JAKARTA, DISWAY.ID - Pekerja kantoran rentan mengalami Penyakit Jantung Koroner (PJK) karena overwork, kurang aktivitas fisik, dan kerap abai memeriksakan kesehatan, hingga akhirnya PJK muncul tanpa disadari.
Karena itu, skrining jantung sejak dini penting dilakukan supaya kesehatan tetap terjaga dan tetap bisa produktif bekerja.
BACA JUGA:Mayapada Healthcare Hadirkan LMWC, Solusi Deteksi Dini Lonjakan Kasus Penyakit Liver
PJK terjadi akibat penyempitan pembuluh darah jantung akibat penumpukan plak. Skrining jantung dapat mendeteksinya lebih dini, terutama pada usia produktif hingga di atas 40 tahun dengan faktor risiko seperti riwayat keluarga, hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, obesitas, dan merokok.
dr. Liemena Harold Adrian, Sp.JP, FIHA dari Mayapada Hospital Surabaya menjelaskan, “Skrining jantung meliputi pemeriksaan gula darah, kolesterol, rekam jantung (EKG) hingga treadmill test untuk mendeteksi gangguan jantung saat beraktivitas. Ekokardiografi atau USG jantung juga dilakukan untuk menilai struktur dan fungsi jantung dan mendeteksi gangguan katup jantung.”
Selain itu, ada pula pemeriksaan CT Calcium Score Jantung untuk melihat adanya plak yang mengeras di arteri koroner, dalam bentuk skor. Semakin tinggi skor, semakin tinggi kadar plak koroner yang mungkin terdeteksi.
BACA JUGA:Kolaborasi Klinis Mayapada Healthcare dan Apollo Hospitals India Kian Matang
Selanjutnya, dapat dilakukan pemeriksaan CT Scan Jantung dengan teknologi pencitraan non-invasif untuk melihat gambaran pembuluh arteri koroner secara jelas dan mendeteksi derajat sumbatan yang terjadi.
Lebih lanjut, menurut dr. Jeffrey D. Adipranoto, Sp.JP (K), FIHA, FESC, FSCAI di Mayapada Hospital Surabaya diagnosis PJK dapat dilakukan dengan kateterisasi jantung atau Coronary Angiography (CAG) yang masih menjadi golden standard.
“Pemeriksaan CAG adalah tindakan invasif menggunakan x-ray dengan memasukkan kateter melalui pembuluh darah tepi, seperti di tangan atau pangkal paha untuk melihat seberapa berat penyumbatan pembuluh arteri koroner yang terjadi,” jelasnya.
Apabila hasil CAG menunjukkan adanya sumbatan melebihi 70 persen, dilakukan tindakan Percutaneous Coronary Intervention (PCI). “Prosedur ini melibatkan penggunaan balon dan pemasangan stent untuk membuka pembuluh darah koroner yang tersumbat agar aliran darah kembali normal,” tambahnya.
Namun, jika sumbatan pembuluh darah jantung terjadi di banyak titik, atau tidak cocok untuk dilakukan pemasangan stent, maka kondisi ini dapat ditangani melalui tindakan Coronary Artery Bypass Graft (CABG) atau Bypass Jantung, untuk membuat ‘jalan baru’ di sekitar pembuluh darah yang menyempit, agar aliran darah kembali lancar, dan otot jantung tetap mendapat oksigen dan nutrisi.
Dr. dr. Yan Efrata Sembiring, Sp.B, Sp.BTKV, Subsp VE (K) di Mayapada Hospital Surabaya menjelaskan, “Bypass jantung dilakukan dengan mengambil pembuluh darah dari bagian tubuh lain, seperti arteri di dada atau tangan, maupun vena di kaki, untuk disambungkan ke pembuluh darah jantung yang tersumbat.”
BACA JUGA:Cerita Dokter RS Mayapada Soal Proses Kesembuhan David Ozora: Sebuah Mukjizat!