Menurutnya, program tersebut berawal dari bantuan empat bibit kambing yang kemudian berkembang menjadi 15 ekor. Meski sempat menghadapi sejumlah kendala, termasuk kematian beberapa anakan kambing akibat penyakit dan penjualan sebagian ternak, saat ini ia masih memelihara 10 ekor kambing yang terus berkembang.
“Dengan adanya silase ini, kami sangat terbantu, terutama ketika sulit mendapatkan pakan ternak yang berkualitas,” kata Basirun.
Tidak hanya berdampak pada peningkatan usaha peternakan masyarakat, program ini juga menunjukkan pentingnya kolaborasi antara perusahaan, pemerintah desa, dan warga dalam menciptakan solusi yang sesuai dengan kebutuhan lokal.
Kepala Urusan Umum Desa Tepian Terap, Kahirullah, menyampaikan apresiasinya terhadap pelaksanaan Program DMPA yang dinilai mampu membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat desa.
“Program seperti ini memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena tidak hanya menghadirkan bantuan, tetapi juga pengetahuan dan pendampingan. Warga memiliki kesempatan untuk mengembangkan usaha yang dapat memberikan manfaat jangka panjang. Kami berharap program ini terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak masyarakat,” ujarnya.
Keberhasilan pengembangan silase di Desa Tepian Terap menjadi bukti bahwa inovasi sederhana berbasis sumber daya lokal mampu memberikan dampak nyata. Selain meningkatkan kesejahteraan peternak, program ini juga mendorong praktik yang lebih ramah lingkungan melalui pemanfaatan limbah pertanian secara produktif.
Dari sebuah persoalan ketersediaan pakan ternak, lahirlah solusi inovatif yang membuka peluang baru bagi masyarakat desa. Langkah kecil yang dilakukan di Tepian Terap kini menjadi contoh bagaimana kolaborasi dan kreativitas dapat menghadirkan kemandirian ekonomi sekaligus mendukung pembangunan berkelanjutan