Inilah kakak beradik yang bisa saling mengisi. Hasilnya: sukses besar sebagai eksporter mebel ke seluruh dunia. Si kakak bagian marketing. Si adik bagian produksi. Si kakak bertugas mengejar omzet, si adik yang menjaga kualitas produksi.
"Anda ini insinyur?" tanya saya kepada si adik.
"Saya dokter gigi," jawabnya.
"Hah?"
"Dokter gigi lulusan Unair," jelasnya.
"Bagaimana seorang dokter gigi bisa jadi kepala produksi pabrik mebel berskala internasional?"
"Terpaksa," katanya serius.
Kala itu si kakak, Ir Harsono Enggalhardjo, sedang ingin mendirikan usaha baru. Ia tertarik pada dokumen perencanaan bisnis sebuah perusahaan mebel raksasa. Dokumen itu sudah di peti es. Tidak jadi dijalankan. Kalau ada yang mau menjalankannya silakan saja ambil dokumen itu.
Si kakak tahu bagaimana cara menjual produk yang batal diproduksi itu. Tapi ia tidak tahu bagaimana cara memproduksinya. Cari-cari orang yang cocok pun tidak ketemu.
Maka si kakak bertekad merayu adiknya agar mau memimpin produksi. Sayangnya si adik sudah jadi pegawai negeri. Apakah mau berhenti. Apalagi ia baru berhasil pindah ke Semarang setelah bertugas di Kalsel, Jayapura, dan Manokwari.
Itulah drg Winarto Enggalhardjo. Setelah lulus Unair, Winarto mendaftar menjadi tentara. Pangkatnya letnan satu.
"Kan Anda Tionghoa. Kenapa ingin jadi tentara?"
"Kakak saya yang satunya juga tentara. Pangkatnya letnan kolonel," ujar Winarto.
Ia akhirnya berhenti dari dinas tentara. Pilih pindah jadi pegawai negeri.
Di Manokwari, Winarto sempat buka praktik sebagai dokter gigi. Ia beli kursi pasien buatan Jepang. Ketika pindah ke Semarang kursi itu ia jual.
Tidak lama setelah jadi pegawai negeri itulah si kakak minta Winarto mengepalai produksi pabrik yang baru. "Apa boleh buat," kata Winarto.
Ketelitiannya sebagai dokter gigi itulah yang ia terapkan di produksi mebel. Kualitasnya ia jaga sungguh-sungguh seperti menjaga giginya orang kaya. "Kebetulan mata saya awas. Dokter gigi itu matanya harus baik," katanya.
Kini perusahaan di Semarang itu, PT Saniharto menjadi eksporter mebel kelas atas ke seluruh dunia. Hotel-hotel bintang lima di berbagai kota dunia ambil mebel Saniharto. Mulai di Las Vegas, Boston, sampai New York.
Terakhir, sebuah resort berbintang tujuh di Laut Merah, Arab Saudi, juga sepenuhnya pakai produk Saniharto. Hotel mewah itu disebut Shebarah Resort, di sebuah pulau antara Jeddah dan Neom. Lihat desain resort itu. Unit-unitnya terpisah semua di atas laut Merah. Pasti hanya orang super kaya yang bermalam di sana –konon tarif satu malamnya di atas Rp 50 juta.
Kini Saniharto sudah mulai dipimpin generasi kedua. Si kakak, Harsono, 75 tahun, masih aktif ngantor. Masih sehat. Pun si adik, Winarto, jalannya masih cepat. Tapi direktur utama Saniharto kini sudah dipegang putri Harsono: Merysia Enggalhardjo. Muda, cantik, lulusan Purdue University, Amerika, satu kampus dengan Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa.
Merysia tidak akan mengubah merek Saniharto menjadi yang berbau Barat. Kini Saniharto sudah menjadi merek yang ternama di negara-negara maju. Pabriknya tetap saja sibuk --bahkan lebih sibuk dari yang saya lihat tiga tahun lalu. Saniharto sama sekali tidak terganggu oleh gejolak dolar. Penghasilannya dolar. Kalau dirupiahkan hitung sendiri kenaikannya.
Tapi Harsono dan Winarto tetap ingat: kepercayaan pertama yang mereka terima dari hotel bintang lima adalah dari Hotel Mulia Senayan, Jakarta.
