Jangan Habiskan Lauknya

Kamis 22-10-2026,09:14 WIB
Oleh: Mashudi

BACA JUGA:Darah Muda, Darah Viral

Dari kobong, santri belajar memperhatikan orang di sekelilingnya. Dalam sejarah bangsa, kepedulian itu menjangkau urusan yang lebih besar: tanah air yang harus dipertahankan bersama.

Hari Santri mengingatkan kita pada Resolusi Jihad 22 Oktober 1945, dengan peran penting KH Hasyim Asy’ari, yang menyerukan pembelaan terhadap tanah air dan kemerdekaan Indonesia.

Seruan itu ikut mengobarkan perlawanan rakyat dalam perjuangan di Surabaya. Pengabdian ulama dan santri menjadi bagian dari perjalanan negeri ini.

Mengingat pengabdian itu, saya kembali terbayang kobong-kobong sederhana.

BACA JUGA:Putusan MK soal Gibran: Sudah Dimasak, Sudah Dihidangkan, tetapi Tak Dimakan

Kepada anak-anak yang belajar mengurus diri jauh dari orangtua. Mencuci pakaian, menjaga barang, mengatur bekal, serta menyesuaikan diri dengan teman yang kebiasaannya berbeda.

Pada sejumlah pondok yang saya kunjungi, selepas diantarkan dan diserahkan kepada kiai, anak menjalani kesehariannya bersama penghuni pondok. Ketika orangtua datang, biasanya ada tambahan stok beras atau lauk. K

edatangan orangtua seorang santri pun menjadi kabar gembira bagi yang lain.

Ada yang bertahan sampai selesai. Ada pula yang pulang lebih awal. Rindu rumah dan kesulitan menyesuaikan diri bisa terasa sangat berat bagi seorang anak.

Apa kehidupan kobong seserius itu?

BACA JUGA:Gibran, He Is Still the Man

Tentu tidak. Ada sandal jepit yang mendadak berpindah kaki. Ada yang pasangannya kiri semua. Atau kanan semua. Peci yang lebih sering terlihat di kepala teman. Sarung yang sudah lebih dahulu dipakai teman.

Sabun yang terus menipis meskipun pemiliknya merasa jarang mandi. Urusan kecil yang bisa menjadi bahan tertawa bertahun-tahun, bahkan setelah bangunan kobongnya berganti.

Dari tempat sederhana itu, banyak orang membawa bekal hidup yang panjang. Sabar menunggu, berani mengurus diri, dan belajar membaca kebutuhan orang lain.

Kita yang sudah dewasa pun masih membutuhkan pelajaran tersebut. Apalagi ketika kesempatan terbuka dan bagian yang bisa diambil tampak begitu banyak. Tangan mudah bergerak lebih cepat daripada ingatan kepada orang lain.

Tags :
Kategori :

Terkait