Palung Langit

Selasa 22-09-2026,04:00 WIB
Oleh: Dahlan Iskan

Dalam satu minggu kemarin saya membaca dua ulasan buku baru, yang hanya bisa dibaca oleh orang-orang tertentu. Saya pun tidak mampu membacanya: ditulis dalam bahasa Arab dengan tulisan tanpa harakat. Hanya orang-orang yang ilmu nahwunya jagoan yang bisa melafalkan kalimat-kalimatnya dengan benar.

Penulisnya Anda sudah kenal: KH Miftachul Akhyar. Ia Rais Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) yang baru terpilih untuk periode kedua di Muktamar Tambak Beras, Jombang bulan lalu: jabatan tertinggi di organisasi Islam terbesar di dunia itu.

Judul buku itu: Al-Fatḥatu al-Rabbāniyyah ‘alā al-Muqaddimah al-Ājurrūmiyyah. Kurang lebih berarti ''Penjelasan aspek Ketuhanan dalam kitab Muqaddimah Jurumiyah''.

Nah, Anda sudah tahu apa itu kitab Jurumiyah. Semua santri pernah mempelajarinya: itu adalah buku dasar-dasar tata bahasa Arab. Penulisnya orang Maroko: Ibnu Ajjurum. Tapi jangan bayangkan seperti buku pelajaran tata bahasa. Formatnya kaidah-kaidah tata bahasa. Membacanya dilagukan: kataba-katabaa-katabuuu-katabat-katabata-katabna-katabta-katabtuma-katabtum ..... dan seterusnya. Satu kata ''kitab'' bisa berubah menjadi banyak kata bentukan.

Yang ditulis KH Miftachul Akhyar bukan buku tentang tata bahasa Arab. Yang ia tulis adalah ''sisi ketuhanan'' dari sebuah buku tata bahasa. Kalau sudah bicara sisi ketuhanan berarti sama dengan membahas ''aspek tasawuf dari buku nahwu Jurumiyah''. Mungkin satu-satunya: buku tata bahasa mengandung aspek ketuhanan.

Terbitnya buku ini tentu mengingatkan apa yang terjadi di Muktamar ke-35 NU. Utamanya setelah Rais Aam memberi sambutan pembukaan. Dalam sekejap saja video anak perempuan yang mengaku masih SD itu viral. Isinya: mengoreksi tata bahasa Arab yang digunakan oleh Rais Aam dalam pidatonya. Menurut anak itu setidaknya ada lima kesalahan tata bahasa dalam pidato itu. Berani sekali anak itu. Kok hebat: merasa lebih pandai dari Rais Aam PBNU.

"Apakah itu hoak? Video palsu? Buatan AI?" tanya saya kepada seorang alumni Timur Tengah yang juga angkatan muda NU.

"Memang terjadi kesalahan tata bahasa dalam pidato itu," jawabnya. "Tapi kan biasa orang salah menggunakan tata bahasa. Termasuk orang Arab sendiri," tambahnya. "Tokoh Indonesia pun banyak yang salah tata bahasa ketika berpidato dalam bahasa Indonesia," katanya lagi.

Salah satu tokoh yang mengulas buku karya Kiai Miftachul Akhyar itu adalah KH Zulfa Mustofa. Anda sudah kenal dirinya: pernah dipuji sekaligus dihujat dalam kaitan dengan konflik besar di PBNU: mengapa Kiai Zulfa bersedia menjadi Pj Ketua Umum Tanfidiyah PBNU menggantikan Gus Yahya yang dipecat oleh Rais Aam Miftachul Akhyar.

Kiai Zulfa menulis ulasan panjang tentang buku itu. Ia mendapatkan bukunya karena pernah dibagi di kantor PBNU. Di tulisan itu Kiai Zulfa menceritakan pengalamannya ketika bersama Kiai Miftachul Akhyar pergi keliling beberapa negara termasuk Turkiye.

Di Turkiye rombongan PBNU diterima oleh ulama besar di sana: seorang mufti yang juga menjabat menteri agama.

Dalam pertemuan itu Kiai Miftah lebih banyak diam. Kiai Zulfa pun menjelaskan ke tuan rumah bahwa karakter Kiai Miftah memang pendiam. Jawaban mufti Turkiye ternyata sangat diplomatis: "Sesungguhnya beliau banyak berbicara dengan keadaannya, bukan dengan lisannya".

