikat, meski mendapat tekanan kuat untuk melonggarkan posisinya. Kebuntuan ini menjadi penyebab utama gagalnya kedua pihak mencapai kesepakatan gencatan senjata permanen setelah lebih dari 20 jam negosiasi tingkat tinggi yang berlangsung alot dan penuh ketegangan.

Dalam beberapa hari menjelang pembicaraan, kedua pihak mengeluarkan pernyataan publik yang menunjukkan bahwa mereka masih sangat berbeda pandangan dalam sejumlah isu penting.

Mereka bahkan tidak sepakat apakah gencatan senjata dua minggu yang dicapai pada 7 April juga berlaku untuk pertempuran di Lebanon, sebuah perselisihan yang hampir menggagalkan pertemuan tersebut dilansir dari Straits Times. 

BACA JUGA:Selat Hormuz Tak Kunjung Dibuka, Bahlil Ungkap Kondisi Real Stok LPG

Hingga awal 11 April, tiga poin utama masih menjadi ganjalan, menurut dua pejabat Iran yang mengetahui jalannya pembicaraan: pembukaan kembali Selat Hormuz; nasib hampir 900 pon uranium yang diperkaya tingkat tinggi; serta tuntutan Iran agar sekitar 27 miliar dolar AS (sekitar 34,39 miliar dolar Singapura) dana yang dibekukan di luar negeri dicairkan.

Amerika Serikat menuntut agar Iran segera membuka kembali selat tersebut untuk semua lalu lintas maritim.

Namun Iran menolak melepaskan kendali atas jalur penting bagi tanker minyak itu, dan mengatakan hanya akan melakukannya setelah kesepakatan damai final tercapai, menurut dua pejabat Iran yang berbicara dengan syarat anonim karena membahas negosiasi sensitif.

Iran juga meminta kompensasi atas kerusakan akibat enam minggu serangan udara dan meminta agar pendapatan minyak yang dibekukan di Irak, Luksemburg, Bahrain, Jepang, Qatar, Turki, dan Jerman dicairkan untuk rekonstruksi, kata para pejabat tersebut.

BACA JUGA:Dunia Panik Selat Hormuz Ditutup, Prabowo: Indonesia Punya Keunggulan Lebih Besar

Amerika menolak permintaan-permintaan itu.

Titik perselisihan lainnya adalah tuntutan Presiden Donald Trump agar Iran menyerahkan atau menjual seluruh persediaan uranium yang hampir mencapai tingkat senjata nuklir.

Iran mengajukan proposal balasan, tetapi kedua pihak tidak berhasil mencapai kompromi, kata para pejabat tersebut.

“Ketika dua tim serius dengan niat mencapai kesepakatan duduk bersama, hasilnya harus saling menguntungkan. Tidak realistis jika berpikir kita bisa keluar tanpa membuat konsesi besar; hal yang sama juga berlaku bagi pihak Amerika,” ujar Mehdi Rahmati, seorang analis di Teheran, dalam wawancara telepon.

BACA JUGA:AS-Iran Sepakati Gencatan Senjata, Selat Hormuz Dibuka: Harga Minyak Turun?

Meskipun pertemuan berakhir tanpa kesepakatan, fakta bahwa pertemuan itu terjadi merupakan tanda kemajuan.

Kategori :