Itulah hotel yang sangat bersejarah. Pegang rekor: membangun hotel 40 lantai, 1000 kamar, hanya delapan bulan, dengan kualitas yang tetap istimewa –dan Saniharto menjadi bagian dari sejarah itu. (Dahlan Iskan)
Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 18 Juni 2026: Tahanan Cornell
Johannes Kitono
Anomali Hukum. Donald Wihardja dan Nicko Widjaja adalah korban aplikasi hukum rimba. Kok bumn yang incestasi di swasta dan rugi jadi kerugian negara. Memang kedua BUMN itu diiming iming saat invest. Lucunya lagi. Menurut MK yang berhak PKN / Perhitungan Kerugian Negara adalah BPK. Dasar hukumnya Pasal 23 E UUD 45. Now, ada lembaga yang berebut melakukan PKN. Untuk kasus Tani-Hub dimana membeli produk petani via Pedagang jelas riskan. Tidak melakukan integrasi secara back ward Lingkage seperti perusahaan Inti- Plasma. Baik Tani Hub dan kedua BUMN tidak konsultasi dulu sama pakar TIR ( Tambak Inti Rakyat ) udang di Lampung. Kalau kerugian bisnis bisa dipidanakan. Tentu Gubernur BI dan semuanya Deputynya pasti salah dan kena pidana. Devisa negara US$ .140, -mily di APBN ditentukan ratenya oleh BI Rp.16.500,/ $. Now menjadi Rp.18.129,- / $. Jelas negara rugi dan silahkan hitung jumlah kerugiannya. Apakah Gubernur BI dan Deputynya harus dihukum penjara dan ganti rugi. Logikanya kalau Dicky dan Nicko dihukum begitu juga Gubernur/ Deputy BI. Nanti tidak ada profesionil dan kompeten mau jadi pejabat di NKRI. Akhirnya para menteri dijabat oleh alumni Universitas Abal Abal. Dan bisa lulus S 3 dalam tempo 20 bulan saja. Namun sudah dibatalkan. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.
yea aina
Pun Donald Surjana Wihardja, penyandang gelar master teknik komputer Cornell University, masih bisa "salah hitung" prospek bisnis start up tani hub. Konsekuensinya cukup berat: menjadi pesakitan pengadilan. Beda nasib dengan si pelontar janji "19 juta loker baru". Tahun 2019 bisnisnya pernah mendapat suntikan modal, dari EMTEK Dan Alpha JWC ventures senilai 71 ember. Tapi akhirnya gulung gerai juga. Ditutup. Sekarang ia "duduk manis" di kursi nomer 2 negeri ini. Rekam jejak telah membuktikan: tidak cakap menciptakan loker baru. Bisnis rintisannya layu sebelum berkembang. Tapi janji kampanyenya masih dipercaya para pemilih-pemilihnya. Cukup membagongkan.
yea aina
Apa yang dilakukan BUMN seperti Telkom di masa lalu, sekarang digantikan perannya oleh Danantara. Dulu jika BUMN dapat keuntungan, wajib disetor, sebagai pendapatan negara ke kas APBN. Sekarang tidak setor lagi ke APBN, pindah setor ke Danantara. Tapi "sebagian" keuntungan yang seharusnya disetorkan, juga ada yang di investasikan. Bentuk investasinya bisa berupa mendirikan anak usaha baru (MDI Ventures, BRI Ventura). Ada juga yang berupa investasi "belanja" saham perusahaan lain. Seperti membeli saham perdana GOT*, yang sekarang nyungsep itu. Aneh. Kalau DSW diadili karena dianggap telah menyebabkan kerugian uang negara, lalu yang bertanggung jawab di BRI Ventura dan belanja saham GOT* bisa lolos. Lenggang kangkung, seperti "cuci tangan" atas kerugian uang negara (BUMN). Mungkin Anda sudah tahu, dugaan kuat ada "kekuasaan" tak kasat mata, sehingga hanya DSW yang menjadi pesakitan. Oknum BUMN lainnya, yang juga menyebabkan kerugian uang negara, toh aman-aman saja.
Liam Then
Saya jadi bingung. Ditindak salah, tidak ditindak juga lebih salah. Jadi saya sarankan, bagusnya pemerintah jangan banyak ikut-ikutan bisnis, kalau alergi pada resiko, dan tidak bisa menakar resiko itu sebenarnya asli resiko, atau "resiko" yang disengaja. Serahkan bidang bisnis kepada pebisnis saja. Negara jangan masuk terlalu dalam kedalam bisnis lapangan. Cukup pastikan APBN terserap dan digunakan dengan baik saja. Tapi bilang susah, juga tidak bisa. Itu Singapura kemudian Tiongkok, state owned enterprise/BUMN mereka banyak yang sukses luar biasa. Jangan -jangan mereka cuma sebarkan kabar baiknya saja? Yang jelek, korup, terjadi penyelewengan sebenarnya juga sangat banyak?
