Di tengah perkembangan teknologi dan dominasi AI, kemampuan manusia untuk memahami perasaan, kesulitan, dan kebutuhan orang lain menjadi semakin penting. Mesin mungkin dapat menggantikan pekerjaan teknis, tetapi tidak mampu sepenuhnya menggantikan rasa kepedulian dan sentuhan kemanusiaan. Empati membantu seseorang membangun hubungan sosial yang sehat, memperkuat kerja sama, serta menciptakan lingkungan yang saling mendukung. Generasi yang memiliki empati akan lebih mampu menghargai perbedaan, mengurangi konflik sosial, dan menghadirkan solusi yang lebih manusiawi di tengah perubahan zaman.
Fortune/Luck
Banyak orang sering mengabaikan faktor ini, padahal keberhasilan hidup tidak selalu ditentukan oleh kerja keras semata. Ada momentum, kesempatan, relasi, dan kondisi tertentu yang juga memengaruhi perjalanan seseorang. Namun, keberuntungan biasanya datang kepada mereka yang terus mempersiapkan diri. Pepatah lama mengatakan, “Luck is when preparation meets opportunity.”
Selain usaha dan persiapan diri, keberuntungan juga tidak dapat dipisahkan dari kualitas spiritual seseorang. Dalam kehidupan masyarakat Indonesia yang menjunjung nilai religius, mendekatkan diri kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui ibadah, doa, rasa syukur, serta menjaga nilai-nilai kebaikan diyakini mampu membuka jalan keberkahan dalam hidup. Ketika seseorang memiliki hubungan spiritual yang baik dengan Tuhan, maka ia cenderung memiliki ketenangan batin, optimisme, dan kekuatan menghadapi kegagalan. Nilai spiritual inilah yang sering menjadi sumber ketahanan mental sekaligus menghadirkan “keberuntungan” dalam bentuk kesempatan, pertolongan, maupun jalan hidup yang tidak terduga.
BACA JUGA:Gu Lebang
Pada akhirnya, kesehatan mental merupakan fondasi dasar agar seseorang mampu menjaga empat nilai tersebut tetap berjalan seimbang. Tanpa mental yang sehat, kompetensi bisa runtuh karena tekanan. Integritas bisa tergoda karena ketakutan ekonomi. Etika bisa hilang karena ambisi yang berlebihan. Bahkan peluang keberuntungan pun sulit dimanfaatkan dengan baik apabila seseorang kehilangan harapan terhadap dirinya sendiri.
Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai hanya melalui pembangunan infrastruktur dan kemajuan teknologi. Masa depan bangsa ditentukan oleh kualitas manusianya. Oleh sebab itu, investasi terbesar hari ini seharusnya bukan hanya pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pembangunan kesehatan mental generasi muda.
Generasi yang sehat mentalnya akan lebih siap menghadapi ketidakpastian, lebih tangguh menghadapi perubahan, dan lebih mampu menciptakan masa depan yang bermakna bagi bangsa dan negara. (*)
*) Ir. L Tri Wijaya N. Kusuma, ST., MT., Ph.D., IPM., ASEAN Eng., wakil dekan III FTUB