Hal ini membuat perubahan ekspektasi suku bunga memiliki pengaruh terhadap daya tarik emas dibandingkan aset berbunga seperti obligasi.
Ketika suku bunga atau yield obligasi meningkat, investor dapat memperoleh imbal hasil lebih tinggi dari instrumen berbunga. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi daya tarik emas.
Sebaliknya, ketika pasar memperkirakan suku bunga akan turun, emas dapat menjadi lebih menarik.
Pelaku pasar biasanya memperhatikan:
- keputusan suku bunga The Fed;
- pernyataan pejabat bank sentral;
- proyeksi kebijakan moneter;
- pergerakan US Treasury yield.
Perubahan ekspektasi terhadap kebijakan The Fed sering kali langsung tercermin dalam pergerakan emas.
Inflasi Bisa Menjadi Penggerak
Emas sering dianggap sebagai salah satu aset yang digunakan untuk menghadapi risiko penurunan daya beli.
Karena itu, data inflasi menjadi salah satu indikator ekonomi yang banyak diperhatikan.
Namun, hubungan antara inflasi dan emas tidak selalu sederhana.
Inflasi yang tinggi dapat mendukung permintaan emas, tetapi jika kondisi tersebut mendorong bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, yield obligasi dan dolar dapat ikut menguat.
Akibatnya, tekanan terhadap emas juga dapat muncul.
Karena itu, data inflasi perlu dibaca bersama ekspektasi kebijakan moneter.
Jangan Abaikan Geopolitik
Ketidakpastian geopolitik dapat meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap relatif defensif.
Konflik, ketegangan antarnegara atau risiko terhadap perekonomian global dapat membuat pelaku pasar meningkatkan eksposur terhadap emas.
Meski demikian, sentimen geopolitik dapat berubah cepat.
Harga yang naik tajam karena ketidakpastian juga dapat terkoreksi ketika risiko dinilai mereda.
Karena itu, trader perlu berhati-hati ketika volatilitas meningkat akibat berita geopolitik.