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
4 NEGARA SIAP MENCABUT SANKSI ATAS IRAN.. Selama ini, Inggris, Prancis, Jerman, dan Italia kompak menjepit Iran dengan rupa-rupa sanksi berat. Mulai dari.. 1) pembekuan aset bank, 2) larangan transaksi keuangan, 3) embargo teknologi militer, hingga 4) boikot minyak. Iran dibuat megap-megap, tapi pasarnya tetap hidup lewat jalur bawah tanah. Kini, angin mendadak berubah arah. Keempat negara Eropa itu menyatakan siap mencabut sanksi tersebut. Syaratnya: 1) Teheran harus benar-benar mengerem program nuklirnya secara transparan dan 2) apat diverifikasi. Ini buntut dari kesepakatan damai mengejutkan antara Teheran dan Washington. Eropa rupanya lelah terus menggertak. Menghukum Teheran ternyata melelahkan dan menguras energi diplomasi mereka sendiri. Ketika AS dan Iran mulai berbisik mesra lewat nota kesepahaman, Eropa langsung pasang senyum paling manis. Mereka buru-buru menyambut hangat, seolah takut ketinggalan kereta. Bagi Iran, ini tentu angin segar yang dinanti. Namun, dunia tetap menahan napas. Politik Timur Tengah itu mirip cuaca ekstrem; pagi ini sepakat damai, sorenya bisa saja muncul berita Iran mengancam akan menyerang Israel lagi. Kita lihat saja, apakah janji manis pencabutan sanksi ini akan berujung pada kedamaian hakiki atau sekadar jeda minum teh sebelum ketegangan baru dimulai kembali.
Kujang Amburadul
Kalo kita taruhan akan berhasil atau tidak KDMP ini dalam 5 tahun, yg menang dapat spatu no 42. Eh ini termasuk judi bukan. Tapi lima tahun mendatang spatunya udah menyusut jd sandal jepit. Kayaknya sih setelah lima tahun mendatang bangunannya udah tinggal bebatuan tembok didalam semak.
Antonio Samaran
Mnrt akal sehat peluang KDMP utk sukses dlm skala nasional sangatlah kecil. Program ini lahir dr keputusan politik yg bersifat top down, bukan dr kebutuhan masyarakat. Krn itu sulit berharap pengelola benar2 independen dan profesional. Jika manajemennya tdk diisi org2 kompenten, bagaimana mau bersaing dgn jaringan swasta yg telah teruji pasar? Resiko penyalahgunaan dana juga tdk bisa diabaikan. Bahkan beredar kabar dr anggaran 1,6M per koperasi nilai pembangunan yg benar2 terwujud hanya sekitar 50% saja. Jika benar, alarm kegagalan sdh ada di depan mata. Usaha swasta yg dikelola secara profesional dan diawasi ketat oleh ownernya saja banyak yg gagal kok. Secara statistik 20% usaha yg direncanakan dgn matang dan dikelola secara profesional meninggal di tahun pertama, 50% tdk mampu hidup sampa 5 tahun dan hanya sekitar 20 s/d 30% saja yg bisa lewat 10 tahun. Karena itu sulit dipercaya ribuan koperasi dibentuk secara serentak dan dikelola secara birokratis akan berhasil begitu saja. Bila ada 5% yg survive melewati 5 thn maka perlu disyukuri, itupun kasirnya hrs mengerti matematika di mana 10 + 6 adalah 16.
Kujang Amburadul
Hari ini eksekusi Hotel Sultan di kawasan GBK ricuh (oleh perusuh yg bukan kita). Andai suatu saat ada terjadi eksekusi hukuman mati para koruptor, apakah akan ricuh juga atau penonton akan sregep menyaksikannya? Ini pertanyaan rusuh khas Perusuh.
Muh Nursalim
Koperasi merah putih itu saiangnnya bakul pasar. Juga tokoi kelontong. Ada lima geraik di setiap gedungnya. Kebutuhan petani mau dijual di situ. Ini berarti merebut pasar yang sudah ada. Dan dikuasai toko kelontong sebelah. Mestinya kdmp melawan tengkulak-tengkulak besar, Yang menyedot gabah petani di musim panen. Sampai bakul-bakul gabah kecil ndak kebagian. Begitupun pemiliki gilingan padi skala lokal ndak punya bahan. Karena mayoritas gabah langsung diangkut ke pabrik. Nah, jika kdmp main disini baru keren. Bukan malah merusak pasar yang sudah terbentuk.
