JAKARTA, DISWAY.ID -- Pemerintah Indonesia semakin agresif mendorong pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) sebagai fondasi utama energi masa depan.
Tak hanya untuk menekan emisi karbon, percepatan ini juga diarahkan untuk menopang lonjakan kebutuhan listrik sektor digital, terutama data center yang tumbuh pesat di kawasan ASEAN.
Dengan target ambisius mencapai 100 GW, PLTS diposisikan sebagai solusi strategis untuk menjawab tantangan ganda: transisi energi bersih dan pertumbuhan ekonomi digital.
BACA JUGA:Selat Hormuz Dibuka, Rantai Pasok Energi Global Kembali Stabil dan Harga Minyak Turun
Kebutuhan listrik dari industri data center diproyeksikan meningkat hingga 20 persen per tahun, menjadikannya salah satu sektor paling haus energi dalam dekade mendatang.
Sekretaris Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Wanhar Abdurrahim menegaskan, pihaknya membuka peluang besar bagi investasi hijau guna mendukung percepatan ini.
Pemerintah Indonesia tengah mengakselerasi transisi energi dengan membuka peluang investasi hijau yang sangat besar. Targetnya melakukan pengembangan PLTS sebesar 100 GW sebagai pilar utama bauran energi nasional.
"Kami berkomitmen menciptakan iklim investasi yang kondusif melalui kebijakan yang konsisten guna memastikan ketersediaan energi bersih yang kompetitif bagi industri masa depan, termasuk menjawab kebutuhan listrik sektor data center yang terus tumbuh pesat secara eksponensial di tanah air. Kami mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk berkolaborasi menjawab kebutuhan listrik sektor data center yang tumbuh ekspansif melalui kebijakan yang konsisten dan inovatif," ujarnya.
BACA JUGA:Industri Besar Lirik Potensi Kacang Tanah RI, Sumedang Disiapkan Jadi Basis 1.000 Hektar
Langkah ini menunjukkan bahwa pengembangan energi surya tidak lagi sekadar agenda lingkungan, melainkan telah menjadi bagian dari strategi ekonomi nasional berbasis teknologi.
Ia menilai, tanpa pasokan energi bersih yang memadai, pertumbuhan sektor digital berisiko terhambat sekaligus meningkatkan jejak karbon.
Sementara itu, PT PLN (Persero) mengambil peran kunci dalam merealisasikan peta jalan tersebut. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan bahwa transformasi kebijakan menjadi aksi nyata kini menjadi prioritas utama perusahaan.
PLN berusaha menerjemahkan kebijakan Pemerintah menjadi hasil nyata, mulai dari akselerasi proyek PLTS dan Battery Energy Storage System (BESS) hingga penguatan Program Listrik Desa (Lisdes).
Selaras dengan tema 'Powering Regional Sovereignty, Securing Energy System Resilience', PLN hadir untuk menunjukkan berbagai Quick Wins atau capaian nyata yang membuktikan transisi energi di Indonesia telah berjalan melalui digitalisasi jaringan (smart grid) dan penguatan sistem yang tangguh.
BACA JUGA:Harga Plastik Naik, GAPMMI Soroti Dampak di Sektor Ketahanan Pangan Nasional