Tak Selalu Sehat, PERKI dan Daewoong Ungkap Risiko Kolesterol Tinggi Juga Mengintai Tubuh Langsing

Kamis 23-07-2026,23:38 WIB
Reporter : Syifa Lulu
Editor : Syifa Lulu

JAKARTA, DISWAY.ID - Memiliki tubuh langsing sering dianggap sebagai tanda kesehatan yang baik, bahkan jauh dari risiko kolesterol 

Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (PERKI) bersama PT Daewoong Pharmaceutical Indonesia mengingatkan bahwa orang dengan tubuh langsing atau berat badan normal tetap berisiko mengalami kolesterol tinggi hingga penyakit kardiovaskular.

Lewat sesi edukasi media di Jakarta, Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari PERKI, Dr. dr. Susetyo Atmojo, Sp.JP meluruskan anggapan keliru terkait tubuh langsing bebas dari kolesterol dan risiko penyakit jantung.

BACA JUGA:Kurus Bukan Berarti Bebas Kolesterol, Dokter Ingatkan Risiko Penyakit Jantung

Dalam pemaparannya, Dr. Susetyo menjelaskan bahwa kadar kolesterol jahat atau LDL-C dapat meningkat pada siapa saja tanpa memandang bentuk tubuh baik kurus maupun gemuk.

"Tubuh langsing tidak selalu berarti kadar kolesterol berada dalam kondisi sehat" jelas Dr. Susetyo di kawasan Jakarta, Kamis, 23 Juli 2026.

Seseorang yang memiliki indeks massa tubuh (BMI) normal, tetap berpotensi menyimpan lemak visceral dalam jumlah berlebih, terutama di sekitar organ tubuh.

Kondisi tersebut dapat dipicu oleh berbagai faktor, mulai dari pola makan, resistensi insulin, hingga faktor genetik.

Salah satu yang menjadi pusat perhatian dalam kasus, dislipidemia atau gangguan kadar lemak darah sering berkembang tanpa menimbulkan gejala sehingga banyak orang tidak menyadari risikonya.

BACA JUGA:Seseorang dengan Golongan Darah Ini Rentan Alami Kolesterol Tinggi, Kamu Termasuk?

Oleh karena itu, masyarakat diimbau tidak menjadikan penampilan fisik sebagai satu-satunya indikator kesehatan.

Pemeriksaan profil lipid melalui tes darah secara berkala dinilai menjadi langkah penting untuk mengetahui kadar kolesterol sekaligus mendeteksi risiko penyakit kardiovaskular sejak dini.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa seseorang dapat memiliki BMI normal tetapi mengalami obesitas pada berat badan, kondisi dapat terjadi ketika lemak visceral menumpuk di sekitar organ tubuh.

"Lemak visceral dapat memicu resistensi insulin sekaligus meningkatkan kadar kolesterol LDL dan trigliserida. Pemeriksaan darah menjadi satu-satunya cara yang akurat untuk mengetahui kadar LDL-C, sehingga pemeriksaan berkala sangat dianjurkan," jelasnya.

Ia menambahkan, pedoman terbaru merekomendasikan pasien dengan risiko kardiovaskular sangat tinggi untuk menurunkan kadar LDL-C hingga di bawah 55 mg/dL, sekaligus mencapai penurunan minimal 50 persen dari kadar awal.

Kategori :