Er Gham 2
Anda makan sayur dari Cipanas, Cianjur. Apakah petani nya jual langsung kepada Anda. Khan tidak begitu. Petani jual ke pengumpul malam hari. Lalu dini hari pengumpul pakai suzuki carry pick up bawa sayur ke pasar tradisional. Di pasar, saat subuh, pedagang retail rebutan beli sayur untuk nantinya dijual ke konsumen. Pola itu sudah berlangsung puluhan tahun. Awet awet aja tuh.
Warok Ponorogo
Rontoknya start up berbasis ekonomi pedesaan. Core businessnya memangkas mata rantai distribusi antara produsen dan konsumen, dimana ada sebab fundamental yang luput dari awal pendiriannya. Tani hub, e -fishery contohnya. Dalam sosiologi ekonomi pedesaan dimana bidang ini menjadi mata kuliah tersendiri di fakultas pertanian dan peternakan ada interaksi unik antara jenis produk yang dihasilkan, nilai nilai komunal yang mempengaruhi kegiatan ekonomi pedesaan dan peran penting kepemimpinan dalam usaha produksi. Keberhasilan produk hasil pertanian dan peternakan dari 1 orang, baik itu dari kwalitas dan kwantitas juga harga jual menjadi daya tarik kuat bagi petani lain untuk mencobanya. Ini yang menjadi leader dan rule modelnya. Kepada leader2 inilah segala hal yg berkaitan dengan system start up dijelaskan sejelas jelasnya, terutama potensi pasar dan harga jualnya. Untuk tengkulak yang sudah menguasai hajat harga hasil pertanian dan peternakan libatkan di dalamnya, dengan syarat dan ketentuan yang menguntungkan dari sisi start up dan tengkulaknya. Tengkulak ini bagian krusial dalam mata rantai distribusi hasil pertanian ke konsumen dan luput dari sistem yang dibangun oleh start up. Jadikan pengalaman pak Jonan dalam memberantas percaloan tiket kereta api dan premanisme di stasiun2nya. Mereka tidak disingkirkan tapi dirangkul sesuai kebutuhan KAI dan "kebisaannya" kalau keahlian jauh. Ini dari sisi start up, sedangkan dari sisi pendanaan baik dari venture capital dan HIMBARA
Juve Zhang
Keanehan semua start up itu dibeayai dengan US Dolar dari sini saja sudah patut dicurigai US Dolar itu akan di transfer ke Luar negeri dengan mudah nya....Anda lihat eFishery pun dengan US Dolar....Tani Hub 25 juta USD Dolar ....Got Bau sampah pun yg kecipratan 6,2 ton sampah dari Telkomselll anak usah Telllkomm langsung di transfer ke Luar negeri.....semua Zaman keemasan Sultan Majapahit Roy Gracie.......dolar mudah transfer nya jika Rp ribet tukar ke Dolar jika jumlah nya Jumbo....semua permainan harus dihitung ke kemudahan transfer ke LN.....tulisan bagus hari ini kita pun jadi tahu "keanehan pembayaran dengan USD"....sudah terjawab dengan tulisan Ciamiik CHDI .... terimakasih Bos CHDI....
Er Gham 2
Ada beberapa kasus kredit macet di Bank Himbara. Jika parameter nya hanya kerugian negara, berapa banyak direksi bank himbara yang akan masuk penjara. Sepanjang para direksi telah melaksanakan isi Kebijakan, SOP, dan Juknis dalam pemberian kredit, mereka akan aman. Ketentuan internal itu yang melindungi para direksi. Memang sih njelimet dan sudah pasti terdiri dari beberapa buku atau folder tebal. Bahkan untuk misalnya satu jenis kredit saja, folder Kebijakan, SOP dan Juknis nya bisa mencapai satu meter jika dibariskan. Itu dari satu produk. Padahal bank punya banyak produk. Jadi setiap pengambilan keputusan ada rule nya. Tidak bisa hanya berdasarkan latar pendidikan saja. Jika masih ada yang belum diputuskan sesuai "rule" yang ada, baru dilakukan 'business judgment rule'. Jadi tidak juga serta merta langsung 'business judgment'. MDI Venture pun seyogyanya punya kebijakan dan ketentuan yang lengkap, detail, komprehensif, up to date. Malah mungkin lebih njelimet dari perbankan karena dalam pembiayaan proyek nya tidak disertai jaminan.