Itu, kata Kiai Zulfa, sangat tepat untuk menggambarkan sosok Kiai Miftah. "Itu juga tercermin di dalam buku karya beliau," ujar Kiai Zulfa.

Misalnya, di buku itu ditulis: "Orang punya kewajiban memperbaiki hati setelah memperbaiki lisan," dan juga "memperbaiki lisan tanpa memperbaiki hati adalah kefasikan dan kesesatan. Memperbaiki hati tanpa memperbaiki lisan adalah kesempurnaan yang belum sempurna. Sedangkan memperbaiki keduanya sekaligus adalah puncak kesempurnaan”.

Apakah buku yang ditulis Kiai Miftah itu tergolong baru? Ternyata tidak. Sudah banyak buku serupa terbit di banyak negara Islam.

Kiai Zulfa sendiri sudah menulis empat buku. Semuanya tentang ushul fikih. Padahal kiai Zulfa ''hanya'' tamatan Aliyah (SMA). Kemampuan bahasa Arabnya luar biasa. Sampai ia mendapat gelar doktor honoris causa dari Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya. Yakni doktor dalam sastra Arab. Itu tentu istimewa: Kiai Zulfa tidak pernah sekolah di negara Arab. Aliyahnya ia selesaikan di Pati, satu kelas dengan Gus Rozin yang juga terpilih sebagai Rais Syuriah PBNU.

"Kelemahan buku karya ulama-ulama Indonesia adalah kurang memasukkan konteks Indonesia," ujar Kiai Zulfa yang ceramah-ceramahnya sangat sejuk –lebih banyak mengungkap sisi persamaan NU dan Muhammadiyah dari pada sisi perbedaannya.

Satu tokoh lagi yang mengulas buku itu adalah KH Imam Jazuli, pendiri pondok pesantren Bina Insan Mulia (BIMA) Cirebon. Kiai Jazuli alumnus Mesir.

"Bagi kaum awam, ilmu nahwu hanyalah sekadar ornamen tata bahasa. Ia sekadar aturan agar lisan fasih mengeja bait-bait Arab. Namun, di bawah guratan pena Kiai Miftach, Nahwu menjelma menjadi suluk. Beliau menegaskan bahwa kefasihan lisan wajib bersanding dengan kefasihan tindakan (hlm.3-5). Pandangan sufistik ini menampar wajah buram panggung politik nasional kita. Para pemimpin kita hari ini terlalu gemar bersilat lidah. Mereka kerap terjebak dalam labirin retorika kosong tanpa makna", tulisnya.

"Kiai Miftach kemudian membedah trilogi kata dengan pisau bedah tasawuf. Beliau mengulas unsur 'isim', 'fi'il', dan 'huruf' dalam tata bahasa ke ruang publik. Isim dimaknai sebagai ketulusan orientasi menghamba kepada Tuhan Yang Maha Esa (hlm.28). Madzhab ini mewajibkan pengelolaan bumi demi tegaknya keadilan sosial yang merata. Berkah nikel dan tembaga bukanlah hak milik privat para oligarki. Hasil bumi harus dialirkan murni untuk membasuh dahaga kemiskinan rakyat".

"Sementara Fi'il ditafsirkan sebagai jihad membersihkan batin dari kekotoran (hlm.29). Dalam urusan bernegara, ini adalah gerakan pembersihan birokrasi secara radikal. Indonesia mustahil memeluk predikat negara maju jika penyakit korupsi mewabah. Tobat nasuha para pengambil kebijakan menjadi syarat mutlak kebangkitan bangsa. Ikhtiar ekonomi hijau hanya tegak jika ketamakan manusia berhasil diredam. Tanpa moralitas, regulasi secanggih apa pun hanyalah bangkai tanpa nyawa.

Sedangkan Huruf digambarkan sebagai ufuk cita-cita tinggi yang wajib diperjuangkan (hlm.30). Menjadi bangsa digdaya adalah mimpi kolektif yang menuntut tebusan pengorbanan. Demi menjemput asa itu, Kiai Miftach merajut filosofi huruf-huruf Jarr (hlm.44-47). Rangkaian huruf jarr ini adalah cermin dinamis perjalanan spiritualitas bangsa. Tiap jengkal fase pembangunan menyimpan ujian dan keunikan batin tersendiri. Kita mesti mengarungi tiap anak tangga itu dengan zikir kesadaran".

Itulah kelebihan bahasa Arab. Bahasa sekaligus keyakinan.

