Rupiah Anjlok Hingga Rp 18.000, Ekonom Celios Beri Peringatan!

Jumat 05-06-2026,17:53 WIB
Reporter : Bianca Khairunnisa
Editor : M. Ichsan

JAKARTA, DISWAY.ID-- Melemahnya nilai tukar Rupiah terhadap mata uang Dolar Amerika Serikat (AS) hingga menyentuh kisaran angka Rp 18.000 kini telah sukses menjadi sorotan banyak pihak, terutama para pengamat ekonomi.

Bukan tanpa alasan. Pasalnya, terdepresiasinya nilai tukar rupiah ini terbilang sudah melampaui ambang batas psikologis dan fundamental, terutama kepada pasar dan sektor industri di Indonesia.

BACA JUGA:Viral Madrasah di Pamulang Digeruduk Massa, Kapolsek Beri Penjelasan

Dalam hal ini, Ekonom sekaligus Direktur Ekonomi Digital Center of Economic and Law Studies (Celios) Nailul Huda juga turut menyoroti akan adanya potensi kenaikan haga barang impor yang ditransmisika ke harga barang secara umum.

"Ada imported inflation (inflasi dari barang yang berkaitan dengan impor). Pelaku usaha akan menaikkan harga dari barang secara umum, dan menyebabkan inflasi dari sisi biaya," jelas Nailul ketika dihubungi oleh Disway, pada Jumat (05/06).

Imbasnya, Nailul melanjutkan, daya beli masyarakat juga terancam akan semakin tertekan, terutama bagi sektor kelas menengah yang memang banyak terpapar barang yang berkaitan dengan impor. 

BACA JUGA:Jadwal Puasa Sunnah Juni 2026 Lengkap Bacaan Niatnya, Ada Puasa Asyura hingga Tasua

"Ini yang akan menyebabkan konsumsi rumah tangga akan melambat, daya beli kelas menangah kita akan banyak tersedot," pungkas Nailul.

"Ketika daya beli melemah, maka yang terjadi adalah permintaan barang secara agregat akan mengalami penurunan. Jadi semakin memukul daya beli dari masyarakat secara umum," tambahnya.

Sebelumnya, PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk (Perseroan; Alfamart; IDX: AMRT), atau Alfamart pun juga sudah mewanti-wanti akan adanya kemungkinan meningkatnya harga sejumlah produk di pasaran imbas pelemahan Rupiah ini.

Dalam penuturannya, Corporate Secretary AMRT Tomin Widian menjelaskan bahwa kondisi pasar saat ini tidak lebih baik dari tahun lalu.

BACA JUGA:Komisi IX DPR Ngaku Tak Pernah Terima Laporan Pengadaan BGN, Janji Perketat Pengawasan

"Jadi kami juga dapat informasi dari beberapa supplier mengenai kemungkinan jadinya menaikkan harga. Jadi kita bisa bayangkan di tengah daya beli yang relatif tidak cukup kuat, tapi harga kemungkinan juga tidak bisa bertahan," tutur Tomin kepada Disway.

Dalam hal ini, Tomin juga menambahkan bahwa melemahnya nilai tukar Rupiah juga menjadi alasan utama dibalik keputusan para supplier tersebut.

"Disampingnya kita semua tahu exchange rate USD yang terus memuat kelemahannya Rupiah. Ini yang terserang tantangan buat kita, karena beberapa supplier seperti ini juga tidak akan mampu lagi menahan harga," jelas Tomin.

Kategori :