Er Gham 2
BGN didirikan dan dilantik para pengurusnya di rezim sebelum nya. Walaupun pemerintah saat ini tinggal melanjutkan, presiden rezim saat ini bisa menunda dulu implementasi nya. Misal ditunda dulu 2 atau 3 bulan. Dibuat dulu aturan aturan internal yang lengkap berdasarkan banyak kajian. Lalu dibuat Kebijakan, dilanjutkan buat SOP berdasarkan Kebijakan. Dari SOP dibuat Juknis. Nanti ada Kebijakan Dan SOP Penentuan Lokasi Dapur, Kebijakan dan SOP Standar Dapur, Kebijakan dan SOP Distribusi Makanan, Kebijakan dan SOP Pengadaan Barang, Kebijakan Level Sekolah dan Target Market. Dan sebagainya. Dari berita kasus keracunan dan perubahan kebijakan, sepertinya BGN belum memiliki ketentuan internal yang lengkap. Nanti kalo semua folder print out ketentuan internal itu dibariskan, bisa mencapai tiga meter misal nya. Misal penentuan insentif. Harus jelas dasar perhitungan nya. Tidak semua sama. Ada dapur yang berada di dalam halaman sekolah yayasan misalnya, dan melayani anak SD sampai SMA. Bisa jalan kaki bawa ompreng nya atau pakai gerobak satu roda. Tidak perlu dua grandmax. Tidak perlu motor trail listrik. Ini semua diseragamkan. Hantam kromo. Memang sih njelimet dan berdarah darah saat pembentukan 'aturan main' ini. Namun ini harus dilalui karena ada dana luar biasa besar di situ. Dan bukan uang moyang para pengurusnya. Itu uang pajak. Berpikir keras di awal. Jangan malas. Jangan oon. Gaji Anda besar.
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
@pak Warok.. START UP BUKAN SEKADAR APLIKASI.. Menarik sekali Pak Warok. Banyak start up masuk desa membawa senjata baru: aplikasi. Tetapi kadang lupa, desa punya "aplikasi" yang sudah berjalan ratusan tahun. Namanya kepercayaan. Petani tidak hanya menjual hasil panen. Mereka menjual kepada siapa yang dipercaya. Ada hubungan sosial, ada tokoh panutan, ada kebiasaan yang terbentuk lama. Memotong rantai distribusi memang ide bagus. Tetapi jangan lupa, rantai itu bukan hanya tali. Ada tangan-tangan manusia yang sudah lama memegang ujungnya. Belajar dari Pak Jonan, perubahan besar sering bukan dengan membakar jembatan lama. Tetapi mengubah jembatan itu menjadi jalan baru. Tengkulak tidak selalu musuh. Kadang mereka adalah "server lama" yang sudah mengerti medan. Tugas start up bukan mematikan server, tetapi meng-upgrade sistemnya. Teknologi tanpa memahami budaya lokal seperti membawa GPS tanpa tahu jalan. Peta ada, tetapi bisa tersesat juga.
IZHAR FRANDY KUSUMA
Saya sempat berimajinasi terkait kondisi ekonomi Indonesia akhir-akhir ini. Betapa tidak, bahkan abah DI saja telah memprognosis terjadi komplikasi. Namun disisi lain, gembar gembor efisiensi tidak begitu terasa dampaknya di pusat. Malah cenderung lebih tepat jika efisiensi pemerintah diartikan penyunatan anggaran daerah untuk digunakan pusat. Jika memang benar-benar haqul yaqin ingin berhemat, mengapa tidak sekalian radikal. Misalnya hapus pegawai kantor pajak di seluruh Indonesia. Lha terus nanti siapa yang urus pajak? Ya gampang saja, sediakan beberapa komputer di kantor lurah atau kantor desa yang telah dipasang AI khusus untuk masalah2 perpajakan. Apa saja tentang pajak, bisa ditanyakan lewat AI itu. Bukannya mas Wapres gencar promosi AI. Administrasi cukup dikerjakan oleh orang kelurahan/desa. Karena mereka yang sangat tahu siapa kerja apa dan dimana. Jika ada yang nunggak, tidak perlu Juru Sita Pajak Negara (JSPN) yang turun. Berikan saja kewenangan kepada Polsek untuk menagih, kan polisi bisa menduduki jabatan sipil di UU Polri terbaru. Biar yang mereka juga tidak duduk-duduk saja di Polsek. Jika mereka berhasil menagih pajak, berikan insentif sekian persen sebagai gula-gula. Biar mereka semangat. Uang pajaknya harus disetor lewat bank supaya memperkecil adanya fraud. Hehehe... Dengan hanya menghapus 1 instansi saja, kita bisa membayangkan berapa T yang dapat dihemat pemerintah. Tapi sepertinya mimpi saya terlalu indah dan panjang. Hehehe... #SalamMojopahit