Di Tarim, Yaman, saya kali pertama melihat buku yang bisa dibaca dari kiri, dari kanan, dari atas, dari bawah yang masing-masing menjadi sebuah buku yang berbeda topiknya.

Rasanya hanya bahasa Arab yang bisa dibuat begitu. Atau, karena bahasa Arab terkait dengan keyakinan, maka orang-orang yang mendalami bahasa Arab bisa sangat dalam.

Kalau dalam penguasaan bahasa Mandarin ada istilah ''di atas langit masih ada langit'', dalam bahasa Arab harusnya ada pepatah ''di kedalaman palung masih ada palung yang lebih dalam''.

Entahlah di mana posisi Bahasa Inggris dan Indonesia. (Dahlan Iskan)

Komentar Pilihan Dahlan Iskan Edisi 21 September 2026: Mister HH

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Harapan saya terhadap CHDI, apapun yang ada "di kepala Pak Dahlan Iskan" itu harus diaplikasikan menjadi "pesan Disway", bukan hanya "pesan CHDI" atau "pesan Dismorning". Sebagai contoh, kabar soal Haji Isam membeli saham PT Bayan. Pak DI sudah menulis di bulan Agustus lalu. Kenapa itu tak menjadi berita di Disway secara besar-besaran? Sekarang, media lain baru ada yang memberitakan. Orang bisa menjadi sangat percaya terhadap Disway jika saat itu Disway sudsh gencar memberitakan dan sekarang terbukti itu benar.

Edi Sampana

Harian Disway hari ini juga menulis upaya pemerintah menanam banyak tebu utk membuat BBM dari etanol ? Padahal kita masih impor gula? Kok pemerintah sedang giat giatnya membuat BBM dari tumbuhan: biosolar (solar yg dibuat dari sawit), bioetanol (bensin yg dibuat dari etanol). Pak Soleman ponto bilang bahwa mobil Pajeronya tdk bisa menanjak kalau memakai solar B30, apalagi kalau B50. Katanya kapal induk Giribaldi itu harus memakai BBM spesifikasi khusus, kalau memakai biosolar mungkin filter mesin harus sering diganti atau mesinnya tdk menyala ?

Bahtiar HS

Kalau soal mabuk, sekarang ini tidak ada yg mengalahkan mabuk yg lagi trendy: mabuk kekuasaan. Gak ada duanya. Dikritik nggak mau dengar, yg ngritik dikata antek asing, ada yg dikatain gobl*g. Apa gak merasa rakyat sak Nusantara ngrasani di mana-mana: piye to karepe? Saya pernah naik bus dari Cengkareng ke Cilegon. Sang sopir ngrasani sulitnya dia sekeluarga sekarang sejak anak sekolah dikasih makan gratis. Sepanjang perjalanan. Ngrasaninya sama penumpang di sebelahnya, tp suaranya terdengar sampai saya yg duduk di belakang. Sak bis krungu kabeh. Lha apa nggak malu2in bangsa ini jadinya? Kan penumpangbya tdk hanya warga negara Konoha? Ayo Bapak yg duduk di sana: sadarlah! Apa nggak pengin husnul khatimah. Denger dikit suara orang banyak.

DeniK

Listrik Bicara . Ngomong ngomong masalah listrik dan jaringan . Jadi teringat ke masa saat kuli di perusahaan asing nasional tukang keruk nikel terbesar dan tertua di sulawesi selatan . Smelter nikel yang sangat boros listrik untuk supply listrik perusahaan membuat bendungan sendiri , sampai ada tiga buah .listrik melimpah ruah semua kebutuhan listrik untuk smelter dan perumahan termasuk rumah warga sekitar di supply gratis tis tis .pada tahun 2000 an PLN masuk semua rumah yang ada di desa harus pasang meteran dan harus membayar layaknya konsumen PLN lain nya . Saya jadi bertanya tanya waktu itu , listrik produksi sendiri , jaringan sendiri ,instalasi sendiri .lok datang PLN pasang meteran malah jadi berbayar ?.

Nimas Mumtazah

Negara itu bisa maju ternyata punya syarat, pemerintahnya punya logika sama dengan akal sehat rakyatnya. GONTOR, lewat KH. Hasan Abdullah Sahal. Memberi pesan sederhana tapi cukup menohok. Jabatan bisa berkuasa, tapi pendidikan yang membentuk masa depan. Gontor memilih pendidikan, karena mencerdaskan manusia jauh lebih penting di banding membesarkan kekuasaan.

