Belanja Negara Capai 69,2 Persen dari Target APBN, Defisit Tembus Rp319 Triliun

Jumat 09-10-2026,20:58 WIB
Reporter : Anisha Aprilia
Editor : M. Ichsan

JAKARTA, DISWAY.ID-- Realisasi belanja negara hingga September 2026 mencapai Rp2.660,5 triliun atau 69,2 persen dari pagu Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Angka tersebut tumbuh 19 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Pemerintah menilai percepatan belanja negara tetap berada dalam kondisi sehat dan sesuai dengan desain APBN yang sejak awal direncanakan mengalami defisit.

BACA JUGA:Wuling Tampilkan Personalisasi Darion, Eksion, dan Aira ev di IMX 2026

“Belanja negara meningkat 19 persen, telah keluar Rp2.660,5 triliun, sekitar 69 persen dari target APBN. Tiga perempat tahun telah direalisasikan 69,2 persen,” kata Menteri Keuangan (Menkeu) Suahasil Nazara dalam konferensi pers APBN Kita edisi Oktober 2026 di Jakarta, Jumat, 9 Oktober 2026.

Hingga September 2026, pendapatan negara mencapai Rp2.341,5 triliun atau 74,2 persen dari target APBN, tumbuh 25,5 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. 

Dengan belanja negara mencapai Rp2.660,5 triliun, negara mengalami defisit APBN sebesar 1,2 persen dari produk domestik bruto (PDB).

BACA JUGA:Kemenekraf Hadir di All Print Indonesia Expo 2026, Dorong Karya Fotografi Jadi Produk Kreatif

Suahasil menegaskan bahwa defisit APBN bukan sekadar kondisi ketika belanja negara lebih besar daripada pendapatan, melainkan bagian dari perencanaan anggaran yang sejak awal memang dirancang mengalami defisit.

Ia juga menilai percepatan realisasi belanja negara hingga September 2026 masih sesuai dengan perencanaan APBN.

“Ini sehat. On track karena biasanya memang kalau tahun lalu, per 30 September baru belanja 61,7 persen. Tahun ini kita sudah belanja 69,2 persen, kita ada percepatan belanja,” kata Suahasil.

Menurut Suahasil, percepatan belanja tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah agar realisasi belanja negara tidak terlalu terkonsentrasi pada akhir tahun. 

Dengan realisasi yang lebih merata, manfaat belanja pemerintah diharapkan dapat dirasakan masyarakat secara maksimal.

BACA JUGA:Pajak Terkumpul Rp1.607 Triliun di Semester II 2026, Pendapatan Negara Tumbuh 25,5 Persen

“Ada percepatan belanja. Dan ini sehat karena kita memang tidak menginginkan belanja negara itu terlalu terkumpul di bulan Desember. Kalau bisa dia lebih smooth,” ujarnya.

“Kenapa? Karena kita ingin belanja saat ini supaya manfaat bagi masyarakat itu benar-benar maksimal dari hari ke hari,” imbuh Suahasil.

Kategori :