Alih-alih memasang target tinggi, Jordan justru memilih menikmati proses. Ia datang dengan semangat belajar dan ingin menyerap sebanyak mungkin pengalaman baru selama menjalani camp.
Menariknya, pendekatan itu justru membuat Jordan tampil lepas. Ia berhasil melewati satu per satu tahapan seleksi hingga akhirnya masuk dalam daftar pemain terbaik nasional.
"Aku sudah pasrah, aku bilang ke diriku sendiri kalau misal nggak terpilih ya berarti bukan jalanku. Setidaknya aku sudah merasakan ini yang aku tunggu-tunggu dari lama," ungkapnya.
Keberhasilan Jordan juga semakin mempertegas tradisi kuat SMA Methodist 2 Medan dalam melahirkan pemain-pemain berkualitas di ajang DBL All-Star.
BACA JUGA:Jakarta Kembali Dominasi DBL All-Star 2026, Kirim 10 Wakil Sekaligus
BACA JUGA:Kisah Kartika Hatta Mahanani Back to Back MVP DBL Camp 2026
Sekolah tersebut memang punya sejarah panjang di kompetisi basket pelajar Indonesia. Gerbang sejarah itu pertama kali dibuka oleh Fredy yang sukses menjadi bagian dari DBL All-Star 2010.
Setelah itu, nama Angeline melanjutkan tradisi pada DBL All-Star 2011. Kemudian hadir Petrus Brando yang berhasil menembus skuad All-Star 2014.
Selepas pandemi, SMA Methodist 2 Medan kembali mengirim wakil lewat Valencia Callistan pada DBL All-Star 2023. Kini, tongkat estafet itu diteruskan Jordan Marcellino Darma di edisi 2026.
Pencapaian Jordan bukan hanya soal keberhasilan pribadi. Lebih dari itu, ia menjadi simbol bahwa basket Medan tetap memiliki potensi besar untuk bersaing di level nasional.
Perjalanannya juga membuktikan bahwa kesempatan bisa datang kepada siapa saja yang terus bekerja keras dan tidak menyerah, meski sempat tertinggal dari pemain lain.
Kini, Jordan bersiap melanjutkan petualangan berikutnya bersama skuad Kopi Good Day DBL Indonesia All-Star 2026. Bersama para pemain terbaik lainnya, ia akan mendapatkan kesempatan berlatih dan bertanding di luar negeri. (*)