Agus Suryonegoro III - 阿古斯·苏约诺

AKAL SEHAT JUGA HARUS MASUK KOTAK SUARA.. "Negara itu untuk bisa maju ternyata punya syarat: pemerintahnya punya logika yang sama dengan akal sehat rakyatnya." Kalimat Pak Dahlan ini rasanya perlu dibawa sampai ke bilik suara. ### Karena itu, pada pemilu yang akan datang pilihlah pemimpin dan anggota parlemen yang: 1) Mampu berpikir dengan data. 2) Mau mendengar. 3) Terbuka terhadap kritik. 4) Mengutamakan kepentingan jangka panjang. 5) Dan berani mengoreksi kebijakan sendiri kalau ternyata tidak efektif. 6) Pilih yang memahami bahwa anggaran negara adalah uang rakyat. 7) Bahwa regulasi dibuat untuk memudahkan kehidupan, bukan memperpanjang urusan. 8) Bahwa teknologi harus dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas. 10) Dan bahwa kebijakan yang baik harus bisa diuji hasilnya. ### Tidak perlu mencari manusia yang sempurna. Karena memang tidak ada. Yang penting adalah pemimpin yang mau belajar, bekerja berdasarkan bukti, dan menggunakan akal sehat. Sebab rakyat sebenarnya sederhana. Kalau jalan memang perlu diperbaiki, ya diperbaiki. Kalau listrik bisa dibuat lebih murah, ya diusahakan. Akal sehat rakyat jangan sampai lebih maju daripada akal sehat pemerintahnya.

riansyah harun

Ternyata sakit hati itu, ada aura positifnya. Dan rata rata pengusaha sukses yang berlatar belakang hati yang sakit itu, selalu berhasil. Uppsss, hanya ada satu orang yang patah semangat, karena "terhambat" oleh sesuatu dimana beliau tinggal. Tempat itu tidak menghendaki orang sakit hati untuk berhasil. Padahal ide tersebut bukan lagi khayalan, sudah mulai berwujud, walaupun masih harus membuat beliau hampir mati, karena percobaannya. Keberhasilan dan kecerahan itu sudah ada di depan mata. Akhirnya..., beliau kecewa dan "sakit hati". Namun kekecewaan beliau tetap di realisasikan, ia mem beli mobil listrik sendiri. Tesla.

mario handoko

selamat pagi bp thamrin. senang guruku bpk thamrin mulai aktif berkomentar. tidak perlu caci maki di ruang digital/ nanti algoritma kan makin binal/ bertukar komentar tuk merawat akal/ agar hoaks yg beredar tidak terjual/

heru pujihastono

Kata- kata " rakyat" 1. Tentara Keamanan rakyat. 2. Amanat penderitaan rakyat. 3. Suara Tuhan Suara Rakyat. 4. Rakyat Kecil. 5. Merakyat. 6. Dewan Perwakilan Rakyat. 7. Pertahanan Rakyat Semesta. 8. Kamra. 9. Rakyat kebanyakan. 10. Raskin Mesakke rakyat, cuma dpt sekali serangan fajar. Selanjutnya diserang berkali2

riansyah harun

Beruntung sekali Pak Dahlan bisa bertemu dengan seseorang yang punya visi masa depan gemilang. Bukan orang Indonesia, tapi beliau rasanya lebih Indonesia. Saya yakin, perusuh pasti setuju, sekian tahun mendatang, di Indonesia akan bermunculan orang orang seperti mister HH. Asalkan diberi peluang. Apalagi saat ini Gizi mereka sudah mulai terpenuhi dengan MBG. Tetap semangat. Apalagi dari sekian banyak penduduk, pasti akan ada yang bisa menyamai atau melampaui Mr HH. Asalkan....., jangan keras keras membacanya, kalau MBG nya itu bisa dipertahankan puluhan tahun, saat generasi itu sudah tumbuh menjadi sesuatu.

Muh Nursalim

Bab Al Mandeb ditutup Houti, Selat Hormus ditutup Iran. Ndak pa pa. Bikin masyarakat lebih cerdas. Cari alternatif energi yang tidak tergantung dengan minyak. Sering kali jalan keluar itu muncul saat kepepet. Maka teruslah merasa kepepet. Untuk melentingkan energi yang belum pernah terpikirkan.

