Emas Dunia Naik, ETF Emas Malah Turun, Ada Apa?

Kamis 03-09-2026,10:15 WIB
Oleh: Wawan Hendrayana–Direktur Infovesta

Probabilitas kenaikan suku bunga pada September melonjak dari 36% menjadi 64% dan harga emas spot turun ke US$ 4.431 per troy ounce pada 1 September.

Kelima ETF emas lahir persis ketika harga emas domestik berada di puncak preminya, sehingga potret tiga pekan pertama tampak kurang sedap dipandang.

BACA JUGA:Visitasi Monev KIP, Komisi Informasi Banten Nilai Inovasi Pemkot Tangsel Semakin Meningkat

Sebagai produk yang baru seumur jagung, likuiditas ETF emas pun masih tipis. Harga di pasar sekunder dapat berada di bawah NAB alias diskon, ditambah selisih harga beli jual yang masih lebar serta potensi tracking error. Seiring bertambahnya dana kelolaan dan makin aktifnya dealer partisipan melakukan arbitrase, selisih semacam ini lazimnya akan menyempit dengan sendirinya.

Lalu bagaimana investor menyikapinya? Untuk profil konservatif, jadikan ETF emas pelengkap portofolio dengan porsi 5% sampai 10% dan lakukan akumulasi bertahap tanpa terganggu fluktuasi mingguan.

Profil moderat dapat mengalokasikan 10% sampai 15% sambil memanfaatkan fase konsolidasi harga emas domestik saat ini sebagai area akumulasi.

Adapun profil agresif justru dapat mencermati momen ketika harga ETF berada di bawah NAB, sebab membeli emas dengan diskon adalah peluang yang jarang tersedia di toko emas mana pun.

Divergensi tiga pekan ini bukan berarti ETF emas tidak menguntungkan, melainkan proses penyesuaian harga yang wajar bagi instrumen yang baru lahir.

Dalam jangka panjang harga emas domestik, NAB, dan harga pasar ETF akan bergerak menyatu mengikuti arah emas dunia yang masih ditopang ketidakpastian global. Kehadiran ETF emas tetap patut disambut sebagai jalan diversifikasi yang murah, likuid, dan sesuai prinsip syariah. Happy Investing!


--

Kategori :