JAKARTA, DISWAY.ID -- Ketua DPP PDI Perjuangan, Deddy Sitorus menyayangkan pelaksanaan diskusi yang menampilkan sejumlah pejabat pemerintah di Universitas Gadjah Mada (UGM) berakhir ricuh.
Namun, ia mengatakan peristiwa ini tak dapat dihindarkan.
Sebab, saat ini situasi pergerakan mahasiswa yang sedang berada pada fase akumulasi kemarahan dan meningkatnya gelombang protes.
BACA JUGA:Kebun PTPN Cot Girek Diduduki Sepihak, Negara Rugi Miliaran Rupiah
"Dalam kondisi normal dan secara etis, kejadian itu patut disayangkan terjadi. Tetapi kalau kita bicara konteks di mana akumulasi kemarahan dan gerakan mahasiswa sedang memuncak, kejadian itu sulit dihindarkan," kata Deddy kepada wartawan, Jumat, 19 Juni 2026.
Deddy pun mempertanyakan pemilihan waktu dan lokasi kegiatan tersebut.
Menurutnya, penyelenggara kurang mempertimbangkan dinamika yang sedang berkembang di kalangan mahasiswa sehingga kegiatan itu berpotensi menimbulkan gesekan sejak awal.
Ia menilai sosialisasi atau penyampaian pesan pemerintah seharusnya dilakukan jauh hari sebelumnya agar substansi yang ingin disampaikan dapat diterima dengan baik.
BACA JUGA:Roy Suryo Diamankan Polda Metro Jaya Terkait Kasus Ijazah Jokowi, Ini Kata Kuasa Hukum
"Seharusnya kegiatan sosialisasi atau propaganda itu dilakukan jauh hari agar pesan tersampaikan. Atau nanti setelah keadaan lebih kondusif untuk menyampaikan respon pemerintah terhadap aspirasi mahasiswa. Jadi, jelas-jelas kegiatan ini sejak awal berpotensi menimbulkan terjadinya," jelas Deddy.
"Jadi jelas-jelas kegiatan ini sejak awal berpotensi menimbulkan gesekan," sambungnya.
Terkait Budiman, Deddy berpandangan bahwa mantan aktivis itu tidak lagi dapat dilihat dalam posisi yang sama dengan mahasiswa yang saat ini melakukan pergerakan.
Menurutnya, Budiman telah lama meninggalkan dunia aktivisme sejak terjun ke politik dan berada di lingkar kekuasaan selama lebih dari satu dekade.
"Budiman dan para mahasiswa punya jarak dan tembok pemisah yang cukup jauh dan tinggi. Bahkan cenderung berbeda secara diametral," kata Deddy.