Jokosp Sp
Teknologipun pernah dicoba, tapi tidak bisa menolong petani...(ambil nafas dulu). Siapa tahu Koperasi Merah Putih yang bisa. Di kalimat "Siapa tahu" mengandung makna keraguan yang sangat besar. Kok bisa?. Karena sifatnya komando (diucapkan dengan penuh tekanan): "Saya punya program unggulan, namanya Kop Des. Ada 84.291 desa dan 7.265 kecamatan di seluruh Indonesia. Dirikan di setiap desa itu koperasi !. Biar keren beri nama Koperasi Merah Putih: -Buat anggarannya -Ajukan proposalnya -Saya akan tanda tangan dan setujui -Segera bangun -Dalam tahun pertama 25%, dan dalam 4thn sudah 100%". Maka sang ajudan hanya bilang "Siap Komandan. Laksanakan". Tidak ada yang namanya presentasi untuk dievaluasi: -Apakah biayanya masuk akal? -Darimana sumber dananya? -Bagaimana cara pengembaliannya dan berapa lama? -Dari mana supply itemnya? -Siapa saja supplier yang kompeten? -Adakah sistem tendernya? -Berapa thn modal kembali? -Bagaimana aturan dibuat jika ada satu koperasi gagal, seperti apa proses hukumnya, seperti apa audit dan laporan keuangannya?. Ternyata sang ajudan tidak perrnah tahu itu karena didik di barak, bukan profesionalisme bisnis. Di luar kepalanya hanya satu "Siap Komandan. Laksanakan". Bagimana tidak "Ajur jum...........lak ngene iki".
Denny Herbert
Bayangkan logika ini dibawa ke dunia usaha atau pasar saham. Anda untung Rp4.000, lalu rugi Rp290. Secara total, Anda masih surplus Rp3.710. Di dunia bisnis, Anda adalah manajer investasi yang jenius. Tapi di mata hukum Tipikor kita, Anda adalah koruptor 12 tahun penjara. Ini persis seperti yang disentil Prof. Mahfud MD. Ada gap ilmu yang jomplang. Jaksa mendakwa Donald teledor hanya karena melihat data administratif. Padahal, modal ventura itu dasarnya memang high-risk, high-return. Uangnya tidak ada yang mengalir ke kantong pribadi sepeser pun. Murni apes karena bisnisnya rontok. Jika formula "untung triliunan dianggap biasa, rugi investasi dipenjara" ini terus dipakai, maka aturan business judgment rule resmi tamat. Pesannya sangat 'mengerikan' bagi para profesional: Jangan pernah terlalu pintar, jangan pernah berinovasi untuk negara. Sebab, seribu keberhasilan Anda tidak akan dihitung, tapi satu kegagalan bisnis akan mengantar Anda ke jeruji besi.
mario handoko
selamat pagi bp denny, bp haji jokosp. di indonesia. cornell university. universitas kelas dunia yg berlokasi di ithaca, new york. terkenal dengan cornell paper. publikasi akademis tentang G30S pki. wni alumni cornell antara lain george aditjondro, penulis buku gurita cikeas, pia alisjahbana, suahasil nazara dan donald wihardja. mantan ceo mdi ventures. yang dipidana merugikan negara dalam investasi tani hub. sudah banyak meme yg menyebutkan. bahwa sekolah bisnis terbaik sedunia, bukanlah cornell, bukan juga harvard atau oxford. melainkan sebuah akademi yg berada di jawa tengah, di kota sejuta bunga. 99% alumninya sukses. tidak ada kisah alumni yg mengharu biru, kisah krismon. apalagi kisah menjadi terpidana. contoh terbaru alumninya yg sukses adalah bpk dirjen bea cukai. semua saksi menyebut dia menerima "setoran". tapi sampai saat ini. semua aman terkendali. diundang klarifikasi saja tidak, saksi tidak, apalagi jadi tersangka. entah mengapa jaksa diam saja. entah mengapa atasannya, menkeu. pun tidak berani menonaktifkan bawahannya. kok alumni akademi tsb bisa secanggih itu? mungkin di mata kuliah hitungan pembagian. kurikulum akademi itu jauh lebih unggul dari kurikulum cornell university.