Jokosp Sp

"Negara untuk bisa maju itu pemerintahnya harus punya logika yang sama dengan akal sehat rakyatnya". Ini jauh lebih pas kalau jadi begini "Pemimpin untuk menjadikan negara dan pemerintahannya maju, maka harus punya logika yang sama dengan akal sehat rakyatnya". Kenapa?. Ya kalau pemimpinnya sering tidak pakai akal sehat dan pakai logika bagaimana jalannya pemerintahan ini tidak kacau. Lebih memikirkan keberlangsungan kekuasaannya daripada memikirkan kesejahteraan ke rakyatnya. Dari ucapannya saja sudah tidak beretika dan tidak pantas diucapkan ke rakyatnya, masak sih yang begini harus diucapkan : "Yang pinternya jadi goblok, Bajingan, Ndasmu, Tolol, Emang gue pikirin & Nyenyenye".

Toto Mubasir

Mengingat Indonesia adalah negara Pertanian & Perkebunan, maka "berkebun" Solar Cell bisa menjadi alternatif pintu ekonomi baru bagi masyarakat Indonesia dengan cara menjualnya ke orang lain / ke bisnis lain melalui transmisi Listrik antar wilayah. Bayangkan, sebuah daerah yang panas, tandus dan gersang, bisa "berkebun dan memanen" listrik melalui panel pengumpul sinar matahari dan "menjualnya ( baca; juga meng-ijon kan nya) ke "tengkulak" pengepul energi listrik di pusat kecamatan/ kota yang lalu mengalirkan dan menjualnya ke daerah lain yang listriknya byar pet melulu. Para "pekebun listrik" ini juga bisa memodifikasi bahan dasar listriknya menjadi "komoditas" lain yang lebih beragam dan punya margin lebih tebal, seperti buat mendirikan charger mobil/motor listrik di tiap RT RW, mendirikan mini gardu listrik sendiri dan juga menyediakan berbagai mesin bertenaga matahari lainnya. Hal ini juga akan bisa membuat Listrik yang selama ini dipegang PLN bisa dibuka dan membuat layanan PLN lebih bersih dari pungli di lapangan dan lebih bersaing lagi, karena tidak lagi bisa main putus sepihak atas sambungan listrik masyarakat.

imau compo

Saya pikir Indonesia harus membangun industri solar cell, bukan menggalakkan pemakaian solar cell sebagaimana kecenderungan saat ini. Kita punya banyak pasir kuarsa yg akan menurunkan biaya produksi solar cell sebaliknya kelembaban atau hal-hal yg terkait dengan iklim tropis menyebabkan efisiensi solar cell di Indonesia lebih rendah sehingga membutuhkan area yang lebih luas utk pembangkit listrik solar cell. Area yang seluas itu lebih produktif utk dipakai oleh industri jenis lainnya. Secara umum, energi terbarukan masih jauh lebih mahal dibandingkan dengan batu bara, minyak dan ga. Pakai saja sumber energi tadi dengan bijak melalui perhitungan yang cermat, misalnya moratorium PLTU di Cilegon dan sekitar Jakarta.

riansyah harun

Cap Tikus adalah minuman yang tidak bisa sembarangan di konsumsi, apalagi oleh paham tertentu. Namun Manado sungguh jeli. Parawisatanya membludak, dan mereka menyediakan minuman berkelas produk lokal yang berkualitas. Semua sudah pada tahu, para pelancong itu lebih banyak yang suka minuman mengandung alkohol, dan Manado menyediakannya. Apalagi dengan slogannya yang keren itu, Torang Samua Basudara (kami semua bersaudara), maka jangan lewatkan kesempatan jika ingin ber wisata di Indonesia. Pilihan yang tidak bisa dilewatkan, Manado. Dan ada satu pasar di dekat kota Manado yang spektakuler, yang tanpa disadari menjadi pasar wisata. Mau tahu, datanglah kesana.

