JAKARTA, DISWAY.ID-- Keluarga lima jurnalis yang belum diketahui keberadaannya setelah mengalami kondisi darurat di perairan Selat Sunda, Banten, mendapat pendampingan psikososial dari Polda Banten.
Pendampingan tersebut diberikan di tengah proses pencarian yang memasuki hari ketiga pada Kamis 10 September 2026.
BACA JUGA:Pecarian 5 Jurnalis Hilang di Anak Krakatau, TNI AL Temukan Pelampung di Perairan Anyer
Keluarga masih menunggu kepastian mengenai keberadaan anggota keluarga mereka yang hingga kini belum ditemukan.
Kondisi keluarga menjadi perhatian dalam proses pencarian jurnalis di Selat Sunda. Selain upaya pencarian di laut dan udara, dukungan psikologis diberikan untuk membantu keluarga menghadapi situasi yang penuh ketidakpastian.
Kapolda Banten Irjen Pol Hengki mengatakan pendampingan dilakukan melalui trauma healing dan dukungan psikososial selama operasi SAR berlangsung.
BACA JUGA:Prabowo Perintahkan TNI AL Optimalkan Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Selat Sunda
“Pendampingan ini dilakukan agar keluarga mendapatkan penguatan dan dapat lebih legowo dalam menghadapi kondisi yang terjadi. Saat ini, keluarga korban masih berada pada fase denial, sehingga pendampingan psikologis terus dilakukan selama proses operasi pencarian berlangsung,” kata Hengki.
Menurut Hengki, dukungan tersebut menjadi bagian dari penanganan selama operasi kemanusiaan berlangsung. Keluarga tetap mendapat pendampingan sembari tim gabungan melakukan pencarian di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.
“Di tengah penantian kabar, keluarga tetap mendapat pendampingan psikososial sembari tim gabungan melanjutkan pencarian di perairan sekitar Gunung Anak Krakatau.”
BACA JUGA:Pencarian 5 Jurnalis Masih Gelap, Penyisiran Diperluas hingga Radius 3 KM Anak Krakatau
Di tengah pendampingan terhadap keluarga, operasi SAR gabungan memasuki hari ketiga dengan cakupan pencarian yang diperluas.
Kepala Basarnas RI Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii bersama Gubernur Banten Andra Soni turut memantau pelaksanaan operasi. Pada hari ketiga, wilayah pencarian dikembangkan menjadi enam sektor dengan mengoptimalkan unsur laut dan udara.
Sebanyak 11 kapal dan lebih dari 300 personel dikerahkan dalam operasi pencarian. Unsur yang terlibat berasal dari Basarnas, TNI, Polri, pemerintah daerah serta potensi SAR lainnya.