Er Gham 2
Saya tidak mengetahui bagaimana Kebijakan dan SOP di MDI Ventures terkait pembiayaan star up. Ini penting untuk mengetahui apakah MDI Ventures telah melanggar ketentuan internal nya sendiri. Misal yang garis besar saja: 1. MDI melakukan due diligence terhadap Tani Hub. Tidak hanya pada perusahaan start up nya, namun juga terhadap para pendiri dan pengurusnya. 2. MDI hanya membiayai 70 persen nilai proyek. Artinya Tani Hub harus punya kocek sendiri sebesar 30 persen. 3. MDI melakukan kajian detail untuk mencegah adanya mark up nilai proyek. Jadi MDI harus benar benar buat pembanding dan turun langsung melakukan kajian seperti apa pola distribusi hasil tani di lapangan. Lengkap dengan kajian jika memang ada mafia hasil panen petani. MDI bisa sewa pihak ketiga sebagai 'detektif' distribusi hasil tani. 4. Pencairan tidak sekaligus. Terbagi dalam beberapa termin yang didahului studi kelayakan dan review oleh MDI. Jika tidak sesuai, sisa plafon di stop atau di hold sebelum adanya perbaikan. 5. MDI memiliki akses pemeriksaan keuangan terhadap Tani Hub. Bisa periodik misal per 6 bulan, atau sebelum pencairan termin berikutnya. 6. Untuk pembiayaan startup plafon tertentu, MDI menempatkan orang dalam direksi Tani Hub, khususnya bagian keuangan. Bisa kerjasama dengan ventura lain dalam penempatan orang ini. Kira kira itu garis besarnya. Kenapa terlihat njelimet karena uang dari MDI Ventures itu bukan uang perseorangan. Atau kalo bahasa BUMN, bukan uang moyang lo.
Kalender Bagus
Yang membuat Tani-Hub cepat nyungsep saya kira ini, masuk ke ranah yang bukan kompetensinya: peer to peer lending. Ranah ini sangat riskan, karena sebagian para peminjam itu tidak punya niat baik sejak dari awalnya. Apatah lagi pertanian itu bukan kepastian, pasti panen. Bisa kapan aja gagal panen, atau sengaja menggagalkan. Setelah Tani-Hub, peer to peer lending lain yang ikut 'ciruk' adalah Investree dan Koin Works. Kalo koperasi merah putih ikut ngurusin pinjam meminjam, maka dipastikan akan ciruk juga diakhirnya. Jadi, biarlah urusan keuangan jadi ranahnya bank. Kalo koperasi mau putar-putar uang, kerjasamalah dengan bank, jangan sok-sokan jadi bank.
Fauzan Samsuri
Jangan lupa dalam teknologi (Informasi), ada tiga unsur yang saling terkait didalamnya, hardware, software dan brainware. Dua unsur yang pertama dan kedua tidak memiliki etika, karena memang mereka bukan manusia. Unsur ketiga adalah manusia yang memiliki etika, suatu saat bisa baik, saat yang lain bisa buruk. Unsur ketigalah yang menjadikan teknologi menjadi bermanfaat atau sebaliknya .
Edi Sampana
Ceritanya desa berutang ke bank Himbara. Setiap tahun, utang ini diangsur Kementerian Keuangan dengan memakai dana desa (akibatnya dana yang biasa diterima desa sebesar 1 milyar berkurang menjadi 400 juta). Tapi uang utang tadi disalurkan ke PT Agrinas Pangan Nusantara untuk membangun gerai dan beli mobil niaga dari India. Belakangan, PT Agrinas ugal-ugalan impor mobil niaga dari India. Sekarang ada dugaan kasus korupsi BGN yg beli motor listrik. Kalau nanti ada dugaan korupsi pembelian mobil India ini (karena mobil mangkrak tidak terpakai atau jadi besi tua karena sulit service / ganti spare part), siapa yg jadi tersangka ? Apakah pengurus PT Agrinas Pangan Nusantara ? Belum lagi pembangunan gerai KDMP ada yang asal-asalan (2 gerai berdekatan, gerai dibangun di tepi jurang, di atas gunung, di tengah hutan/dekat kuburan), yang kabarnya anggarannya 1,5 milyar tapi nilai bangunannya cuma Rp.800 juta ?