Jokosp Sp

Keluarnya Permen ESDM No.2 Tahun 2024 tentang skema jual beli listrik telah resmi dihapus. PLTS hanya digunakan untuk konsumsi sendiri. Munculnya kasus pemutusan aliran listrik sepihak akibat masyarakat memasang PLTS On Grid (paralel dengan PLN). Adanya pembatasan kapasitas izin pasang (zero export). Sebelum aturan 2024 diperketat AESI (Asosiasi Energi Surya Indonesia) sudah protes keras tentang kebijakan PLN yang mempersulit masyarakat. Masyarakat tidak boleh mengalirkan kelebihan listrik ke luar rumah. Hal lainnya adalah dihilangkannya insentif ekonomi akibat penghapusan export listrik. Rakyat yang telah memasang PLTS dan menghasilkan listrik yang kelebihan di siang hari saat terik matahari melimpah justru tidak bisa dimanfaatkan. Ini bisa disebut investasi yang tidak bisa dioptimalkan. Return on invesment menjadi jauh lebih lama. Carut marut di kerajaan singosari sudah sangat parahnya. Bilang kelebihan listrik namun masih terjadi byar pet beberapa bulan lalu karena kerusakan PLTU dari sumber energinya batu bara. Korupsi yang tidak diusut secara tuntas inilah penyakit lama yang tidak ada usaha untuk disembuhkan. Amssiong.

Kujang Amburadul

Saya rada percaya sih, kalau serius dan ada niat baik, Lillahi Ta'ala dari pemerintah, rakyat juga akan nurut. Lha apa selama ini ada rakyat yang membangkang? Itu pan karena pemerintah saja yang gak "becus dan serius". Lha.... apa omon-omon saya salah ya? Rasanya menyalahkan pemerintah terus. Tapi. Percayalah..., Gus Dur gak akan perlu lagi bilang, "Gitu aja kok repot." == Rasanya-rasanya jangan-jangan yang sampah itu adalah pemerintah sendiri ya? (Maaf) == Contoh pengelolaan sampah di RT https://www.youtube.com/watch?v=7st0TbLZUjA Ini website mereka https://rt08rw04malakajaya.com/ Catatan : Link yang disertakan ini kalau saja Disway/CHDI sudah ada aplikasinya, mungkin tinggal klik saja, sudah bisa ditonton atau dibaca.

Kujang Amburadul

Kalau saja presiden pintar, pemerintah pandai, pemimpin cerdas. Tinggal bilang : seluruh RT di Indonesia harus ikuti seperti RT contoh yang di Jaktim ini. Tidak usahlah seluruh RT dulu, kebanyakan. Seluruh kelurahan/desa saja sudah berapa ribu.. Rasanya minimal 50% persoalan sampah seluruh Indonesia sudah terselesaikan. TPA sudah bisa bernafas. Gak perlu gembar-gembor soal PLTS yang belum jelas juntrungannya tetapi sudah jelas akan menghabiskan anggaran yang tidak akan sedikit, dan mungkin ada ko*up** disitu?. Yang paling utama sebenarnya sampah organik atau sampah basah, ini jelas setiap pagi terproduksi entah seberapa banyak. Dan warga hanya diminta untuk "ayo pilah", yang yang selanjutnya masih menyisakan pertanyaan. Setelah dipilah mau diapakan? Dan sampah itu bukan hanya sampah plastik berbentuk botol bekas minuman kemasan (seperti pada iklan TV) Kita berharap semua orang mau bergerak? . Ya tidak semudah itu. Jangan harap semua bisa langsung jalan. Ini beda jauh permikirannya dibandingkan MBG, KDKMP, dimana pemerintah menganggap semuanya bisa "sim salabim"? Mulai saja : Pemda bergerak, RW mengkordinir, Kades/Lurah mendukung/memfasilitasi, Camat mengawasi. Walikota, Bupati, Gubernur menambah peralatan, Perusahaan memberikan CSR-nya, Kementerian menyempurnakan untuk tingkat nasional.

Hasyim Muhammad Abdul Haq

Nama lengkap saya itu Hasyim Muhammad Abdul Haq. Karena kepanjangan, saya ambil 2 kata pertama untuk media sosial saya: Hasyim Muhammad. Namun, kalau mengisi formulir di internet, saya menulis nama belakang saya adalah: Haq. Jadi sering juga nama saya menjadi Hasyim Haq. Sekarang... Anda juga boleh panggil saya Double H.

