BACA JUGA:Jalur 6-8 Stasiun Bogor Ditutup Sementara, Mulai Hari Ini Pengguna KRL Naik Turun di Jalur 2-5
"Ini bukan ajaran gereja, melainkan distorsi makna yang muncul dalam situasi konflik. Fenomena ini menunjukkan bahwa ketika identitas kolektif terancam, bahasa keagamaan dapat berubah menjadi alat pembenaran kekerasan," tuturnya.
Selain itu, Jacky juga menyinggung banyak kajian akademik yang telah lama mengingatkan ihwal potensi koruptif agama dalam situasi konflik.
Ia menyebut kajian akademik itu adalah Charles Kimball dalam When Religion Menjadi Evil mengidentifikasi lima komponen utama yang dapat menyebabkan agama tergelincir menjadi sumber legitimasi kekerasan.
Selain itu, Mark Juergensmeyer dalam Terror in the Mind of God menjelaskan bagaimana kelompok radikal membingkai konflik duniawi sebagai “perang kosmis” antara kebaikan dan kejahatan.
Sementara René Girard dalam Violence and the Sacred menunjukkan bagaimana kekerasan dapat melekat pada struktur sosial dan keagamaan melalui mekanisme pengorbanan.
BACA JUGA:Update Informasi Prakiraan Cuaca Jakarta Rabu, 15 April 2026: Waspada Jakut Hujan Deras!
"Dari perspektif ini, pernyataan Jusuf Kalla tentang mudahnya agama digunakan sebagai alasan konflik memiliki dasar yang kuat," ungkapnya.
Namun, ia tetap menyatakan penyamaan konsep kesyahidan dalam Islam dan Kristen sebagai legitimasi untuk membunuh merupakan penyederhanaan yang tidak tepat secara teologis.
"Namun, penyamaan konsep kesyahidan dalam Islam dan Kristen sebagai legitimasi untuk membunuh merupakan penyederhanaan yang tidak tepat secara teologis," imbuhnya.
"Yang terjadi di lapangan bukanlah ajaran agama yang mendorong kekerasan, melainkan penyimpangan makna agama oleh para aktor yang terlibat dalam konflik," sambungnya.
Menurutnya, pengalaman Poso dan Maluku menjadi pembelajaran bagi kita bahwa agama dapat menjadi korban dari situasi sosial-politik yang memburuk.
BACA JUGA:BNPP RI Tingkatkan Daya Saing Tenun Ikat Belu dan UMKM Perbatasan di PLBN Motaai
"Ketika ketidakadilan, ketakutan, dan trauma kolektif bertemu dengan simbol-simbol keagamaan, makna-makna suci dapat berubah menjadi pembenaran destruktif. Pentingnya literasi agama, kepemimpinan moral, dan narasi masyarakat yang jernih," paparnya.
Ia menekankan bahwa pernyataan Jusuf Kalla membuka ruang refleksi yang perlu dirawat.
"Bukan untuk menyalahkan agama, tetapi untuk memahami bagaimana agama dapat diselewengkan dalam situasi konflik,” pungkasnya.