JAKARTA, DISWAY.ID-- Upaya peningkatan cakupan imunisasi di Indonesia masih menghadapi tantangan besar. Data menunjukkan, sepanjang 2018–2022 terdapat sekitar 1,45 juta anak belum menerima imunisasi lengkap.
Bahkan, dari 17 juta anak usia 1–3 tahun pada periode 2021–2023, lebih dari 2,8 juta belum mendapatkan vaksinasi secara tuntas.
BACA JUGA:Jadi Saksi Kunci Pelecehan Seksual Syekh Ahmad Al Misry, Rumah Oki Setiana Dewi di Mesir Diteror
Dalam momentum Pekan Imunisasi Dunia 2026, pemerintah mengingatkan bahwa pentingnya imunisasi sebagai investasi kesehatan jangka panjang.
Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono, menyebut vaksinasi merupakan langkah pencegahan paling efektif dengan biaya relatif rendah.
“Imunisasi adalah investasi murah yang mampu mencegah penyakit berat di masa depan. Banyak penyakit seharusnya tidak terjadi jika anak memiliki kekebalan yang baik,” ujar Dante, Kamis, 23 April 2026.
BACA JUGA:Skema Sekolah Induk-Mitra Jadi Andalan PJJ 2026 Jangkau ATS
Ia menambahkan, cakupan layanan imunisasi kini semakin luas dan mudah diakses, mulai dari rumah sakit, puskesmas, hingga posyandu di tingkat lingkungan.
Namun, tantangan utama justru datang dari misinformasi yang masih berkembang di masyarakat.
“Bukan akses yang menjadi masalah, tetapi persepsi. Masih ada anggapan bahwa imunisasi berbahaya atau menyebabkan efek buruk, padahal semua vaksin telah melalui uji klinis ketat,” tegasnya.
Dante juga menyoroti pentingnya peran media dalam meluruskan informasi yang keliru agar masyarakat tidak terpengaruh narasi anti-vaksin.
Senada, Deputy Resident Representative UNDP Indonesia, Sujala Pant, menekankan bahwa keraguan terhadap vaksin bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga secara global. Faktor budaya, kurangnya pemahaman, hingga ketakutan menjadi penyebab utama.
“Vaksin telah terbukti secara ilmiah menyelamatkan lebih dari 4 juta nyawa setiap tahun. Tantangannya adalah bagaimana menyampaikan informasi yang benar dengan cara yang mudah dipahami,” jelasnya.
Ia juga menyoroti kesenjangan antarwilayah dalam cakupan imunisasi yang masih tinggi, sehingga diperlukan pendekatan berbasis sistem, termasuk pemanfaatan teknologi digital.