JAKARTA, DISWAY.ID - Tren kulkas kekinian yang bisa melawan cuaca panas ekstrem mendorong Jepang melahirkan solusi tak biasa bagi para pekerja yang harus beraktivitas di tengah suhu tinggi.
Bukan sekadar mengandalkan kipas atau pendingin ruangan, kini muncul “kulkas manusia” yang memungkinkan pekerja masuk ke dalam sebuah bilik untuk mendinginkan tubuh dalam waktu singkat.
Harganya tak main-main, alat bernama Do Hiemon Box ini telah terjual lebih dari 300 unit sejak April dengan harga mencapai 1,5 juta yen atau sekitar Rp1 miliar per unit.
BACA JUGA:Haier Luncurkan Seri Kulkas Terbaru untuk Hidup yang Lebih Higienis
Distributor peralatan industri yang berbasis di Tokyo, Trusco Nakayama, mengatakan telah menjual lebih dari 300 unit Do Hiemon Box sejak April dilansir dari Channel News Asia.
Pelanggan alat tersebut antara lain berasal dari lokasi konstruksi, pabrik, dan gudang. Ke depan, penggunaannya juga akan diperluas ke lapangan golf, kata agen penjualan perusahaan, China Yamamoto.
Stadion baseball juga diperkirakan berpotensi menjadi pelanggan.
“Ukurannya besar, harganya mahal, dan ini bukan jenis produk yang cukup dijelaskan dengan kata-kata lalu pelanggan langsung berkata, ‘Oke, kami mau membelinya.’ Jadi, memang ada banyak ketidakpastian,” ujarnya kepada AFP.
BACA JUGA:Pabrik Kulkas Terbesar di Indonesia Resmi Dibuka, Buka Peluang Ribuan Lapangan Kerja
Sangat Panas dan Menyiksa
Para ilmuwan mengatakan perubahan iklim yang disebabkan aktivitas manusia meningkatkan frekuensi dan intensitas gelombang panas ekstrem di berbagai belahan dunia.
Pada 2025, Jepang mengalami musim panas terpanas yang pernah tercatat.
Tahun ini, badan meteorologi Jepang mulai menggunakan istilah baru, “kokushobi”, yang berarti “hari yang sangat panas dan menyiksa”, ketika suhu mencapai 40 derajat Celsius. Masyarakat pun diminta memperlakukan panas ekstrem layaknya bencana alam.
BACA JUGA:Kulkas Side by Side Lagi Tren, Harga Mulai Rp5 Jutaan dan Hemat Listrik
Di Tokyo saja, hampir 120 orang meninggal akibat cuaca panas dalam periode hingga pertengahan Agustus. Sementara itu, hampir 63.000 orang di seluruh Jepang membutuhkan penanganan darurat akibat panas ekstrem pada musim panas tahun ini.
Sejak tahun lalu, perusahaan-perusahaan di Jepang menghadapi persyaratan hukum yang lebih ketat untuk membantu pekerja yang harus bekerja di tengah suhu tinggi.