Johannes Kitono

Jendral Tikus. Beta bingung kenapa Tikus bisa jadi merk Arak. Apakah ownernya dapat ilustrasi ketika melihat. Ada bayi Tikus yang dimakan hidup hidup bersama arak ( ciu ). Itu obat kuat katanya dan konon juga sering dikonsumsi oleh P Sunan dari Surakarta. Beliau hobby main bowling di Ancol, Jakarta.Binatang Tikus selalu diasosiasikan dengan koruptor. Dulu di Thailand ada Jendral Kriangsak Chamanan yang terkenal. Pernah menjabat PM di tahun ( 1977 - 1980 ) setelah melakukan Kudeta. Ketika petani menghadapi wabah Tikus di sawah. Jendral ini membuat Sayembara Penangkapan Tikus. Setiap ekor Tikus dihargai 1 Baht. Petani tinggal stor ikatan ekor tikus dan dapat Baht. Dalam waktu singkat hama Tikus habis diberantas. Tentu Tikus sawah bukan Tikus di APH dan ASN. Jendral Kriangsak juga populer disebut Jendral Tikus. Siapa tahu nanti di Republik Konoha juga ada Jendral MBG yang terkenal omon omon saja. Double H ternyata bukan monopoli Heston Harper. Ada hopeng dengan nama Hendro Henk juga dipanggil HH. Mungkin sekedar peringatan bagi ybs. Supaya lebih HH ( hati hati ) kalau ngebut dan nyalib 170 km di jalan Toll. Kalau lengah sedikit saja nyawa taruhannya. Semoga Semuanya Hidup Berbahagia.

Liam Then

@Bang Heru, di pedesaan Kalbar yang tak terjangkau oleh pasokan listrik PLN banyak yang sudah adopsi solar panel. Tapi cuma cukup untuk pemakaian umum seperti penerangan di malam hari, atau untuk nyalakan satu televisi di siang hari. Itupun katanya masih banyak yang pakai aki untuk moda penyimpanan. Saya kepikiran, orang desa itu tidak semuanya tidak ada uang, banyak mereka yang punya kebun sawit luas. Mereka yang berkondisi seperti ini di sentra-sentra perkebunan sawit di pelosok jumlahnya cukup banyak. Kabar tentang mereka tenteng duit cash segepok langsung ke dealer beli mobil pickup 4x4 sudah biasa terdengar. Saya tak tahu bagaimana produk baterai untuk panel surya sekarang yang untuk dipasang di perumahan, apakah sudah mengadopsi teknologi LFP yang lebih murah daripada NMC ? Kalau misalnya ada bisa dipesan di Tiongkok, minta dispek untuk kebutuhan 3000w-10.000w , dikombinasi dengan solar panel untuk pasokan yang sesuai. Itu apakah bisa dijual di pedesaan pedalaman kita yang belum terjangkau listrik ya? Memang bukan untuk semua orang, tapi orangnya jelas ada. Belum lagi camp- camp sawit. jangan-jangan sudah ada yang kerja Bang? Di internet saya lihat banyak sekali yang sudah menawarkan paket-paket pemasangan, tapi entah apakah sudah banyak yang jemput bola ke lapangan ,ke pedesaan yang seperti saya sebutkan di atas itu. Orang di desa juga ada yang banyak duit.

heru santoso

Sejak 2017 saya memasang dua keping solar cell, masing-masing 50 Wp, di rumah. Baterainya sudah tiga atau empat kali ganti. Soal biaya dibanding token PLN? Tidak pernah saya hitung. Saya memasangnya hanya karena senang. Beda dengan proyek di perusahaan. Semua harus dihitung njlimet: investasi, penghematan, dan berapa tahun BEP. Beberapa tahun lalu saya mendapat tugas menginisiasi proyek solar cell di atap gedung produksi. Proposal direvisi sembilan kali, dengan sembilan vendor berbeda. Berbagai skenario harga listrik PLN juga dimasukkan. Hasilnya selalu sama: secara hitungan tidak visible. BEP di atas sembilan tahun. Sembilan kali meeting, gagal sembilan kali juga. Pada meeting kesepuluh, Pak Direktur memberi arahan sederhana: “Pakai budget pocket money saya. Segera laksanakan.” Selesai. Tidak perlu lagi menghitung BEP. Beberapa bulan kemudian, proyek diresmikan. Pemangku kepentingan diundang, lalu konferensi pers. Besoknya, muncul headline di beberapa koran: perusahaan mendukung green energy dengan mengoperasikan solar cell. Saya pun menyadari: kadang value sebuah proyek bukan hanya penghematan listrik. Ada image, reputasi, dan positioning perusahaan yang nilainya tidak mudah dimasukkan ke spreadsheet. Maka, kalau ditanya kenapa saya tidak pernah menghitung-hitung MBG ataupun KDMP? Anda sudah tahu.

Tags :
Kategori :

Terkait