djokoLodang
-o-- Istri: Kangmas, kamu mau ke mana? Suami: Nobar Argentina lawan Algeria. Istri: Nobar? Kenapa kamu tidak nonton denganku di sini saja? Suami: Aku ingin nonton bersama teman-temanku. Istri: Jadi aku tidak berarti apa-apa bagimu? Suami: Oke, oke. Aku akan tetap di sini. Istri: Mengapa wasitnya pakai baju hitam? Suami: Ia sedang berkabung karena kematian ibunya. Istri: Komentatornya hebat, bagaimana ia tahu semua nama pemain? Suami: Itu memang pekerjaannya. Istri: Horee, gol!! Suami: Bukan, itu tadi Messi offside Istri: Oke, tapi apa itu offside? Suami: Offside? Itu nama pelatih. Istri: Di mana pelatihnya? Suami: Itu, sedang di pinggir lapangan. Istri: Kenapa ia tidak bermain? Suami: Tidak, ia tidak ikut bermain. Tugasnya mengganti pemain dan taktik permainan. --- Bebarapa saat kemudian. Istri: O iya, aku ingat. Argentina. Mana Maradona? Katakan padaku, apakah Maradona ada di sana? Suami: Tidak, ia sudah meninggal. Istri: Ya Tuhan, bagaimana bisa? Suami: Kena serangan jantung. Istri: Waduh! Kenapa jantungnya? Suami: Saat itu ia sedang nonton bersama istrinya… --0-
Ima Lawaru
Satu hal lucu yang saya pikir-pikir selama ini adalah, para pejabat negara kita, terutama Pak Presiden sendiri, tidak pernah mau belajar dari seorang ibu rumah tangga. Seorang ibu tahu...bagaimana mengolah uang suami yang hanya sedikit tapi bisa terpenuhi ongkos makan satu keluarga, bisa juga bayar uang semesteran anak, juga bisa bangun rumah. Dan ajaibnya bisa sisihkan sedikit untuk menabung. Ibu yang cerdas, menabung adalah prioritas utama. Tabungan bisa lewat arisan, bisa juga celengan, bisa juga setor ke bank. Karena tabungan...sewaktu-waktu bisa menolong banyak hal. Ibu menghitung dengan teliti. Tidak boleh ada pemborosan. Bahkan ibu mengorbankan dirinya sendiri untuk tidak membeli daster yang baru, meski daster lama sudah lusuh, tidak beli skinker bermerk, karena bedak tabur saja sudah cukup. Menahan diri untuk tidak berpelesir untuk belajar ilmu penghematan tetangga jauh yang maju, toh mengakses kemajuan tetangga lewat internet juga bisa dengan modal paket data. Semua demi apa? Agar menyelamatkan kebutuhan utama. Saya seroang ibu rumah tangga. Dan saya juga belajar dari ibu saya yang dompetnya sangat kempes. Tapi dalam hidupnya, sejak saya dari kecil sampai besar, 2 kali masuk rumah sakit besar, juga selesai kuliah, ibu saya tidak pernah berhutang untuk biaya itu semua. Apalagi berhutang untuk makan.
MULYADI PEGE
Bangsa yg cepat maju, adalah bangsa yg rajin uji coba. Sedangkan bangsa yg cepat mundur, adalah bangsa yg menghalanginya. Selamat pagi perusuh semua, sehat sehat selalu semua
Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺
MEMBEDAKAN BISNIS GAGAL DAN BISNIS NAKAL.. Dalam dunia bisnis, garis antara keputusan berani dan keputusan bermasalah kadang setipis kulit bawang. Bedanya bukan pada hasil akhirnya. Tetapi pada proses sebelum keputusan dibuat. 1) Investasi bisa rugi. 2) Proyek bisa gagal. 3) Prediksi bisa meleset. Itu namanya risiko bisnis. Kalau setiap kerugian dianggap korupsi, nanti semua direktur hanya berani mengambil keputusan membeli pensil. Itu pun harus studi kelayakan. Karena itu ada istilah: "Business Judgment Rule". Keputusan masih dianggap wajar selama dibuat dengan itikad baik, memakai data yang cukup, melalui prosedur yang benar, dan untuk kepentingan perusahaan. Masalah muncul ketika kompas bisnis mulai digeser oleh kepentingan pribadi. 1) Ada konflik kepentingan. 2) Ada harga yang dinaikkan. 3) Ada data yang "dipercantik". 4) Ada hubungan tersembunyi dengan pihak yang menerima keuntungan. Kalimat sederhananya: Bisnis boleh salah hitung, tetapi jangan salah niat. Sebab kerugian akibat keputusan bisnis adalah pelajaran. Tetapi kerugian yang dirancang untuk keuntungan pribadi adalah cerita lain. Dalam tata kelola, yang dicari bukan direktur tanpa kesalahan. Yang dicari adalah pengambil keputusan yang berani, tetapi tetap punya pagar integritas.